Jumat, 30 September 2011

Dear, Riana

Semuanya tergantung pilihan kamu. Kamu sudah tahu kan kalau memilih judul penelitian seperti ini dengan teknik pengumpulan data seperti itu- yang masih jarang sekali dipakai- jadinya akan sulit seperti ini!

Makanya, jangan mengeluh sekarang!

Sekarang hadapi pilihanmu itu sekuat-kuatnya. Kau pernah menghadapi yang lebih buruk dari ini. Kau pernah menghadapi yang lebih sulit dari ini, Riana. Ingat kan? Kau pernah persentasi di kelas CESL, di depan belasan mahasiswa internasional yang berasal dari negara berbeda. Waktu itu kau cemas sekali, bukan? Kau merasa takkan bisa menjelaskan dengan bahasa Inggris. Kau merasa takkan bisa sebagus Fahrin. Tapi waktu itu, you've done well! Lalu kenapa sekarang kamu tidak bisa?

Tentu kamu bisa!

Banyak baca. Banyak baca. Banyak baca. Jejalkan pengetahuan ke dalam kepalamu. Jika suatu saat mereka bertanya, jawablah menurut pengetahuanmu. Jangan ragu. Kamu pasti bisa. Tak ada jalan pintas untuk sukses, sayang. Jalannya memang harus sulit, berliku-liku dan terjal. Kamu tahu itu, kan? Bukankah kamu suka belajar? Bukankah kamu suka tahu hal-hal? Bukankah kamu suka bertanya?

Lupakan Riana yang pemalas. Lupakan Riana yang manja. Lupakan. Jadilah Riana yang tekun dan pantang menyerah. Ayolah, ini untuk masa depanmu. Ini, seperti kata orang, untuk selembar kertas itu.



Love,
Sunshine

SEMANGAT SKRIPSI, RI!!

Senin, 26 September 2011

Hope It Last

I love you, Brainwave. I love you really much. You know that, right?

Please, no more goodbye. It hurts us.

Love,
Sunshine

Chair

I remember sat beside you. You were sleepy then you go washed your face and your hair to keep awake. You pay attention so seriously to Professor's explanation about culture. I pay attention to your face, your hair, your white shirt and your expression. I didn't care about anything else. But you keep checking whether I'm listening or not. I always pretending everytime you asked.

Please, stay here. Don't move to another chair. Just sit beside me, here.

Unrequited Love

Saya ingat melihatmu dari balik pintu mushola. Kau baru selesai solat Dhuhur dan saya baru saja akan memulainya. Kau tidak melihatku tentu saja, kau dan aku dihalangi pintu berkaca buram. Hanya aku yang meihatmu. Kau tidak bisa. Kenyataan itu membuatku berpikir mungkin memang hanya aku yang memperhatikan dan mencintaimu, sedangkan kau tidak.

Apa yang lebih perih dibanding cinta tak berbalas?

Jumat, 23 September 2011

Cahaya Bulan

Lagu yang paling sering kuputar saat itu adalah That's Why - Michael Learns To Rock. "Love is one big illusion. I should try to forget. But there is something left in my head..."

Aku tahu kita masih saling cinta. Aku tahu kau sudah menjadikanku duniamu, titik pusatmu berotasi. Kau tahu kau adalah cahaya bulanku, cahaya paling terang di malam gelap gulita. Kau tahu kau adalah semangatku. Aku bahkan selalu menyambut kedatanganmu dengan keajaiban senja, sayang. Tahukah kau? Kau, Bulan. Dirimulah penanda malam. Dirimulah yang paling terang bahkan diantara trilyunan bintang yang bersinar kerlip di angkasa malam. Kini setelah kita berpisah, aku membenci langit malam dan bulan. Bahkan senja tidak semenarik dan seajaib dulu lagi.

Kau bilang aku tidak pernah mengerti apa maumu. Kau bilang aku egois. Kau bilang aku selalu membuatmu menangis. Kau bilang jika hubungan jarak jauh ini kita pertahankan, kau bisa gila. Gila? Sungguh, Bulan, aku tidak pernah bermaksud melukai hatimu. Hukumlah aku jika aku membuatmu sedih. Hukumlah aku, tapi kumohon tidak dengan cara berpisah darimu.

Dulu kita sering duduk berdua menunggu senja dan sore berlalu di pelataran kampus yang dari jauh bisa melihat danau. Aku membawa sebuah buku dan kau membawa musikmu. Bergantian, aku membacakanmu baris-baris kalimat yang kusuka dari buku yang kubawa dan kau akan memaksaku mendengar lagu-lagu baru yang ada di iPod mu dengan memberiku earphone sebelah kanan. Aku memasangnya di telinga kiriku. Kau memasang earphone satunya lagi di telinga kananmu. Kita mendengarkan lagu-lagumu itu, hingga senja datang dan berlalu, hingga sore menjadi malam. Lalu aku akan mengantarmu sampai ke halte terdekat mengambil angkutan umum yang akan membawamu pulang. Kekasihmu ini bahkan tidak mampu memiliki motor yang bisa memboncengmu pulang ke rumah dengan aman. Tapi kau tidak pernah mengeluhkannya.

Semua rasanya baik-baik saja hingga salah seorang dosen meminta aku menemaninya melakukan penelitian di pulau Jawa selama setahun. Kau tidak keberatan. Tapi sejak itu, hubungan kita rasanya berjarak ribuan kilometer meskipun setiap malam aku berusaha memperpendeknya dengan telepon. Bulan dan senja sudah tidak sama lagi seperti saat kita masih bersama.

[.....]

Sharing Keliling di Makassar


Saya dapat info ini dari Kak Nani, anggota komunitas blogger Anging Mammiri sekaligus atasan di AstaMedia. Saya, Astrid dan Umroh pun sama-sama mengikuti acara ini di LAN Antang, Sabtu, 17 September 2011, minggu lalu.

Pesertanya dibatasi cuma 40 orang per kelas. Saya, Pyonk (adek junior di kampus), Umroh dan Astrid ikut kelas menulis. Tutor nya itu Kak Artasya Sudirman yang cantik. Dia penyiar Radio Motion 97,5 FM ,penulis dan juga jago nyanyi. Overall, kelasnya asik dan fun walaupun berada di jam-jam 'tidur siang'. :)

And this is some pics from the event!



Me with Kak Tasya



Foto bareng kelas menulis. #sharingkeliling


Info event ini bisa dilihat lengkap disini

Kamis, 22 September 2011

Cinta itu seperti inilah




Cinta itu seperti inilah,
datang melanda tiba-tiba dan tak kenal arah.
Cinta itu seperti inilah,
kadang riak kadang damai, namun selalu membekas.
Cinta itu seperti inilah,
sulit diterka maknanya, penuh senyum dan airmata.
Cinta itu seperti inilah,
menemukan kamu yang sanggup membuat suara hati menang atas logika.
Cinta itu seperti inilah,
rindu tak habis-habis terkuras, pikiran tak henti juga mengenang.
Cinta itu seperti inilah,
menunggu bertahun-tahun, berjuang bersama-sama.

Cinta ini seperti itulah,
saya, kamu dan kita...

Rabu, 14 September 2011

Sepatu Merah Delima



Saya ingat membeli sepatu itu di Swap Meet. Flat shoes warna merah yang simple. Begitu saya lihat saya langsung suka dan membelinya dengan $3.

Saya memakainya saat hari final test di CESL. Saat selesai ujian Writing, Vincent Scardino, guru saya, memperhatikan sepatu merah itu dan berkata saya seperti Dorothy.

"Kamu tahu Dorothy? Dia tokoh dalam kisah Wizard of Oz"
"Ooh, iya!"
"Well, sepatumu itu mirip sekali dengan sepatu Dorothy. Jika dia mengetuk-ngetukkan sepatunya seperti ini tiga kali (dia mempraktekkan) Dorothy akan pergi kemana pun dia mau"
Saya mengangguk, merasakan antusias penuh.

Lalu saya pun mengumpulkan lembar jawaban ujian saya.

Esoknya, di pertemuan kelas terakhir, dia memutarkan kami salah satu scene film "Wizard of Oz" dan mengatakan pada kelas bahwa sepatu Dorothy yang merah delima itu mirip dengan sepatu yang saya pakai kemarin. "Wah, sayangnya Riana tidak memakainya hari ini..."

Sekarang sepatu merah itu sudah tidak bisa dipakai lagi. Sudah hilang entah dimana setelah rusak di beberapa bagian. Tapi cerita ini entah kenapa jadi salah satu cerita yang selalu saya ingat hingga sekarang setiap kali membaca Dorothy dan Wizard of Oz.


Love,
Sunshine

Sorry, Nd

Anyone can become angry. That is easy. But
to be angry with the right person, to the right
degree, at the right time, for the right purpose
and in the right way... that is not easy.
-- Aristotle.

Senin, 12 September 2011

Konser Akustik Jason Mraz yang Bikin Galau

Konser Akustik Jason Mraz dan Toca Rivera

Tadi ini, pas baru saja masuk kantor, buka laptop, online. 2 mentions langsung masuk di Echofon. Ada dua. Dari @ellawahab dan @supersyahrir. Dua-duanya mengabarkan tentang Konser Akustik Jason Mraz dan Toca Rivera yang akan diadakan 9 November nanti di Bali. Pas baca kabar beritanya disini , asli saya langsung galau, segalau-galaunya. Ndak fokus, bayangan ke Bali nonton dan liat aksi Jason Mraz dan partnernya, Toca, langsung muncul bertubi-tubi.

Asli, belum kelar galau skripsi, muncul lagi galau konser ini.

I'M A FAN OF JASON MRAZ, totally.

Pas di Tucson, saya memborong semua albumnya di Bestbuy. Hadiah ultah kemarin, saya dikasih kaos Jason Mraz warna putih dari teman saya, Syahrir. Kaos itu menjadi kaos kesayanganku sampai sekarang.

Semoga ada rejeki yaaa, Jason Mraz dan Toca. Saya bisa pergi nonton konser kalian. Kalau kali ini belum bisa, mungkin lain kali di tempat yang berbeda yaaa. Tapi saya akan tetap berusaha, kok. Masalahnya jarak Makassar-Bali itu jauh, mahal ongkos pula. Oke?


Love,
Sunshine

Surat Buat Habib



Dear Habib yang super ongol tapi baik hati,

Ini semacam surat elektronik karna ditulis pake laptop dan tuts keyboard, bukan kertas dan pulpen seperti surat lain. Tapi dikirim dengan pos biasa bukan email, terlampir dengan DVD berisi dokumentasi foto dan video kita pas di Tucson, Arizona, setahun yang lalu. As you wish, Sir. :)

Banyak sekaaaali, Bib, kenangan kita di Tucson. Foto dan video ini buktinya. Berbagai gaya, pose dan ekspresi sama teman-teman IELSP lain. Sekarang semua itu sudah seperti mimpi yang berkabut dalam kepalaku, tidak seterang foto-foto ini.

Ingat pas kita semua ke Grand Canyon? Kita baru seminggu di US dan saya masih belum begitu sehat setelah membawa sakit dari Indonesia. Saya ngotot dan bertekad untuk hiking keliling Grand Canyon. Firman melarang tapi kamu, Bib, kamu yang dorong saya dengan kata-kata, "Bisa, Dek. Bisa." Trus saya jawab,"Kalau saya pingsan di tengah jalan, seret saya saja, Bib". Dan ternyata saya mampu menurun dan mendaki Grand Canyon!! Walaupun kamu dengan susah payah menarik tanganku. Masih ingat tidak, Bib? Pasti kamu sudah lupa.

Dan petualangan sepeda kita! Makan pizza kita! Tersesat dan ended up with taking pictures when we were in Bisbee. Di pesawat pun, saat perjalanan pulang ke Indonesia, kita duduk sebelahan! Kenapa dulu nampaknya kita selalu berdua? Kemana mana selalu berdua? Ya pastilah mengundang cemburu buat pacarmu, Sad Pitz.

Pas di Tucson saya merasa jadi yang paling dimanja sedunia. Tidak kamu, tidak Yudi. Kalau saya belum makan dan Hera sedang tidak masak apa-apa, saya tinggal turun ke kamarmu, (kamu dan Yudi kamar nomor berapa lagi, Bib?), tinggal bilang, "Yuuud, lapar". Dan Yudi dengan lihai ala Chef Master akan mengarungi dapur untuk membuat wajahku tersenyum lagi dengan masakannya. Dan kamu, Bib? Cuma bisa temani saya makan. Yudi juga lah nanti yang akan mencuci piring.

I missed all of the things there, Bib. Rasanya seperduabelas hatiku ketinggalan di Tucson, Sahara Apartment. Semoga nanti, rejeki, nasib dan kesempatan bisa mempertemukan kita semua lagi di suatu tempat bersama-sama. Amin, ya Allah.


Sincerely,
Ri. :)

What's Your Flava. Nescafe Video Contest.

Inilah video-video karya teman-teman Calisto yang ikut Nescafe Video Contest, What's Your Flava. Please participate by watching, giving LIKE and spread them!
Enjoy!  

Nescafe, dibawa asik kemana saja....





Video karya @justrei dan @liebebanane






Video karya @supersyahrir



Video karya Ilham



Videoku. :)

Memory of "Aliguka"

Habis bongkar-bongkar album lama, nemu banyak sekali foto-foto yang bikin ketawa dan senyum lagi. Salah satunya pas produksi film Aliguka. Banyak sekali stok foto yang bikin, "Ya ampuuun, lamanya mi ini foto..."
Tidak terasa sudah hampir setahun lebih sejak proses produksi. Waktu itu bersyukur sekali bisa bekerjasama dengan sesama sineas berbakat dan hebat dari Makassar. Ini beberapa foto yang bisa saya upload.


Kak Iking, Bang Soni, Kak Adin dan Kak Armin. :)

Me as make up artist

ehem, bingung mau tulis mereka apa. Camera Department

make it two


foto yang dibawah: me with Kak Jamal dan Kak Iking