Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2012

Hafalan Shalat Delisa


Hafalan Shalat Delisa



Awalnya saya sering menganggap remeh novel-novel bernafaskan Islam yang beredar di hampir di setiap sudut toko buku sekarang. Ceritanya tidak berbobot dan hanya meneruskan latah kesuksesan Ayat-Ayat Cinta karya Habiburahman El-Shirazy.

Tapi kemudian, saya mulai membaca novel sejenis dari penulis yang berbeda-beda kemudian berubah pikiran.

Salah satunya adalah Hafalan Shalat Delisa yang ditulis oleh Tere-Liye tahun 2005 ini. Ceritanya benar-benar menggugah kalbu walaupun ditulis dengan kalimat yang sangat sederhana dan tidak melulu berisi ayat-ayat Al-Qur'an. Hanya saja, di novel setebal 248 halaman ini, saya berkali-kali membaca nama Allah yang membuat hati saya, entah mengapa, bergetar hingga meneteskan airmata.

Namanya Alisa Delisa, seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang lincah dan manis. Dia anak bungsu dan memiliki tiga kakak perempuan. Mereka tinggal di Lok Nga bersama Ummi nya. Abi nya sendiri adalah seorang pelaut yang pulang sekali setiap tiga bulan.

Fokus cerita dalam novel ini adalah tentang Delisa yang berusaha keras untuk bisa menghafal bacaan shalatnya. Kemudian dilatarbelakangi oleh bencana tsunami di Aceh pada 2004 lalu.

Setiap buku memiliki pesan moralnya sendiri-sendiri dan hal itulah yang membedakan buku yang baik dan tidak. Novel yang sudah difilmkan ini mengajarkan kita tentang makna hidup dan kematian, ikhlas dan tulus dalam melakukan apapun, arti penting keluarga dan kebersamaan dan juga tentu bagaimana kita mencintai sesuatu/ seseorang karena Allah.

Novel ini juga membuat saya semakin yakin bahwa setiap kejadian adalah kehendak-Nya dan hanya Dia lah yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini.

Ya Allah, sungguh, kami tidak pernah memiliki! Kami tidak pernah mempunyai! Engkau-lah yang Maha Memiliki. Engkau-lah yang Maha Mempunyai. Ya Allah, bahkan diri kami sendiri bukan milik kami!



Sunshine

Kamis, 26 Januari 2012

The Girl With the Dragon Tattoo

The Girl With the Dragon Tattoo terbitan Vintage Books, NY.
The Girl With the Dragon Tattoo, ditulis oleh penulis asal Swedia, Stieg Larsson. Saya pertama kali melihat buku ini di Tucson, Arizona, pas program IELSP 2010 kemarin. Buku ini merupakan buku pertama dari Trilogi Blomkvist dan Salander dan menempati no.1 national bestseller untuk fiksi dengan thriller murder terbaik 2009.

Saya membeli buku ini di Tucson seharga $14.95. Bukunya bersampul kuning kehijauan dengan terbitan Vintage Books, New York. Saat sampai di Indonesia, saya mulai membacanya dan menyadari Englishnya agak sulit dipahami. Kemudian saya menemukan dan membeli edisi Bahasa Indonesia nya yang kurang dikenal di pasaran. Saya membelinya Oktober 2010.

Dan saya baru menyelesaikannya kemarin malam pukul 01.30.

Saya membacanya selama tiga hari berturut-turut dengan begitu bersemangat sebab filmnya sudah rilis dan sedang saya tunggu-tunggu muncul di bioskop Makassar. Ochank dan Noe juga sudah menamatkannya dan mereka bilang bukunya bagus sekali.


The Girl With the Dragon Tattoo versi Bahasa terbitan qanita, Mizan

Bagi saya, ini kali pertamanya saya membaca thriller pembunuhan yang sangat menakutkan, bahkan bisa dibilang keji. Lebih misteri dibanding cerita komik Conan. The Washington Post menilai buku ini dengan "wildly suspensful..an intelligent, ingeniously plotted, utterly engrossing thriller". Saya membacanya dan sangat mengagumi imajinasi penulis yang sangat "out of expectation" ini.

Jadi ceritanya berpusat pada kehidupan Mikael Blomkvist dalam mencari Harriet Vanger, yang telah menghilang selama 40 tahun. Harriet diduga dibunuh dan tugas Blomkvist lah untuk mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Dalam tugasnya, Blomkvist dibantu oleh Lisbeth Salander, seorang gadis punk asosial yang memiliki ingatan fotografis dan hacker yang andal. Berdua, mereka mengaitkan antara hilangnya Harriet dengan serangkaian pembunuhan berantai yang tak terpecahkan.

Seri kedua dari trilogi ini berjudul The Girl Who Played With Fire dan dilanjut dengan seri terakhir yaitu The Girl Who Kicked The Hornet's Nest. Sayangnya, Stieg Larsson meninggal pada 2004, shortly after he delivering script buku ketiga.

Cheers,
Sunshine

Senin, 19 Desember 2011

I want this as a gift

Buku-Buku yang Mengubah Dunia

Kamis, 23 Juni 2011

Bumi Manusia. Roman Karya Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer


"Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan" 
-Pramoedya Ananta Toer-

Setelah hampir setahun membiarkannya berbaris di meja kamar, membawanya KKN di desa, akhirnya malam ini selesai juga saya membaca buku ini sampai tamat.

Buku ini merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru yang ditulis Pramoedya Ananta Toer saat mendekam di kamp kerjapaksa, di Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Roman Bumi Manusia ini bercerita tentang tokoh bernama Minke yang hidup di tengah-tengah Pribumi dan Eropa pada awal abad ke-20. Dia hidup, belajar dan bermasyarakat diantara dua kebudayaan yang berbeda. Hidupnya kemudian berubah saat dia bertemu dengan Annelies dan Ibunya, Nyai Darsam, janda seorang Belanda bernama Herman Mellema. Dari sinilah dia menyadari peliknya hubungan antara Eropa dan Priyayi seperti dirinya. Dimana saat itu pribumi tak memiliki kekuatan apapun untuk melawan Eropa yang biadab.

Saya begitu suka cara Pram bertutur dalam tulisannya, hingga saya mencatat banyak kutipan. Karakter, plot, dan juga seringnya beliau memberikan kejutan kejadian di tiap-tiap bab. Membawa-bawa dan mengaduk emosi. Kita lebih memahami kondisi tanah air dan menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri kita.

Roman ini pun telah banyak meraih penghargaan di kancah sastra Internasional dan Pramoedya Ananta Toer, sampai akhir hidupnya, menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masuk dalam kandidat penerima Nobel Sastra. So, read it then you know it!



Have a nice reading,
Sunshine

KUTIPAN FAVORIT:


"Prasangkaku, sekali waktu ia bercerita, bahwa parang dan tombak dan ranjau Aceh, takkan mampu menghadapi senapan dan meriam, juga keliru. Orang Aceh punya cara berperang khusus. Dengan alamnya, dengan kemampuannya, dengan kepercayaannya, telah banyak Kompeni dihancurkan. Aku heran melihat kenyataan ini, tambahnya lagi. Mereka membela apa yang mereka anggap jadi haknya tanpa mengindahkan maut. Semua orang, sampai pun kanak-kanak! Mereka kalah, tapi tetap melawan. Melawan, Minke, dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan."


"Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil dan berhasillah kau..."


"Jangan takut pada pelajaran apapun karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua..."


"Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini..."

Maiasaura. Sebuah Kumpulan Cerpen

Maisaura karya Lily Yulianti Farid

Beruntung saat Februari kemarin saya dihadiahi buku ini langsung dari penulisnya, Lily Yulianti Farid, atas bantuan saya bekerja sebagai volunteer di event yang diadakan Rumata'- Kak Lily sendiri adalah Co Founder dari Rumata' bersama sutradara kenamaan Riri Riza.

Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen kedua karyanya setelah Makkunrai- juga kumpulan cerpen, diterbitkan oleh Nala Cipta Litera, Maret 2008. Berisi sembilan cerita pendek, masing-masing berjudul: Danau, Maiasaura, Kecap, Kamera, Ruang Keluarga, Rie dan Rei, A, Makan Siang Bersama Yuki dan Warsa.

Sekiranya pernah ada yang bertanya mana diantara Makkunrai ataukah Maiasaura yang lebih bagus. Sekarang, setelah sudah membaca keduanya, saya hanya bisa bilang, keduanya memiliki keistimewaannya masing-masing. Namun, di Maiasaura, tema yang diangkat oleh penulis lebih matang dan global. Isu dan fenomena sosial yang ada di dalam setiap cerpen-cerpennya mengena. Namun ada beberapa waktu saat saya mulai membaca cerita satu ke cerita yang lain, yang penuh dengan istilah-istilah sulit namun berisi, saya sering membayangkan penulis menemukan satu fakta yang kemudian menginspirasinya untuk mengaitkan fakta satu ke fakta yang lain tanpa mendalaminya.

But frankly, I prefer Makkunrai. Saya merasa kesulitan untuk memilih satu cerpen yang paling saya suka di buku itu. Sedangkan di Maiasaura, saya paling suka dengan cerpen berjudul "A".

Kelebihan penulis ada pada kuatnya menciptakan karakter di setiap tokoh-tokohnya. Diciptakan melalui cerita flashback, dialog, maupun kobaran pikiran sang tokoh sendiri dalam setiap cerita. Penggambaran detailnya pun luar biasa.

Lily Yulianti Farid merupakan penulis asal Makassar yang kini tinggal di Melbourne bersama suami dan anaknya. Dia sempat menjadi jurnalis sebelum akhirnya menjadi penulis. Dia juga penggagas munculnya citizen journalism di Makassar yang bernama Panyingkul!.


Have a nice reading,
Sunshine

Selasa, 07 Juni 2011

Nodame Cantabile

Saat ini saya sedang menghabiskan waktu membaca komik ini, Nodame Cantabile. Saya suka sekali kisah cinta yang unik dari tokoh Nodame dan Chiaki. Mereka berdua jenius musik, saling menyayangi, namun memiliki karakter yang sangat berbeda. NC ditulis oleh Tomoko Ninomiya dan telah di live-action kan dengan pemain Hiroshi Tamaki sebagai Shinichi Chiaki dan Juri Ueno sebagai Megumi "Nodame" Noda. Di Jepang, NC dirilis oleh Kodansha di Majalah Kiss dari Juli 2001 sampai Oktober 2009. Sedangkan di Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo sebanyak 23 jilid.

Dari komik inilah saya tahu tentang musik klasik. Karya Mozart, Rachmaninoff, Brahms, Petrouchka, Schumann dan lainnya. This manga succesfully introduce me to all of their classic and I love them!

Nodame dan Chiaki

Nodame dan Chiaki, jenius musik yang amit-amit

I really love this manga. Recommended to read!

Love,
Sunshine

Rabu, 16 Maret 2011

Robohnya Surau Kami



Ditulis oleh A.A. Navis dan pertama kali terbit tahun 1956. Berisi 10 cerpen yang bertemakan sosio-religi yang luarbiasa menginspirasi. Buku kumpulan cerpen ini menjadi salah satu karya sastra monumental dalam dunia sastra di Indonesia.

Judul 10 cerpen dalam buku ini:

Robohnya Surau Kami,
Anak Kebanggaan,
Nasihat-nasihat,
Topi Helm,
Datangnya dan Perginya,
Pada Pembotakan Terakhir,
Angin dari Gunung,
Menanti Kelahiran,
Penolong, dan
Dari Masa ke Masa.

Saya paling suka Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Pada Pembotakan Terakhir dan Dari Masa ke Masa. Tapi overall, semua ceritanya keren dan sarat pesan.

Have a nice reading!

Love,
Sunshine

Selasa, 01 Februari 2011

Olenka


Zahir. Itu kata yang membuat saya tertarik membaca postingan Kak Ema di blognya. Untuk menggambarkan kata itu dia pun menulis beberapa paragraf tentang sebuah cerita dalam novel berjudul Olenka. Saya penasaran, meminjamnya dan kemudian menghabiskan beberapa hari membacanya.

An author, Budi Darma, wrote this book on 1983, took Bloomington, Indiana, US as a setting of its story. 'Olenka' tells about a man named Fanton Drummond, who crazy about a woman named Olenka, who already had a husband and son. they met in a elevator of their apartment, Tulip Tree. since then, Fanton Drummond couldn't get her out of his mind. Everything he thought, it's just about Olenka, about her.

Kira-kira begitu cerita singkatnya.

Di Indonesia sendiri buku ini diterbikan oleh Balai Pustaka dan sudah berkali-kali dicetak ulang. Novel yang ditulis dalam waktu tiga minggu ini berhasil menjadi pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan termasuk salah satu karya sastra besar Indonesia.

Dalam buku ini saya tertarik pada apa yang disebut 'Kesatuan Afinitas'. Mengingatkan saya pada pertanyaan yang kerap kali bersarang di kepala saya: "Apakah orang yang kita pikirkan memikirkan kita juga?".

Membaca Olenka, diluar settingnya di luar negeri, saya seperti membaca karya terjemahan. Mulai dari Vanity Fair karya Thackeray, The Darling karya Anton P. Chenkov, Clairvoyante Madame, Balon Trans-Amerika Da Vinci, kisah Margaret Trudeau; mantan istri Perdana Menteri Kanada, Pierre Elliott Trudeau. Sajak-sajak Robert Browning, pemikiran Immanuel Kant hingga The Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne. Belum lagi selipan surat kabar di beberapa halaman di buku ini. Semua hal-hal itu membuat Olenka tidak hanya mengisahkan kisah cinta picisan belaka namun memang hasil pemikiran intelektual yang tidak main-main.

Ini memang bukan novel ringan walaupun berkisah tentang obsesi dalam cinta. Bagaimana benar-benar masuk ke pemikiran tokoh Fanton Drummond dan memahaminya butuh beberapa kali membaca untuk saya.

Budi Darma

Seperti kata Budi Darma, "Karya sastra yang baik bukanlah tulisan yang kaya tindakan-tindakan jasmani yang menakjubkan, akan tetapi kaya berkelebatnya pikiran..."


Love,
Sunshine

Jumat, 14 Januari 2011

Rectoverso



Okay..
Alhamdulillah, 2 hari yang lalu sudah menyelesaikan Rectoverso dalam satu kali duduk! Ha!
Rectoverso karya Dewi Lestari ini merupakan gabungan antara kisah dan lagu. Buku ini menyajikan 11 cerita fiksi dan 11 lagu yang dirangkum dalam sepaket buku dan CD lagu. Saya membacanya sambil mendengar lagu-lagunya dan they are all amazing.
Saya jatuh cinta pada kisah-kisahnya, lagunya, lirik dan ilustrasi musiknya.

Rectoverso sendiri merupakan pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi.

Recommended!
Dengarkan kisahnya. Baca musiknya. Selami ilustrasinya.


Love,
Sunshine

Selasa, 04 Januari 2011

Detective Conan and I



Saya mulai membaca Detektif Conan sejak SD hingga sekarang. Dari jilid 1 hingga 58. Saya amat menyukai cerita detektif itu sampai tak bisa tidak membaca kelanjutan ceritanya.

Pengarangnya, Aoyama Gosho, berhasil membuat penggemar komik detektif cilik ini bersabar hingga berpuluh tahun lamanya tanpa kehilangan satu ingatan pun tentang inti, alur dan thriller ceritanya. Saya mengenal begitu banyak orang yang mengoleksi komiknya lengkap tanpa ada satu jilid pun terlewati.

Misterinya dibiarkan terkuak pelan-pelan, tapi bukan berarti kita menunggu tanpa apa-apa. Kisah romansa Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa bersama Ran Mouri menemani kita dalam penantian itu. Benang merah pelan-pelan terjalin dan karakter-karakter pendukung cerita benar-benar penuh dan hidup.

Saat kemarin singgah sebentar di Narita Int'l Airport, saya membelikan salah satu teman kampus bernama Nendenk, satu jilid komik Conan. Bahasa jepang full. Jilid 68- kalau saya tidak salah ingat. Di Indonesia, baru keluar jilid 58.

Kita lihat saja sampai kapan serial Detektif Conan ini selesai dan bagaimana akhirnya. Saya juga bertanya-tanya, saya akan setua apa untuk membaca jilid akhirnya nanti.


Love,
Sunshine

Senin, 13 Desember 2010

Where the Mountain Meets the Moon



Saya baru saja selesai membaca sebuah buku dongeng berjudul "Where the Mountain Meets the Moon" karya Grace Lin, penulis "Year of the Dog" dan "Year of the Rat". Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Penerbit Aria tahun 2010.

Mestinya ini menjadi buku dongeng yang dibaca oleh anak-anak muda sekarang. I'm so praise for its stories. Ceritanya ringan, mengalir tanpa kerumitan yang sulit dipahami, begitu menggugah dan menginspirasi. Sekarang, sulit menemukan buku-buku seperti ini lagi.

Grace Lin berhasil menulis sebuah cerita fantasi yang diramu oleh folklore Cina, tempatnya lahir. Buku ini sarat pesan moral, berisi petualangan, persahabatan dan keyakinan. Layaknya kisah Alice in Wonderland ataupun Wizard of Oz. Petualangan semacam itu.

Saya suka membaca dongeng, kisah ringan pengantar tidur yang tersirat pesan-pesan moral dalam hidup tapi tidak mendikte. Saya suka kisah yang ditulis dengan kata-kata indah tapi tidak menjemukan.

I love fairytales!


Love,
Sunshine


PS: Terima kasih, Kak Aan, sudah berbaik hati meminjamkan buku ini. Thanks, thanks, how kind of you!

Senin, 04 Oktober 2010

Dina Oktaviani: Broken Heart Walking

I want to introduce you to:
DINA OKTAVIANI



dan buku kumpulan puisinya berjudul:
BROKEN HEART WALKING: HATI YANG PATAH BERJALAN.


Buku ini hadiah dari Kak Aan Mansyur, seorang penggila kata dan kalimat. Dia memberiku April 2010 dan buku ini lebih banyak menghabiskan waktunya mendekam di lemari buku ku, ketimbang saya baca berulang-ulang.

but these are my favorite:

"dadanya berdarah
hatinya tidak"
-jalan kecil menuju dina-

"now that night has become the past
which will not appear in our words
if we have to meet and chat
in my home-or yours
in the future"
-wedding anniversary-

"tak ada yang dapat sembunyi lagi
saat aku membuka pintu dan memasuki semesta
yang dengan takjub kita sebut rumah"
-trinitas-

"...but still I miss you
like a terrifying journey
of a train from town to town
which I could never stop

I try to write something
and pray for you
so that you can forgive
your love for me

but all the words
and beliefs
ran away from my solitude

-why should one's head be above the heart
that my frail breasts
cannot touch your ears
without lowering your face?"
-Inner Landscape-

Dina Oktaviani was born on October 11, 1985 in Lampung. At 21 she had her first book of poems published. This was Biografi Kehilangan (the Biography of Loss)

She is the author of como un sueno, a collection of short stories. Broken Heart Walking is her latest collection of poems.

*
Thanks for Kak Aan, a man who really loves words and sentences, for introducing me and let me into poems and its beauty. Mengingatkan waktu masih SMP, saat-saat saya menulis puisi dan cerita fantasi bersama Chank.

Jumat, 20 Agustus 2010

The Girl With The Dragon Tattoo


This is a book that I really curious about. Waktu masih di Tucson dan jalan-jalan ke beberapa bookstore disana ada satu buku yang selalu bertengger menjadi BESTSELLER, berjudul : The Girl Who Kicked the Hornets's Nest. Saya pikir ini buku apa. Tapi kemudian, terlupakan.

Lalu, suatu hari Kathleen, guru SRL saya di CESL, membawakan Kindle Amazon yang dia punya. Dia menunjukkan kepada kita wujud Kindle Amazon yang ajaib itu kepada kita semua. Saat saya melihat judul e-book yang sementara dia baca : The Girl With The Dragon Tattoo, saya pun masih tak tahu buku apa itu. Saya benar-benar baru mendengarnya.

Ternyata, The Girl Who Kicked the Hornets's Nest adalah buku ketiga dari trilogi karya Stieg Larsson. Buku pertama yaitu The Girl With the Dragon Tattoo kemudian dilanjutkan The Girl Who Played With Fire.

Saya pun lalu membeli buku pertamanya. Sampai sekarang masih berusaha menyelesaikannya. Trust me, guys. It needs more patience and more time to read book in English version if it's not your daily speak.

So, wait for the review!

Love,
Ri

Senin, 18 Januari 2010

books, music and movies

I begin this day when I wake up at 9 am. Inspired by Julie Powell who write her cooking blog on Nora Ephron's movie, Julie&Julia. Well, suddenly I want updating my blog too. But you know, I will not write about recipes or how to cook poultry or something like that, I just want to write what's in my head now:

Three things will make my life feels really live; Books, music and movies. Without them, I utterly dead. I mean, I need them soo much to runaway from my "real" life. For me, books, music and movies is a good escape from all the things happened in my life. Imagine, six days with work, study and house stuffs, without any compromise, push and force me do what I have to do. And the next day, Sunday will receiving me with wide open arms, like saying, "Baby, this is all your day! Do what you want to do, go reading a book, or listening Jason Mraz, or having a movie or two! Wake up and enjoy your day!"

That was exactly what I really love when weekend comes.

So, I will completely wake up. Take a bath, spending two three hours just for shower and wash my hair. And then I will take my "The Heart is a Lonely Hunter", Carson Mc Culler's book, reading until I fall asleep. When I wake up in the afternoon, I'll turn on the radio, playing my lovely singing, Jason Mraz and sing along with a max volume. And then, after having it, I will really satisfied if I've watched like example, Spike Jonze's "Where The Wild Things Are?"...


*Sunshine

P.S:
"Go get your dream!!!"

Rabu, 18 Maret 2009

The Boy in The Striped Pajamas



The Boy in The Striped Pajamas (Book)

Novel setebal 216 halaman ini ditulis oleh John Boyne, penulis asal Irlandia. Dia menulis draft awal novel ini selama dua setengah hari dan saat dipublikasikan, novel ini langsung terjual lebih dari 4 juta kopi di seluruh dunia.

Novel ini bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Bruno yang terpaksa pindah dari Berlin menuju luar kota karena ayahnya dipindahtugaskan kesana. Di jendela kamar rumahnya yang baru, dia bisa melihat dari kejauhan orang-orang dari segala usia memakai baju bergaris-garis. Bruno mengistilahkannya 'striped pyjamas', tanpa tahu apapun mengenai mereka dan alasan mereka memakai seragam bergaris itu.

Yang saya sukai dari novel ini adalah kemampuannya bercerita tentang tema yang rumit dari sudut pandang yang sederhana. Holocaust yang terjadi di zaman Hitler di Auschwitz, Bruno menyebutnya "Out-With", mampu diceritakan dari pandangan anak-anak. Istilah 'pagar' yang dihadapi oleh Bruno saat bertemu Shmuel yang ternyata adalah pembatas wilayah kamp konsentrasi Nazi dengan wilayah diluar itu. Hingga penggambaran 'striped pyjamas' oleh Bruno yang ternyata adalah seragam tawanan Holocaust yang berwarna biru-hitam-putih.

Penggambaran karakter tokohnya kuat dan jelas. Bagian terbaik ada pada endingnya yang kurang digambarkan secara detail dan rinci, namun cukup dimengerti. Karena novel ini diceritakan dari sudut pandang anak berumur sembilan tahun, terdapat banyak pengulang-ulangan kalimat, betapa Bruno ingin mempertegas perasaannya saat pindah ke Auschwitz dari Berlin, rumahnya yang sebenarnya.

have a nice reading!
-sunshine-

Minggu, 11 Januari 2009

Rispondimi

Rispondimi
Susanna Tamaro

"Orang yang mencintai sering menanggung resiko lebih besar dan sering harus membayar harga yag lebih tinggi. Alih-alih membuka hati, cinta lebih sering menutupnya. Mengapa? Mungkin kita khawatir seperti layaknya makanan, air atau uang; cinta itu bisa dirampas dan direguk habis. tetapi tahukah kau? cinta bagai udara tak berbatas"

Susanna Tamaro hadir dalam novel penuh makna hidup dan cinta. Rispondimi- Jawablah Aku. Diterbitkan di Indonesia pertama kali oleh Gramedia tahun 2004. Novel ini berisi tiga cerita yang berbeda namun memiliki inti dan topik yang sama; cinta, konflik hidup, keyakinan akan Tuhan dan penyesalan.

Rispondimi-Jawablah Aku, merupakan kisah awal dalam novel ini. Bercerita tentang seorang anak yatim piatu bernama Rosa. Ibunya seorang pelacur yang lalu menitipkannya di sebuah sekolah gereja yang punya asrama. Stelah Ibunya meninggal, dia lalu diasuh oleh paman dan bibinya yang tidak mencintainya, mengasuhnya hanya karena kasihan saja. Rosa menemukan dirinya hidup sendiri dalam dunia ini dan yakin bhawa tidak ada yang menginginkan dirinya. Dia membenci semua hal, bahkan Tuhan. Bahkan saat hidupnya berubah pada satu cahaya, harapannya akan hidup pun masih terlalu tinggi.

Neraka Itu Tidak Ada, bercerita tentang kisah hidup seorang wanita dan keluarganya. Saat dia menyadari bahwa dia menikahi laki-laki yang salah, hidupnya serasa bagai di neraka. Dia memiliki anak perempuan dan anak laki-laki yang tidak normal, Laura dan Michele. Awalnya dia bisa bertahan dengan alasan keberadaan anaknya. Namun, pada suatu malam, terjadi insiden yang membuat dirinya sangat benci pada suaminya. Ada suatu bait yang menggambarkan rasa bencinya itu.
"Kebencian adalah satu-satunya perasaan yang tak pernah menguap bersama lewatnya waktu. Sebaliknya, kebencian terus menguat bagai angin ribut. Kebencian adalah kekuatan yang besar dan hidup..."

Hutan yang Terbakar menjadi kisah favorit saya. Penuh dengan kiasan-kiasan akan hutan. Bercerita tentang cinta dan penyesalan yang dalam. Tersisip pesan 'pride and prejudice'. Anna baru saja melahirkan putrinya, Giulia. Dia mengalami trauma pasca-melahirkan sehingga mau tak mau, suami yang sangat mencintainya, Saverio, merawat Guilia dan istrinya yang sangat rentan dan rapuh itu. Namun, saat istrinya lalu berusaha berubah dan berusaha mencintai kehidupannya, Saverio tidak bisa menerima perubahannya itu.

Overall, novel 224 halaman ini mengundang rasa simpati pada pembaca. Kisah hidup yang diciptakan maupun karakter demi karakter yang terjalin dengan baik, membuat kita terus ingin menuntaskannya hingga akhir. Namun, saya berpendapat ini bukan karya terbaik Tamaro. Dibandingkan Rispondimi, Va' dove ti porta il cuore nya lebih menyentuh dan lebih baik.

Selasa, 06 Januari 2009

The History of Love

The History of Love

Atau Sejarah Cinta. Sebelum berpikir macam-macam tentang isi buku ini dari judulnya, ini sama sekali berbeda dengan bukunya Erich Fromm yang The Art of Loving. Buku ini cerita fiksi, bukan berisi mazhab-mazhab Fromm ataupun Freud ataupun gagasan hingga teori-teori tentang cinta. Buku ini murni cerita cinta yang dihubungkan oleh sebuah buku berjudul The History of Love.

1. The History of Love adalah cerita tentang buku berjudul The History of Love...
2. Dan tentang gadis bernama Alma Singer- yang ibunya menamainya dengan nama setiap gadis di buku The History of Love.
3. Dan tentang seorang lelaki bernama Leo Gursky,yang tak bisa melupakan cintanya bernama Alma Mereminsky.

Ketiganya lalu dipertemukan pada Sabtu sore di Central Park. Membawa cerita dan rahasia masing-masing. Mereka mengantarkan kisah hidup yang penuh cinta kepada hidup yang lainnya.

This book, seperti kata saya pada Ty-sang pemilik buku-,is really beautiful book. Jarang ada buku yang membuat perasaan kita benar-benar terhanyut dalam cerita dan dalam karakter tokohnya. Misalnya ada komentar pada buku, "Saya sampai tak bisa menaruh buku ini sampai saya menuntaskan ceritanya!", komentar ini sangat cocok ditujukan kepada The History of Love. Yang dari awal hingga akhir, tidak ada kalimat yang percuma. Semuanya punya makna dan membuat alur ceritanya semakin mudah diikuti. Daya tarik buku ini menurut saya ada pada kemampuannya membuat kita penasaran pada kelanjutan ceritanya yang seru. Membuat kita ingin membuka selembar lagi, selembar lagi, hingga tuntas. Endingnya ditulis dengan emosi dan suasana yang kuat, hingga saya hampir menangis saking terharunya.

The History of Love ditulis oleh Nicole Krauss. Penulis asal New York yang juga menulis buku Man Walks Into a Room, buku yang dinominasikan untuk Los Angeles Times Book Award. The History of Love telah diterjemahkan ke lebih dari dua puluh lima bahasa.

-sunshine-
5 Jan 09

Kamis, 01 Januari 2009

Already Read on 2008 (finish)

Well, tahun lalu saya menghabiskan banyak waktu membaca buku-buku. Yang membuat saya merasa penuh dengan fiksi. Some fills me with books and some with movies.
Kalau melihat dari awal-awal postingan, saya banyak mereview buku yang saya baca. Tapi tidak semua. Jadi ini dia daftar buku yang tuntas saya baca dari awal hingga akhir tahun 2008.

1. Laskar Pelangi by Andrea Hirata
2. 5 cm by
3. The Alchemist by Paulo Coelho
4. Can You Keep a Secret by Sophie Kinsella
5. Pesan dari Bintang by Sitta Karina
6. Lukisan Hujan by Sitta Karina
7. Neverwhere by Neil Gaiman
8. Ketika Cinta Bertasbih 1&2 by Habiburrahman El-Shirazy
9. Harry Potter And The Deathly Hallows (English version) by J.K Rowling
10. Harry Potter dan Relikui Kematian by J.K Rowling
11. Little Prince by Antoine de Saint Exupery
12. Rashomon by Ryonosuke Akutagawa
13. Sang Pemimpi by Andrea Hirata
14. Criss Cross by Lynne Anne Parker
15. Edensor by Andrea Hirata
16. Aki by Idrus
17. The Kite Runner by Khaled Hosseini
18. Misteri Soliter by Jostein Gaarder
19. To Kill a Mockingbird by Harper Lee
20. A Walk To Remember by Nicholas Sparks
21. Dari Penjara Taliban Menuju Iman (Kisah Yvonne Ridley) by Anton Kurnia
22. Fight Club by Chuck Palahniuk
23. Tolong! Radith membuat Saya Bego by Raditya Dika dkk
24. Totto Chan: Gadis Kecil di Jendela b Tetsuko Kuroyanagi
25. A Tale of Desperaux by Kate di Camillo
26. Langit Penuh Daya by Sekar
27. Va' dove ti porta il cuore (pergilah ke mana hati membawamu) by Susanna Tamaro
28. Coraline by Neil Gaiman
29. Century by Sarah Singleton
30. The Remains of the Day by Kazuo Ishiguro
31. The Five People Meet in Heaven by Mitch Albom
32. Ways to Live Forever by Sally Nicholls
33. A Thousand Splendid Suns by Khaled Hosseini
34. Back"Europe"Pack by Marian Silvia K
35. The Time Travelers Wife by Audrey Niffenegger
36. The Boy Who Ate Stars
37. Tuesdays with Morrie by Mitch Albom
38. For One More Day by Mitch Albom
39. Studying Abroad
40. A Girl Who Married Lion by Alexander Mc Call Smith
41. Lolita by Vladimir Nabokov
42. Life on The Refrigerator Door by Alice Kuipers
43. Les Miserables by Victor Hugo

Les Miserables


Saya dipinjami Tya buku ini, hari dimana Pak Syam mengadakan acara buka puasa di rumahnya sebelum dia berangkat ke Australia. Itu sudah berselang tiga bulan saat saya, baru kemarin, tuntas membaca buku ini. Setelah membaca baris pertama di bab I saya yakin bahwa buku ini bukan fiksi semata. Bukan novel picisan sembarangan yang bisa dengan mudah dilupakan semenit setelah kita habis membacanya. Buku ini merupakan teriakan sang penulis pada kacauanya situasi sosial yang terjadi pada masanya, yang juga terjadi di masyarakat kita.

Les Miserables ditulis oleh penulis kenamaan, Victor Hugo, seorang penulis dan sastrawan asal Perancis yang karya-karyanya menjadi titik tolak terbesar bagi gerakan romantisme. Buku ini ditulis semasa pengasingannya di Pulau Guernsey. Awalnya novel ini diterbitkan sebanyak sepuluh jilid di Belgia dan Perancis dan meraih sukses yang luar biasa. Di Indonesia, cetakan pertamanya diterbitkan bulan Februari 2006 oleh Penerbit Bentang, yang juga menerbitkan tetralogi Laskar Pelangi.

Jean Valjean, sang tokoh utama, dihukum menjadi pekerja paksa di kapal selama 19 tahun karena HANYA mencuri sebongkah roti. Dia melarikan diri dan bertemu dengan Uskup Myriel yang telah memberinya pencerahan. Dia kemudian mengubah namanya menjadi Monsieur Madeleine dan menjadi walikota di sebuah kota kecil. Dia bertemu dengan Fantine, seorang gadis malang yang bekerja mati-matian untuk membiayai anaknya, Cosette, yang dititipkannya pada keluarga Thenardier yang (tak disangkanya)jahat. Inspektur Javert, yang mengetahui masa lalu Jean Valjean kemudian mengejarnya. Untuk menyelamatkan nyawa orang, Jean Valjean pun lalu menyerahkan diri dan dihukum seumur hidup. Namun untuk kedua kalinya, dia berhasil lolos dan mengadopsi Cosette. Selama belasan tahun dia mengasuh dan membesarkan Cosette di sebuah biara, mereka berdua pun bertemu Marius, pemuda yang lalu jatuh cinta pada Cosette. Lalu bagaimana kehidupan Jean Valjean selanjutnya? Akankah dia rela memberikan Cosette pada Marius?

Saat membaca buku ini, saya begitu terpana dengan kemalangan hidup yang terjadi pada hampir semua tokoh-tokohnya. Betul-betul yang membuat emosi kita bergejolak. Merasa sedih, marah,kasihan dan tersenyum bila ada sedikit kebahagiaan. Saya tersadar bahwa dalam dunia ini tidak hanya diisi oleh orang-orang yang bahagia dan menjalani kenyamanan hidup dalam rumah. Les Miserables benar-benar buku yang mampu menggambarkan emosi dan kekejaman hidup yang luar biasa, yang akhirnya, dengan rasa cinta yang begitu kuat, mampu mengobati segala-galanya.

Akhirnya, mengutip dari Hauteville House 1862, yang tercantum pada halaman awal buku ini:
Selama masih ada pengutukan sosial, dengan alasan hukum dan adat, yang saat berhadapan dengan peradaban secara artifisial menciptakan neraka di muka bumi dan merumitkan takdir ilahiah dengan ketidakabadian manusia; selama tiga masalah zaman kita tak terpecahkan-degradasi manusia karena kemiskinan,kehancuran perempuan karena kelaparan dan pengerdilan masa kanak-kanak karena kegelapan fisik dan spiritual; selama ketercekikan sosial masih mungkin terjadi di daerah-daerah tertentu; dengan kata lain, selama ketidakpedulian dan penderitaan tetap bercokol di muka bumi, buku-buku semacam ini masih selalu ada gunanya.

Have a nice reading!

Selasa, 25 November 2008

A Girl Who Married Lion

Finally, setelah sebulan lebih menyimpan buku ini di meja, selesai juga bacanya.

This book from Kak Debra yang baik hati. Berisi 34 dongeng penuh makna yang indah dari dua negara di Afrika-Zimbabwe dan Botswana. Membaca dongeng hanya untuk anak kecil? Menurut saya tidak. Membaca dan mendengarkan dongeng, seperti kata Mma Ramotswe, membuat kita mengenang dan mengingat kembali masa kecilk ita. Saya juga setuju pada kalimatnya; "mengenang masa lalu seakan memandang melalui sebuah jendela yang tertutup debu; kita bisa melihat sesuatu, tetapi tidak dengan sangat jelas.

Penulis buku ini, Alexander McCall Smith, kelihatannya sangat mencintai bumi Afrika, tempatnya dilahirkan. Afrika memiliki banyak koleksi indah cerita rakyat Afrika sub-Sahara. Untuk itu, dia mencoba membagi dongeng-dongeng ini ke seluruh dunia. Karena dongeng menurutnya, merupakan bagian dari bahasa universal yang dapat berbicara kepada semua orang, melampaui batas-batas manusia, sebagaimana musik.

Saya punya lima dongeng favorit dalam buku ini. Yaitu Dua Orang Kawan Bertemu untuk Makan Malam, Lelaki Buta Menangkap Seekor Burung, Burng Susu, Anak-Anak Lilin dan Cara Buruk Memperlakukan Teman. Lima dongeng itu punya makna dalam masing-masing ceritanya.

Bagi kalian yang merindukan kisah-kisah ringan, menghibur tapi bermakna yang dikemas dalam dongeng fabel yang indah dan menghangatkan hati...buku terbitan Bentang ini pantas jadi pilihan.