Senin, 22 Desember 2008

Welcoming me

Saya sangat menyukai sensasi aneh yang saya rasakan saat melewati gerbang Telkomas.

Seperti yang biasanya saya lakukan setelah turun dari angkutan mobil (pete-pete), saya akan menyebrang dengan hati-hati. Memicingkan dan menyipitkan mata menghindari asap dan debu dari pengguna kendaraan bermotor yang lewat tanpa permisi. Seperti sihir, saat saya memandang kendaraan-kendaraan yang melaju, mobil atau motor atau pete-pete lain akan melambatkan lajunya dan kesempatan itu saya ambil untuk kemudian menyeberang. Hingga ke pangkalan ojek.

Ojek di Telkomas mengambil penumpang sesuai antrian yang didapatkannya. Saya belum tahu teknisnya, tapi metode itu praktis ditaati oleh semua tukang ojek. Saya akan tahu siapapun ojek yang dapat giliran ambil penumpang dan sepersekian menit setelah itu, saya sudah akan berada di boncengan belakang. Jika saya mengenakan celana, saya akan duduk mengangkang sedangkan saya akan merapatkan kedua kaki ke bagian kiri motor jika saya mengenakan rok. Dan saya paling suka saat memakai celana.

Karena terasa nyaman. Seperti halnya jika saya duduk di bangku yang benar. Kedua, karena saya bebas melihat apapun yang melintas di kiri-kanan dan juga, langit yang menjulang di atas kepala saya.Inilah yang saya rasakan sepanjang satu kilometer dari gerbang hingga ke Telkomas.

Saat motor melaju dengan kecepatan tinggi, saya mulai mengangkat pandangan saya ke atas dan membiarkan sensasi aneh itu menerpa saya. Angin membuat jilbab saya ikut bergerak. Tapi tak ada perasaan yang dapat mengalahkan saat saya mendongak ke atas dan melihat langit sedang biru, dengan tumpukan-tumpukan awan diatasnya. Saya mulai meresapi keadaan ini; angin yang bertiup dan langit biru yang saya pandang, membuat diri saya seakan terbang. Saya tinggal mengangkat kedua tangan ke samping dan benar-benar akan sempurna. Belum lagi area di sekitar Telkomas itu masih berupa areal rerumputan dan tanah luas yang masih belum dibanguni. Membuat saya bisa memandang jauh di ujung sana barisan bukit-gunung (yang entah namanya apa). Saya suka udara di Telkomas. Belum tercemar oleh kendaraan dan selalu disterilkan oleh banyaknya rumput hijau. Keadaannya tidak hiruk-pikuk seperti di kota. Sepi tapi menenangkan. Mungkin inilah yang membuat Papi tidak ingin menjual rumah. Apapun alasannya. Rumah saya di Telkomas menjadi semacam suaka kami yang asri dan damai dan aman dan juga tentunya bebas dari banjir tahunan di Makassar.


NB:
Don't even think to try this too. I'm only do this if I'm in good mood (happy).

0 komentar:

Posting Komentar