Sabtu, 19 April 2008

Gadis Hujan

G A D I S H U J A N

Oleh: Riana D. Resky

Aku menyadari telah bertemu dengan gadis itu sebelumnya, pada saat dia menghampiriku di suatu pagi di perpustakaan universitas. Saat itu aku sedang berusaha menyerap ilmu paleoantropolog dari buku Richard LeakeyThe Origin of Humankind, ketika dia bertanya apakah aku dari jurusan Antropologi atau bukan.

“Bukan, aku jurusan komunikasi, spesialisasi jurnalistik…”

Kekecewaan melandanya. Aku berusaha menemukan petunjuk apa saja yang membuat raut wajahnya berubah seperti itu. Tapi dia belum memegang buku apapun di tangannya.

“Maaf, adakah yang bisa kubantu?” aku menawarkan diri.

Dia menggelengkan kepala. Rambutnya yang panjang ikut bergerak ke kanan kiri. Aku yang berjarak satu meter darinya bisa mencium aroma shampoo yang dia pakai. Seperti wangi cemara, tapi aku tak yakin apakah ada shampoo dengan aroma seperti itu.

Dia pergi, memperlihatkan punggungnya yang tertutupi sebagian oleh rambut panjang hitamnya. Aku memperhatikan langkah kakinya, kemudian langkahnya terhenti. Aku segera mengembalikan pandanganku sepenuhnya pada buku yang ada di depanku. Aku dapat merasakan dia kembali ke arahku.

“Maaf, memang ada sesuatu yang bisa kau lakukan…” gadis itu berkata lagi setelah berdiri di sampingku.

Aku memandang wajahnya lagi, dia memang gadis itu. Gadis yang saat itu menari-nari di bawah hujan. Dan aku menontonnya menari-nari dari jendela kamarku. Dia memang gadis itu.

“Aku memerlukan buku itu…” dia menunjuk buku yang sedang kubaca. Buku paleoantropolog.

“Oh...,” kini aku mengerti mengapa dia kecewa; ternyata buku yang dicarinya sedang dibaca orang lain.

“Tapi aku sedang membacanya… . Dan memang benar aku membacanya. Bukan untuk bahan referensi atau bahan kuliah, namun aku sekedar ingin membacanya. Mengetahui bagaimana asal-usul kita, manusia, bagiku merupakan sesuatu yang harus kita tahu secara pasti. Seperti kita berhak tahu kapan kita dilahirkan dan siapa orang tua kita. Kedua hal itu kita harus tahu secara pasti. Karena itu merupakan sejarah hidup kita.

“ Maukah kau memberiku giliran lebih dulu?”

Aku menimbang-nimbang. Buku ini memang hanya satu eksemplar. Dan termasuk buku Science Masters—seri buku tentang pencapaian mutakhir sains- dan karena itu aku makin tertarik dengan buku ini, tapi jika memang gadis itu lebih membutuhkannya, sebagai laki-laki yang baik, aku seharusnya memberikannya.

“Terima kasih….” Jawabnya, dia lalu berbalik meninggalkanku.

* * *

Sore ini hujan turun lagi. Membasahi dan memenuhi jalan-jalan raya dan setapak kecil dengan air. Aku tidak suka hujan; hujan membuat semua jadwalku tertunda. Hujan memberi alasan orang-orang untuk datang terlambat. Hujan membuat pakaian-pakaian yang baru tadi pagi kucuci dan kujemur dengan baik di teras depan rumah, basah lagi. Aku benci hujan sore ini.

Aku masuk ke dalam rumah dengan basah kuyup. Telapak tangan dan wajahku dingin dan basah. Bagaimana tidak? Aku mengendarai motor tanpa jas hujan. Aku lupa membawanya, terpaksa aku menembus hujan tanpa pelindung. Aku bisa saja berhenti di jalan untuk mencari shelter seperti orang lain. Tapi aku teringat pakaian-pakaianku yang akan kehujanan.

Dan perkiraanku tidak meleset. Ketika aku tiba, pakaianku sudah basah kuyup. Tak ada harapan lagi. Aku memandang langit, sungguh gelap berawan kelabu. Aku mengambil pakaian-pakaian itu dan membawanya masuk ke dalam rumah dan menjemurnya lagi satu persatu di tali jemuran belakang, dan masih merasa kedinginan.

Aku merebahkan punggungku di atas kasur. Sungguh nyaman. Aku telah membersihkan diri, mengganti pakaian kering dan membuat secangkir teh hangat, untuk mengurangi rasa dingin yang merayapiku sejak tadi. Aku teringat buku yang kupinjam dari perpustakaan minggu lalu. Setelah gadis hujan itu meminta buku paleoantropolog tentang manusia, akupun lalu meminjam salah satu buku karangan Rabindranath Tagore. Baru saja aku membuka pada halaman dua puluh, aku mendengar suara nyanyian dari jendela kamarku.

Aku menemukan sosok gadis yang sangat kukenal wajahnya, menari-nari di bawah hujan. Dia tidak bersedih, dia tidak sedang mabuk, tapi dia sangat gembira. Dia mengangkat tangannya ke langit, dan hujan menyambut tangannya yang mungil. Dia berputar-putar dan melompat-lompat seperti anak kecil yang baru melihat dan menikmati hujan. Aku tersihir pesonanya, seperti saat aku melihatnya beraksi untuk pertama kali di bawah hujan. Dia bagaikan peri hujan yang sedang menari. Aku memandangnya dari jendela kamarku, dan aku teringat salah satu puisi Rabindranath Tagore saat gadis itu dengan khidmat menyanyikan sebuah lagu sendu yang membekas di ingatan matiku.

Diam-diam berjalan engkau diredup gelap musim hujan di bulan Juli,

selaku malam, dengan langkah perlahan-lahan, sambil menjauhi orang yang mengintai.

Hari ini pagi menutupkan matanya,

dan tidak memperdulikan panggilan angin Timur yang keras.

Kabut putih membentang di atas langit senantiasa biru itu.

Dari padang tiada kedengaran nyanyi lagi, dan pintu semua rumah ditutupkan.

Hanya engkaulah penyanyi sunyi di jalan yang ditinggalkan manusia ini.

O, Kawanku tunggal! Kekasihku utama!

Di rumahku gapura senantiasa terbuka……

Janganlah dilewati seperti mimpi.

* * *

“Fandi Kurnia?”

Aku berbalik ke sumber suara yang menyebut namaku. Aku tercengang menatapnya. Gadis hujan sedang ada di depan mataku. Menyebut namaku dan mengharapkan jawabanku.

“Ya, aku Fandi Kurnia…”

Dia menyerahkan sebuah buku. Aku mengambil dan membaca judulnya. Buku itu. Buku yang mengingatkanku pada pertemuan awalku dengannya.

“Ini bukunya. Terima kasih kau mau memberikannya dulu padaku..”

Aku memperhatikan buku itu dengan seksama. Buku itu bukanlah buku yang sama dengan buku yang ada di perpustakaan. Sampulnya kelihatan masih baru walaupun disampul plastik. Ini jelas-jelas baru dibeli beberapa hari yang lalu. Aku bertanya padanya.

“Buku ini baru, kan?”

Dia tersenyum. Mengangguk.

“Aku membelinya kemarin dan sekarang buku itu milikmu”.jawabnya masih tersenyum.

“Mengapa?”

“Karena aku memberikannya padamu.”

“Mengapa kau memberikannya padaku? Bukankah kau membutuhkannya? Bukankah kau dari jurusan Antropologi? Seharusnya kau lebih membutuhkannya…,” Aku kembali menyodorkan buku itu ke tangannya. Dia menolak.

“Aku ingin kau mengetahui beberapa hal dalam buku ini, kau tahu kan? Tentang asal-usul manusia..” jelas gadis itu. Aku masih tidak tahu namanya. Dan darimana dia tahu namaku?

“Aku tahu buku ini tentang apa …” jawabku. Percakapan ini tidak maju-maju.

“Ayolah, ambil saja.” Dia memaksa.

Ada jeda yang lama. Kami tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Setelah sadar, buku itu telah ada dalam genggamanku dan gadis itu sudah menampakkan punggungnya lagi. Dia pergi. Gadis itu pergi, lalu kemudian hujan turun.

* * *

Beberapa hari selanjutnya, dan setiap kali aku melihat buku karya Richard Leakey, aku selalu mengingat gadis hujan itu. Sejak saat dia memberikan buku itu padaku, aku tak pernah lagi melihatnya menarikan tarian hujannya. Dan mengingat hal itu, membuat pikiranku sering tidak fokus. Kemanakah gerangan gadis hujanku? apakah yang dia lakukan kini? Sungguh, rindu itu membuat candu.

* * *

Harus kuakui kini, sepanjang hidupku selama aku mengenal gadis hujan itu, aku tak pernah lupa padanya. Lupa pada senyumannya, lupa pada tarian hujannya, lupa akan nyanyian sendunya, lupa akan kegembiraan yang terukir pada wajahnya, lupa akan lompatannya dan lupa akan pemberiannya. Setelah lulus dari universitas, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, meninggalkan kota ini, meninggalkan sahabat-sahabat, keluarga dan gadis hujanku. Aku tahu akan butuh waktu yang lama untuk melakukan hal yang terakhir itu. Karena akan ada hujan-hujan yang lain yang akan mengingatkanku padanya. Dulu aku berpikir, gadis itu hanya mimpi, dan aku dibuai karenanya. Suatu saat jika aku bertemu lagi dengannya, melihatnya menarikan tarian hujannya, aku akan mendatanginya dengan diam-diam. Aku akan mengikuti tariannya, menari bersamanya dalam hujan. Setelah hujan itu berakhir, aku akan berlari ke arahnya, mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit dan menanyakan namanya. Agar aku tahu aku tidak sedang bermimpi, dan gadis itu benar-benar ada. Bukan khayalan.

* * *

Vancouver mendung. Aku segera beres-beres untuk kembali ke apartemen. Aku memandangi hutan Redwood yang rimbun untuk kesekian kalinya dan bernapas lega. Sore itu Stanley Park tidak terlalu ramai, jadi aku dapat menyelesaikan beberapa tugas dalam setengah jam disana. Vancouver benar-benar kota yang indah di Kanada, aku betah sekolah disini. Hanya beberapa orang dari Indonesia di universitasku yang mengambil gelar master.

Untunglah, hujan baru turun setelah aku berada di apartemen. Di Vancouver hujan jarang turun. Apalagi di musim seperti ini. Setelah menaruh barang-barang yang tadi kubawa di atas meja, aku segera membuat secangkir teh, memutar CD Dave Koz, membuka jendela selebar mungkin dan menonton hujan turun langsung di pinggir jalan. Inilah yang kulakukan jika hujan turun, karena hanya ini yang bisa menemaniku di saat sepi. Aku bisa melihat orang-orang yang berjalan kaki memakai payung, melihat mobil-mobil berseliweran dan semua aktivitas orang-orang di sini sewaktu hujan turun. Namun, tiba-tiba, seperti saat itu, aku melihat sosok yang selama ini kurindukan, menari-nari di bawah hujan sambil bernyanyi. Aku tak mendengar apa yang dinyanyikannya. Tapi, dia benar-benar gadis itu. Gadis hujanku. Aku menampar pipiku sekedar ingin tahu apakah ini mimpi atau bukan. Aku melihat semua mata orang tertuju pada gadis yang sedang menari-nari dengan gaun putih berenda selututnya itu, bagaikan seorang peri hujan. Aku tidak sedang bermimpi, karena selain diriku, gadis itu membiarkan orang lain memandanginya, takjub. Tanpa berpikir panjang, aku segera keluar. Banyak hal yang ingin kutanyakan kepadanya.[]

“For my bestfriend ever, Ochank, a girl who really love rain”.


0 komentar:

Posting Komentar