Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

Ruang

puisi oleh Sitok Srengenge

Aku ceruk cangkir yang membayangkan kau sebagai kopi di pagi hari,
lingkar kalung yang merindu jenjang lehermu,
lubang baju yang butuh merengkuh tubuh

Kau greonggang rahang yang mengulum kelu lidahku,
rongga dada yang menampung paru dan jantung
lurung urat biru yang mengaruskan deru darahku

Aku cekung cangkang yang menginginkan kau menjadi kerang,
lengkung langit andaikan kau gugusan planet,
luas lautan manakala kau pepunuk pulau

Kau bidang padang mengerang gersang jika aku bukan rimbun pohonan,
kitab yang mengutip kisah kesiapku kala pertama kuintip wajah kekasih,
manik mata yang mendekap dunia, kakus yang tulus menadah limbah

Aku rangkum rahim di mana kau dulu mukim, rentang tangan yang selalu
menjagamu, kubebaskan kau bergerak dan berbiak dalam diriku
Aku kosong abadi yang menghendaki kau sebagai isi

Aku penuh oleh kau yang tak membiarkanku menghampar hampa
Aku takjub pada hidup yang berdegup, cinta yang bergema

~~~~

Senin, 19 Desember 2011

Pablo Neruda | Aku Mampu Menulis Bait Paling Sedih*

Malam ini aku mampu menulis bait yang paling sedih

Menulis, seperti,'Malam pecah...
dan bintang-bintang biru gemetar dari kejauhan.'

Angin malam berputar dalam awan dan bernyanyi.

Malam ini aku mampu menulis bait yang paling sedih.
Aku cinta padanya, dan terkadang dia pun cinta padaku.

Lewat malam seperti ini, aku memegang dirinya dalam lenganku.
Aku menciumnya terus menerus di bawah langit yang tak bertepi.

Terkadang dia cinta padaku, dan aku pun cinta padanya.
Bagaimana bisa seseorang tidak mencintainya dengan mata yang besar nan sunyi.

Malam ini aku mampu menulis bait yang paling sedih.
Berpikir bahwa aku tidak memilikinya. Merasakan bahwa aku telah kehilangan dirinya.

Mendengar malam yang lapang, masih terasa makin lapang tanpa dirinya.
lalu sajak jatuh pada jiwa seperti embun di padang rumput.

Apa yang membuat cintaku tidak bisa mempertahankan dia?
Malam pecah dan dia tidak bersamaku.

Inilah semuanya. Dari kejauhan seseorang bernyanyi. Di kejauhan.
Jiwaku terluka sebab telah kehilangan dirinya.

Penglihatanku seolah-olah mencari menuju dirinya.
Hatiku pun mencarinya, dan dia tidak bersamaku.

Malam yang sama memutihkan pohon yang sama.
Kita, pada saat itu, tidak lagi sama.

Saya tak lagi cinta padanya, itu pasti, tapi betapa aku mencintainya.
Suaraku berusaha mencari angin yang bisa menyentuh telinganya.

Milik orang lain. Dia akan menjadi milik orang lain. Seperti ciuman-ciumanku sebelumnya.
Suaranya. Tubuhnya yang bersinar. Kedalaman sepasang matanya.

Saya tak lagi cinta padanya, itu pasti, tapi mungkin saya memang cinta padanya.
Cinta itu sebentar. Melupakannya akan sangat lama.

Aku memegangnya dalam dekapku setiap melewati malam seperti ini.
Jiwaku terluka sebab telah kehilangan dirinya.

Meskipun ini menjadi rasa sakit terakhir yang kuderita karenanya.
dan ini bait-bait terakhir yang kutulis untuknya.

-Pablo Neruda

*Diterjemahkan secara bebas dari puisi Pablo Neruda, I can write the saddest verses