Tampilkan postingan dengan label IELSP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IELSP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2011

Tucson to Remember

It's been almost two years. What was that? Yeah, it's been almost two years since I went to Tucson, United States, as grantee of IELSP Cohort 7. It was from 13 June until 9 August 2010. And it was fantastic experience I've ever had.

It's been almost two years and although the memories begin to fade away, but I can still smell the air and feel the sunshine. I still can remember how far I have to walk, if I missed the shuttle, from apartment to university.

For me, it's always Tucson to remember.

And here is: Tucson.

North Stone Ave





Sahara Apartment


Rabu, 14 September 2011

Sepatu Merah Delima



Saya ingat membeli sepatu itu di Swap Meet. Flat shoes warna merah yang simple. Begitu saya lihat saya langsung suka dan membelinya dengan $3.

Saya memakainya saat hari final test di CESL. Saat selesai ujian Writing, Vincent Scardino, guru saya, memperhatikan sepatu merah itu dan berkata saya seperti Dorothy.

"Kamu tahu Dorothy? Dia tokoh dalam kisah Wizard of Oz"
"Ooh, iya!"
"Well, sepatumu itu mirip sekali dengan sepatu Dorothy. Jika dia mengetuk-ngetukkan sepatunya seperti ini tiga kali (dia mempraktekkan) Dorothy akan pergi kemana pun dia mau"
Saya mengangguk, merasakan antusias penuh.

Lalu saya pun mengumpulkan lembar jawaban ujian saya.

Esoknya, di pertemuan kelas terakhir, dia memutarkan kami salah satu scene film "Wizard of Oz" dan mengatakan pada kelas bahwa sepatu Dorothy yang merah delima itu mirip dengan sepatu yang saya pakai kemarin. "Wah, sayangnya Riana tidak memakainya hari ini..."

Sekarang sepatu merah itu sudah tidak bisa dipakai lagi. Sudah hilang entah dimana setelah rusak di beberapa bagian. Tapi cerita ini entah kenapa jadi salah satu cerita yang selalu saya ingat hingga sekarang setiap kali membaca Dorothy dan Wizard of Oz.


Love,
Sunshine

Jumat, 25 Februari 2011

Surat buat Wiwid

Dear Wiwid,

Hari ini bukan ulangtahun mu atau apapun. Hari ini saya hanya sedang mengingat dan rindu padamu, teman. Jadi tak apa kan kalau saya menulis beberapa baris buatmu?

Kita dipertemukan pertama kali oleh nasib baik kita di Jakarta. Di Wisma PKBI-tempat kita Pre-Departure Orientation April, 2010 lalu. Kita masih sama-sama asing dan tidak mengenal satu sama lain. Saya hanya mengetahui beberapa tentangmu dari profil Facebook mu.

Kita berdua dan 18 kawan 'grantee IELSP for Arizona' lainnya lalu menghabiskan empat hari bersama-sama. Foto, wawancara VISA hingga PDO di Hotel Acacia. Kamu tidak menginap di wisma untuk beberapa alasan, sehingga kita berdua masih tetap merasa tidak begitu dekat.

Hingga kita bertemu kembali di Juni 2010 dan mengarungi mimpi di Tucson, US, selama delapan minggu bersama kawan-kawan lainnya.

Kamu baik hati, penyayang, luar biasa cerdas, vokal, kadang tidak tahu malu, tidak jaim dan selalu tampak manis dengan dress yang ramai dan colorful. Kamu juga gampang tersentuh dengan banyak hal. Saya ingat saat kita bertiga dengan Yeyen menghabiskan waktu di kamar kalian, 3210, mencurahkan pikiran dan perasaan kesal kita pada Sakti. Saya masih ingat saat kau membeberkan pengetahuanmu tentang Gaza yang membuatku seperti orang hutan yang tak tahu apapun tentang itu. Saya masih ingat saat perjalanan kita ke Grand Canyon dan kau bercerita tentang keluargamu di Bekasi dan kau menangis saat itu, ingat kan?

Saya juga masih ingat saat kita berdua berjalan menuju Sahara Apartment di bawah terik matahari sore Tucson yang luarbiasa membakar kepala dan kau begitu yakin jalan yang kita lewati itu adalah rute yang benar. Saya ingat, Wid, makanan-makanan yang kau masak dengan Yeyen, dan saya tinggal datang membawa diri dan makan, sepiring kita bertiga.

Kau, Yeyen, Yudi, Habib dan Hera lah yang membuat Tucson itu layak dikenang sampai sekarang.

And now, you are in Sydney now, together with your husband, Samuel Howat. Seorang laki-laki muslim kebangsaan Australia yang dulunya kita kenal sebagai karyawan Sahara. Sam lah yang dulu sering kita temui untuk meminjam setrikaan dan orang yang sering kau temui untuk mengambil kiriman paketmu-apapun itu. Kau sering berangan-angan untuk punya suami Sam. Dan voila! Lihatlah cara kerja Tuhan mempermainkan nasib dan mimpi kita, Wid.


Semoga kau bahagia, Wid. I hope this bound will never break. I miss you, my friend. :)

Love,
Sunshine


Bersama Wiwid di Los Angeles International Airport, 2010.

Minggu, 30 Januari 2011

IELSP | Volunteer Sub Kitchen

Jadi volunteer di Sub Kitchen

Tucson, 18 Juli 2010

Siang itu, seperti siang yang sama di Tucson, panas dan terang. Amanda dan Jamie sudah menunggu kami di depan apartemen Sahara dengan shuttle CESL. Hari itu, kami menjadi volunteer di Sub Kitchen dan mereka berdualah yang akan mengantar kami menuju Speedway.

Sampai disana, saya menemukan diri saya bersama 18 teman se-grup berada di sebuah lapangan yang cukup luas. Sudah ada beberapa tenda terpasang yang dipakai orang-orang berteduh, duduk dan bekerja. Amanda dan Jamie cukup menurunkan kami disana dan mereka akan menjemput kami dua jam kemudian.

Kemudian kami mendaftarkan diri sebagai volunteer; membuat barisan lalu satu persatu dari kami dicatat namanya dan diberi nametag yang ditempel di kaos dekat dada--sebagai pengenal.

Terlalu panas. Padahal baru jam setengah tiga. Saat summer, puncak panas di Tucson sekitar jam 4. Maka saya meminjam topi milik Sakti dan memakai kacamata karena silaunya tak tertahankan.

Tugas pertama kami yaitu membungkus sendok dengan tisu. Kami diberi sarung tangan plastik untuk menjaga sendok yang dibungkus itu tetap bersih dari kuman. Karena kami banyak, tentu saja, pekerjaan itu segera selesai.

Saya dan Firman lipat-lipat tisu

Kemudian kami pun memilih pekerjaan apa yang hendak kami bantu. Ada yang membantu mengatur semua makanan ke meja, ada yang membantu mengangkat ini itu dan sebagainya. Makin lama, makin banyak orang yang datang.

Kursi-kursi mulai disusun beberapa baris. Stand-stand makanan juga sudah mulai mengatur makanannya ke dalam beberapa boks dan tempat. Stand pakaian dan stand sembako juga sudah siap. Saya dengan teman-teman lain, berjaga di stand sembako. Sebagian lagi di stand makanan.

Saat itu saya dan Wiwid saking hausnya, mencari toserba yang menjual Coke atau Pepsi. Untunglah, ada toserba yang lumayan besar tepat di samping lapangan itu. Wiwid membeli Coke botol sedang. Saat kami kembali, antrian sudah terbentuk.

Betapa tercengangnya saya melihat homeless yang mengantri itu. Mereka memang agak kumal dan tidak terurus tapi mereka semua sehat. Sub Kitchen ini merupakan tempat dimana mereka bisa memperoleh apapun yang mereka butuhkan dalam seminggu. Apapun. Mulai dari makanan, obat-obatan, susu, keju, roti, buah, yogurt, makanan siap saji hingga pakaian. Mereka bebas memilih dan mengambil apapun yang mereka butuhkan. Dalam jumlah berapapun. Dipersilahkan. Program ini dijalankan oleh The Giving Tree yang bertujuan menolong para homeless, anak-anak dan keluarga yang membutuhkan di Tucson, Arizona.

Hal yang mencengangkan saya adalah betapa mereka tetap menjaga budaya antri dan menunggu giliran. Tidak berdesak-desakan, mendorong, apalagi berteriak kasar. Maksud saya, saya pernah mendengar kasus pembagian beras dan BLT yang berujung maut di Indonesia. Dan hal ini walaupun tujuannya sama, namun praktiknya jauh berbeda. Padahal kita sama-sama manusia.

Satu persatu, dengan ramah, saya bertanya pada siapapun yang telah sampai di meja saya. "Do you need milk? or yogurt?" dan mereka akan menjawab, "Yes, give me two.." dan saya akan memberinya dua kaleng susu atau yogurt. Atau, "How about water? or grape tomato?" Jika mereka butuh, mereka bilang butuh dan jika tidak, mereka menolak. Sesederhana itu. Jika mereka lupa mengambil sesuatu dan gilirannya sudah lewat, mereka mengantri kembali dari awal.

Banyak pula yang penasaran akan keberadaan kita disana. Siapa kami? Apa yang kami lakukan? Dari mana kami berasal? Beberapa dari kami pun menjelaskan. Kami student di University of Arizona dan kami dapat beasiswa kesana untuk improve English. Kami datang jauh dari Indonesia. Dan mereka sangat appreciate for our help dan juga bangga pada kami--UofA punya nama yang sangat baik disana.

Dua jam yang tidak terasa, Amanda dan Jamie sudah datang dengan shuttle CESL. Siap mengantar kami kembali ke Sahara apartment.


*one of the memorable moment happened in Tucson*

Jumat, 03 Desember 2010

Indonesia English Languange Study Program Cohort 9 - F.A.Q

“Frequently Asked Questions”

1. Apakah IELSP itu?

Indonesia English Language Study Program adalah program beasiswa yang menawarkan kesempatan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di universitas-universitas di Amerika Serikat selama 8 (delapan) minggu.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris peserta, khususnya dalam English for Academic Purposes. Selain itu, peserta akan memiliki kesempatan untuk mempelajari secara langsung kebudayaan dan masyarakat Amerika Serikat karena peserta akan mengikuti program immersion dalam kelas internasional dimana mereka akan bergabung dengan peserta lain dari berbagai bangsa dan negara. Dalam program ini, peserta tidak hanya akan belajar Bahasa Inggris, namun juga akan mengikuti berbagai program kultural yang akan memberikan pengalaman yang sangat berharga.

2. Siapa yang berhak mendaftar?

IELSP terbuka untuk mereka yang berumur 19 – 24 tahun dan masih aktif sebagai mahasiswa S1 minimal tahun ketiga (semester 5 keatas) di perguruan tinggi mana pun di Indonesia dari berbagai jurusan. Pendaftar juga harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL® baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP minimal 450. Peserta terpilih juga harus bersedia untuk meninggalkan kuliah di tanah air selama 8 minggu karena akan mengikuti kursus intensif di Amerika Serikat selama waktu tersebut.

3. Apa saja persyaratannya?


- berumur 19 – 24 tahun, dan
- aktif sebagai mahasiswa S1 minimal tahun ketiga (semester 5 keatas) di perguruan tinggi manapun di seluruh Indonesia (BELUM DINYATAKAN LULUS/MENEMPUH SIDANG KELULUSAN)
- memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL® baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP minimal 450 (bukan Prediction Test)
- memiliki prestasi akademik yang baik
- aktif dalam berbagai kegiatan atau organisasi
- memiliki komitmen penuh untuk segera kembali ke tanah air segera setelah program ini selesai
- tidak memiliki pengalaman belajar di Amerika Serikat atau negara lain selain Indonesia
- memiliki sifat-sifat: aktif, mandiri, bertanggung jawab, percaya diri dan berpikiran luas.
- Menguasai komputer

4. Bagaimana cara mendaftar?

Untuk mendaftar, dapat mengambil formulir di kantor Indonesian International Education Foundation (IIEF), Menara Imperium Lt. 28 Suite B, Jl. HR Rasuna Said Kav 1, Jakarta 12980. Formulir juga dapat di-download dari website IIEF di www.iief.or.id. Formulir boleh di fotokopi.

5. Dokumen apa saja yang harus disertakan dalam formulir pendaftaran?

Pendaftar harus melampirkan dokumen-dokumen berikut dalam formulir pendaftaran yang telah dilengkapi:

- 1 (satu) buah pasfoto berwarna ukuran 4×6
- 1 (satu) buah fotokopi Kartu Identitas (KTP)
- 1 (satu) buah surat keterangan resmi dari universitas bahwa yang bersangkutan masih aktif terdaftar di universitas tersebut
- transkrip nilai dari semester 1
- 1 (satu) buah fotokopi Ijazah SMA (tidak perlu diterjemahkan)
- 1 (satu) buah fotokopi Daftar Nilai Ujian SMA (tidak perlu diterjemahkan)
- 1 (satu) buah Surat Referensi dari dosen di universitas – menggunakan form khusus yang terlampir dalam Formulir Pendaftaran. Form Referensi yang telah dilengkapi harap dimasukkan kedalam amplop tertutup dan disertakan bersama Formulir Pendaftaran yang telah dilengkapi. Surat Referensi dari Dosen Matakuliah Bahasa Inggris lebih baik.
- 1 (satu) buah fotokopi nilai TOEFL® (International TOEFL® atau TOEFL® ITP)

6. Apakah yang dimaksud dengan TOEFL® ITP?


Institutional TOEFL® adalah paper-based TOEFL® yang berskala institusional atau nasional yang biasanya banyak dipergunakan untuk melamar pekerjaan atau melamar beasiswa di dalam negeri. Materi yang di test terdiri dari: Listening, Structure dan Reading.

Bagaimana jika hasil TOEFL® ITP belum diumumkan ketika mengirimkan aplikasi?

Tes TOEFL® ITP harus dilakukan sebelum tanggal dateline tetapi hasil TOEFL® ITP dapat disertakan setelah tanggal dateline. Kemudian pada aplikasi di halaman 4, diisi dengan pilihan bahwa masih menunggu hasil TOEFL® ITP (I am currently still waiting for my TOEFL® score) dan dicantumkan tanggal, bulan dan tahun ujian serta test center tempat ujian TOEFL® ITP.

Dimana sajakah tempat ujian TOEFL® ITP?

Untuk informasi mengenai tempat ujian TOEFL® ITP dapat menghubungi Indonesian International Education Foundation (IIEF) di no telepon (021)-8317330 atau email: testing@iief.or.id

7. Apakah fotocopy nilai transkrip dan surat aktif kuliah harus di terjemahkan dalam bahasa Inggris?

Fotocopy nilai transkrip wajib dilegalisir tetapi tidak harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Surat aktif kuliah tidak harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tetapi disertai cap dan tanda tangan dari pihak universitas.

8. Formulir dapat diisi dengan tulisan tangan atau diketik?

Pengisian formulir aplikasi sebaiknya diketik tetapi diperbolehkan diisi dengan tulisan tangan.

9. Formulir ditujukan ke mana?

Formulir yang telah dilengkapi dan disertai oleh dokumen persyaratan dialamatkan ke:

IELSP
Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium Lt. 28 Suite B
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Kuningan
Jakarta 12980
(harap menuliskan IELSP di sudut kiri atas amplop)

10. Kapan batas waktu pendaftaran?

Untuk Gelombang IX, formulir yang telah dilengkapi dan disertai oleh dokumen persyaratan harus diterima olehIIEF paling lambat tanggal 10 Januari 2011.

11. Apakah saya harus sudah memiliki paspor dan visa Amerika Serikat sebelum mendaftar?

Seseorang tidak perlu sudah memiliki paspor dan visa Amerika Serikat untuk bisa mendaftar. Jika terpilih, peserta akan diberikan waktu untuk mengurus paspor. Visa Amerika Serikat akan diurus oleh IIEF sebelum keberangkatan. Perhatian: Penerima beasiswa dijadualkan untuk berangkat ke Amerika Serikat pada bulan Juni dan Oktober 2011 (catatan: keputusan hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat).

12. Apakah ada biaya tertentu yang harus saya bayar dalam program beasiswa ini?

Program ini merupakan beasiswa penuh, dan peserta tidak dipungut biaya apapun. Penerima beasiswa akan ditanggung seluruh biaya kecuali biaya pembuatan paspor.

13. Kemana saya harus bertanya untuk mendapatkan informasi?

Untuk informasi dapat menghubungi:

Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium Lt. 28 Suite B
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Kuningan Jakarta 12980
Telp: 021 – 831 7330,Fax: 021 – 831 7331 (pada jam kerja)
Email: scholarship@iief.or.id

Indonesia English Languange Study Program Cohort 9


Rabu, 01 Desember 2010

THE AIRPORTS

Salah satu hal yang paling saya tunggu-tunggu saat mengetahui saya akan ke Amerika adalah transit ke bandara di beberapa negara. Awalnya saya menyangka rute perjalananku seperti ini :
Jakarta-Tokyo-San Fransisco-Tucson.
ternyata, baru saat berada di Cengkareng, rutenya tidak seperti itu, tapi:
Jakarta-Tokyo-Los Angeles-Tucson. [berangkat ke Amerika]
Tucson-Los Angeles-Tokyo-Singapore-Jakarta [pulang ke Indonesia]

Wah, ternyata saya akan transit di Los Angeles, Tokyo dan Singapore! senang bukan kepalang. Unbelieveable.

Ini beberapa foto-foto dari AIRPORTS yang saya singgahi:


with Hera, at Cengkareng, Penerbangan International, Jakarta, Indonesia.


with Agus, my friend of IELSP, at Narita International Airport, Tokyo, Japan.


in LAX, Los Angeles International Airport, LA, USA.


Finally, arrived safely in Tucson International Airport, Arizona, USA


In front of Skytrain, at Changi International Airport, Singapore [back to Indonesia]


with Yeyen. "This is Changi Int'l Airport!! the biggest airport in the world!!"

Well, sekali lagi saya mau bilang, thanks IIE, IIEF, IELSP for making this all happened to me. Thank God.

LAX part II

Los Angeles, Department of Homeland Security. US Customs and Border Protection, LAX, 13 June 2010.

.....
Tapi sayang sekali, loketnya sedang kosong saat giliranku tiba. Mau tidak mau, saya pun menuju loketnya.

Di papan nama pada seragamnya, tertulis Ly. Saya meletakkan semua dokumen di atas mejanya. Lalu dia bertanya padaku seperti ini :

"So, why you coming to US today?"
"I want to study English in University of Arizona.."
"University of Arizona?"
"Yes.."
"Just English?"
"Yes.."


Dia lalu membuka J-1 ku, mencap sana sini, tanda tangan disana sini, memintaku fingerprint, foto sebentar, lalu bertanya lagi padaku setelah melihat foto Visa ku,
"Oooh...you look like still a baby.."
Saya tersenyum. Oh Tuhan, memangnya saya kelihatan seperti anak SD ya?
"What you want to be when you grow up?"
Saya tidak tahu dia berkata apa.
"Excuse me?"
Dia mengulang pertanyaannya. Saya masih tidak mengerti.
Baru kemudian selama beberapa detik diam, saya paham dan menjawab, "Oooh, I want to be a journalist.." Nah kan, pertanyaan ini kan cuma untuk anak SD!
"Journalist? Great!"
Kemudian dia mengembalikan semua dokumenku dan berkata, "Welcome to United States!"
And I replied, "Thank you..."

Saya sadar saya yang paling awal selesai diantara teman-teman lain. Saya menunggu mereka di sudut ruangan saat Yudi, dibawa ke Secondary Inspection oleh seorang petugas yang melihatku dan berkata, "Hey, this is your friend, she's good..she's good.."*

Love,
Sunshine



*apa coba maksudnya bilang begitu?

Minggu, 21 November 2010

LAX

Los Angeles, 13 Juni 2010

Disinilah entry point kami masuk United States. Bersembilan belas, ditemani Mba Fenty, chaperone kami dari Jakarta hingga Tucson.


Sebelum turun dari United Airlines, pramugari pesawat menginformasikan ke seluruh penumpang untuk menunjukkan passport di halaman foto saat masuk di gate.

Saat itu saya berada di Los Angeles International Airport, LAX.

Kami sudah disambut oleh petugas bandara yang berseragam biru gelap. Tidak ada senyum. Mereka bertampang serius memeriksa dan mengamati. Saya gugup luarbiasa. Disini, kami benar-benar harus jaga sikap. Tidak boleh bertingkah macam-macam, apalagi mau sekedar berfoto, it's a BIG NO.

Kami masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar dengan meja-meja petugas imigrasi berderetan. Antrian panjang berbentuk ular. Kami, bersembilan belas mengantri paling belakang. Saya mencoba relax dengan mengamati ruangan itu. Ada beberapa televisi yang menayangkan tayangan yang sama berulang-ulang, tentang Amerika.

Antrian maju cukup cepat. Saya menyiapkan passport,J-1, kartu imigrasi dan tiket.

Diantara petugas imigrasi, ada seorang petugas yang menarik perhatian saya. Laki-laki berumur paruh baya, berbadan besar yang wajahnya jahat dan berkata keras. Sepertinya dia keturunan Cina. Dalam hati saya berkata saya tidak mau diperiksa di loketnya. Saya mau petugas lain.

Tapi sayang sekali, loketnya sedang kosong saat giliranku tiba. Mau tidak mau, saya pun menuju loketnya.

Saya paling duluan selesai dari bagian imigrasi. Teman-teman lain masih diperiksa, semua laki-laki masuk Secondary Inspection.

Dari imigrasi, lalu kami berjalan cukup jauh menuju baggage, yang bentuknya seperti lingkaran berjalan. Mengambil koper teman-teman lain yang masih belum keluar. Saya mengumpulkan koperku dan menaruhnya di kereta dorong. Teman-teman yang sudah tiba, mengikutiku.

Selanjutnya, kami ke bagian Customs, untuk melaporkan barang bawaan apa saja yang kami bawa. Koper saya bersih. Saya lolos dengan mudah dan cepat.

Kemudian, kami berjalan lagi, dan memasukkan kembali koper kami ke bagasi, karena harus melanjutkan perjalanan ke Tucson.

Saya mengira, pemeriksaan ini itu sudah selesai....

Kami, setelah lengkap 19, keluar bandara. setelah berfoto di depan bandara, kami berjalan lagi cukup jauh. saya menghirup udara Los Angeles. saya berjalan dan menapak di tanahnya. melihat mobil-mobil dan jalan rayanya. Sungguh, saat menulis ini, saya masih merasa tidak percaya.

kami harus segera check in untuk penerbangan selanjutnya. kami harus melewati lagi security section di lantai atas. disini; tiket dan passport diperiksa. laptop dikeluarkan. sepatu dicopot. semua bawaan ditaruh di beberapa kotak yang akan melewati scanning.

saya diminta menunggu di sebuah sudut oleh petugas laki-laki. selanjutnya, seorang petugas perempuan berkulit hitam dan berbadan besar, memeriksa saya seluruh badan. cepat, langsung dan terasa tidak nyaman.

setelah selesai diperiksa, saya membereskan semua barang-barang dari kotak-kotak scan. memasukkan laptop ke ransel, memakai sepatu dan...selesai.

kami harus menunggu kira-kira tujuh jam di LAX ini sampai penerbangan selanjutnya ke Tucson.


Love,
Sunshine

Senin, 26 Juli 2010

IELSP: My Best Experience Along My Life





Experience is a great teacher, John Legend said. We live, we feel and we learn something every moment in our life. Experience is one thing you can't get for nothing. It’s priceless. I believe everyone has their own happenings, feelings and stories along their way of life. Some are dreams, some are passion and we give a hard trying to get them. Dreams, life, passion, stories and even ourselves are the product of all our experience. That’s what I thought after through (almost) eight weeks in Tucson, Arizona with my twenty friends from Indonesia, since I got scholarship of IELSP this year.
Living in Tucson need a hard trying. It took two weeks for me to adjust and make sure of myself that “it’s not in Indonesia”. I have to take care of myself instead of my parents used to. I have my own room apartment shared with my friend, Hera from West Borneo, Indonesia. She was three years older than me, good chef and nice roommate. I was Bugisian and she was Javanese. I realized that, the fact that I’m living in a country that has a broad cultures and different people came here for many purposes, my first exchange culture happened in my own room.
The key is tolerance. I was reckless, moody and have a bad habit : procrastination. After (almost) eight weeks living in here with my twenty friends from Indonesia and CESL’s friends and teachers, I feel more understand and realized that tolerance is a difficult to learn. We have to think instead of just follow our feeling; think that we are all different, that we couldn’t hope another people do what we want them to do for us. I was reckless, moody and did procrastination but now I have to change, because I have to tolerant with my tidy discipline roommate, because I realized that I was shared my life with her. It started with her then others.
My first impression when I arrived in Tucson is the people was very friendly. Everytime I meet with someone new, they greet me like, “Hello, how’re you?” or just “Hello..!” and I replied with “Good, how’re you?” and they answered, “Good..”. That’s one thing. When I want to go somewhere by Suntran and I don’t know how to get there, I asked people and suprisingly, they want to help by showed and explained the way on map. English is everywhere here. Two months here, English was just like Bahasa to me. My first class in CESL, I got surprised too because I catched everything teacher said although there are some words I didn’t know the meaning.
This scholarship have showed me the other side of the world that made me really ‘see’ diversity in this world. In this young age, I have been so lucky for getting such a great opportunity like this. When I really want to study and improve my English, IELSP come and take me to an appropriate place like Center of English As a Second Languange (CESL) in Tucson, Arizona, US. This program provided me a really comfortable accomodation, nice atmosphere for study with many places to visit on weekend.
From pre-departure orientation in Jakarta last April, we given many informations about our departure, visa interview and chance to see our alumni for each representative in university. There is person who take care of us from the beginning until we arrive in our destination. I couldn’t hope much more, for me it’s more than enough.
This is my unforgetable experience and my best journey along my life. There are so many culture lesson I’ve got that will really helpful in my CV for seeking a good job...and get a masters degree scholarship later. I really want to continue my study in Europe, someday. Like I always think, knowledge making us addiction. Once we get enjoy of them, we will hard to stop it. I hope I will never quit study; academicly and get life lessons. []

Rabu, 21 Juli 2010

Get Well Soon, Bib.




Oh Gosh,

Habib drop. Tadi malam sekitar pukul 01.30 am dia pingsan di kamarnya. Semua teman-teman yang masih belum tidur datang melihat, termasuk saya. Saat datang ke kamarnya, dia setengah mati menahan sakit di perut, kaki nya mengeras, dingin. Saya, Maria, dan Yeyen memeganginya sambil memberi kata-kata "sabar, Bib".

Saya khawatir sekali. Yudi dan Sakti memanggil taksi. Setelah 15 menit, taksinya datang. Habib digotong keluar kamar menuju gerbang apartemen. Saya lari mengambil sandal dan jaket kesayangan sahabatku itu, entahlah, saya ingin ada sesuatu yang menguatkan dia kemana-mana.

Supirnya menolak mengantar ke rumah sakit. Alih-alih, dia menghubungi 911 dan menghabiskan hampir lima belas menit lagi bicara dengan entah siapa 911 itu. Habib sudah di dalam taksi, menahan sakit luar biasa, dan masih ditanya, "Is he still breathing?". Amerika benar-benar payah. Sumpah, payah sekali.

Lalu dari kejauhan, sirene alarm ambulance berbunyi. Mobil besar mengangkut tim medis yang berpakaian seragam dan membawa peralatan entah apa. Mereka lalu mengerubungi Habib yang masih di dalam taksi, memeriksa dan melemparkan pada kami pertanyaan-pertanyaan. Beberapa menit kemudian, mereka memberitahu bahwa Habib akan dibawa ke UMC-University Medical Centre, dekat Speedway.

Ika yang ikut di mobil ambulance. Saya, Wiwid, Yudi, Sakti dan Firman mengikuti dengan taksi dari belakang.

Sampai di UMC, saya melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 am. Kami diminta menunggu di lobi.

Lima belas menit kemudian, petugas sosial, Melissa, datang dan mencari Yudi. Katanya Habib panggil namanya terus. Melissa lalu bertanya padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, kira-kira apa penyebabnya. Yudi menjawab dan menceritakan detail nya. Melissa mengerti dan berkata kami tidak usah khawatir, Habib sedang diurus dokter.

Kami menunggu hampir dua jam lebih di lobi yang dinginnya amit-amit. Kami berusaha untuk terlelap beberapa menit. Pukul 04.30 am, perawat datang dan membolehkan kami masuk melihat Habib. Firman dan Sakti giliran pertama. Dua puluh menit kemudian mereka kembali, lalu Yudi dan Ika masuk. Tiga puluh menit kemudian, mereka kembali. Wiwid masuk lebih dulu, lima menit kemudian saya menyusul.

Ruangan emergency tempat Habib dirawat penuh dengan alat-alat medis yang hanya saya lihat di film-film Hollywood. Komputer ada tiga tersebar di sudut-sudut ruangan. Ada rak besar penuh dengan map-map dan pakaian operasi. Cahaya nya redup. Ada gorden berwarna krem yang menjadi pintu. Wiwid sudah di dalam, kedengarannya menasehati Habib. Saya tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya.

Habib di infus. Badannya penuh stiker yang ada kabelnya. Di telunjuk tangan kanannya di grip dengan entah apa yang ujungnya berwarna merah. Dia terbaring lemah dan tidak bisa banyak bicara.

Wiwid dan saya berusaha membuatnya nyaman. Kami bahkan membicarakan tentang biaya perawatan disana. Berapa harga tiap stiker yang ada ditempel di badannya. Berapa harga infusnya, berapa biaya dokter, berapa biaya suntik, dsb. Alhamdulillah, Habib tertawa dan membuat saya berpikir, dia sudah tidak apa-apa.

Pukul 06.20 am, setelah memutuskan Ika lah yang menjaga Habib di UMC, kami pulang ke apartment. Yudi harus ke kampus. Saya dan Wiwid memutuskan hari ini tidak ke kampus. Kami ingin istirahat saja di kamar.

Hari ini, Tucson berbeda. Itu saja. Mungkin bukan Tucson yang berbeda. Mungkin Tucson masih sama. Pagi nya sama. Saya saja yang memandang berbeda.

Habib Rahman, cepat sembuh ya..


Love,
Sunshine


Sabtu, 17 Juli 2010

Tucson, 07.17.10

At Sahara Apartment
3215 room



take a picture with Maria, friend from Nicaragua and Aziz.
Hari ini Sabtu. Tadi pagi bangun jam 9. Subuh terlewati begitu saja [lagi-lagi saya telat bangun]. Setelah benar-benar bangun, saya berusaha untuk mengingat apa rencana hari ini. Ooh, pukul sebelas ada FREE Saturday Class di CESL lalu pukul 5 sore, mau ke Desert Museum. I think it will be great.
Saya hanya tidak mengingat akan berjalan kaki ke CESL.

Sebenarnya dari Sahara ke CESL-Univ. Arizona- cukup dekat. Takes time about 30 minutes. Di perjalanan pasti tidak akan terasa karna bisa liat rumah-rumah unik dan cafe-cafe yang nyaman, guys. Apa yang menjadi kendala dan keluhan terberat adalah.....terik matahari Tucson yang begitu sangat menyiksa. Kalau kalian sering mengeluh betapa panasnya Makassar,..Tucson lebih dibanding itu. Serius. Serius beribu-ribu kali. Kalau ndak percaya, kesini saja.

Jadi, dua puluh menit [lagi-lagi telat] sebelum jam 11, saya, Wiwid, Yudi, Rohman dan Yeyen berjalan menuju CESL. Kami memang anak Indonesia yang rajin belajar dan sekolah. Kami bisa saja tidur-tiduran di kamar yang nyaman dan ber-AC, alih-alih menempuh perjalanan seperti itu. Kami hanya terus berjalan sampai gerbang Univ. Arizona nampak. Senangnya bukan main.

Di CESL, dalam 3 minggu ini, setiap hari Sabtu, ada Free Saturday Class. Jadi ada semacam latihan mengajar untuk guru-guru baru. Nah, karna mereka mau latihan mengajar, maka kami lah yang jadi muridnya. Bukan cuma Indonesian saja, kok. Semua murid CESL, if they want, they may come. Kelihatannya, semua yang datang itu adalah mereka yang berburu poin, berhubung karna beberapa guru menjanjikan extra point bagi murid yang datang. Saya salah satunya.

FSC usai pukul 2 PM. Masih ada sekitar dua setengah jam lagi sebelum ke Desert Museum. Saya dan Wiwid akhirnya menjalani jalanan yang layaknya oven itu, menuju apartment kami yang nyaman, Sahara.

Lalu pukul 4.40 PM, saya, Yudi, Maria, Habib, Aziz dan Fahrin berjalan kembali ke CESL. Alhamdulillah, mendung. Bulan ini, Tucson have a monsoon. Perjalanan, hanya meletihkan kaki. Tanpa sengatan perih di kulit karna panas. Kami ber-4 tanpa Yudi dan Aziz lebih beruntung lagi karna ada trem yang menuju kampus. So, kami menumpang trem dengan $1.


turun dari trem, foto dulu...

And then, sampailah kami di depan CESL. Saya cukup senang karna Steve ikut rombongan kami ke Desert Museum juga. He's just a nice teacher.

waiting in front of CESL, ready to go to museum!

Menaiki 2 van ke Desert Museum, perjalanan sekitar 30 menit. Pemandangannya such an amazing. Mountains and saguaro everywhere...

First experience always be the best.


Dan rasanya untuk menggambarkan tentang Desert Museum, cuma bisa dengan foto-foto. Words aren't enough. Cuma bisa bilang, "beautiful...beautiful"


Love,
Sunshine

Senin, 14 Juni 2010

How are You? Email to Tya.

Dear Tya,

I've been from Fry's, shopping needs for a weeks. Its weird you know look rice again. Even it's been just three days I left Indonesia, I missed our main food.

So...we've already seen University of Arizona and CESL. It was very hot and dry in here. Tadi pagi sekitar jam 11 setelah breakfast, kita ke Chase Bank. Bikin rekening dan ATM disitu. Hampirka ndabisa bikin karna diminta KTP ku dan sa lupa bawa dompet dan KTP ku ada di dompet. Untungnya ada fotokopian nya di map dokumen IELSP ku. Jadi, untunglah bisa diterima.

Oh iya, nama guard dari IIE New York, Chris Cassucio. He was really cute, Tya! Andaikan bisa foto sama-sama dia sebelum balik ki ke NYC. Trus guard dari CESL namanya Megan Goold. She was beautiful either. Two people inilah yang jemput kita di Bandara Tucson kemarin dan mengurus kita sampai hari ini disini.

Jadi, setelah dari Bank Chase, ke Islamic Centre Tucson ki sebentar buat sholat Dhuhur. Ada teman namanya Sheeren dari Iran , Amiika kalo nda salah namanya dari Saudi Arabia. Trus ada juga dari Libya tapi saya lupa namanya. We did nice conversation with them.

Dari Islamic Centre, kita kembali ke Chase Bank lagi untuk tunggu teman-teman yang belum selesai. Dari Chase Bank baru kita going back to CESL and did placement test there. We did grammar, listening and writing test. Salah strategi ka. Mestinya salah-salah saya jawab supaya nda tinggi level ku..maumi diapa, saya dapat level 3 untuk grammar dan level 4 untuk listening. Level nya 1-4.

Setelah dari CESL lah kita ke Fry's. Ya ampun Tya, imagine ko? I spent 89$ there! For food, of course. But I bought THE OUTSIDER DVD and kacamata sunreader seharga 15$.

Bekal dari IIEF 100$ sudah habis. Tinggal sedikit. Jadi, yah...saya cuma bisa bergantung sama uang yang di Chase Bank itu. Tapi adapi 5 hari kedepan...

That's my story, Tya. Just wait for another, tomorrow is gonna busy time.


Love,
Ri

Minggu, 13 Juni 2010

Catatan Perjalanan yang Hanya Bisa Ditulis di Handphone

I
Akhirnya saya sampai di Jakarta (lagi). Bertemu teman-teman Arizona Cohort 7 IELSP lagi. Rasanya beda sekali. Tadi pagi di Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar, berpisah dengan Isti Tya Rahma Anita Ira Chank dan Noe. Beberapa jam kemudian saya sudah berada di salah satu kamar hotel di Jakarta Airport Hotel bersama Yeyen dan Hera. Di kamar sebelah ada teman-teman yang lain, di kamar yang lain.

Tomorrow is the big day. Tomorrow is our departure day go to Tucson, Arizona, United States of America. It feels like WOW to me.

Mami sedang berusaha untuk tidur di tempat tidur. Kamar ini nyaman dan cozy. Hera sedang santai juga di bed sambil memilih channel TV. Dia berhenti di saluran HBO yang memutar The Dark Knight.

Yeyen keluar cari makan siang bersama Agus mungkin.

Saya sendiri, memilih untuk ya...menulis ini.

Dan ternyata saya akhirnya tertarik menonton The Dark Knight.


Love,
Sunshine

II

Melelahkan tapi penuh kesan. Itu mungkin yang akan saya jawab kalau ditanya, "How was your flight?"
Dari Cengkareng sampai disini, Narita, saya merasa lelah. Tapi saya masih bisa bertahan, karena saya memang harus bertahan. Saya masih harus berjalan dan terbang melewati LAX, bandara internasional di Los Angeles lalu Tucson, di Arizona.

Ya Allah, beri kekuatan dan lindungan-Mu.

La haula wala quata illa billah.

Kelelahan dan semua rasa letih itu terasa tak begitu penting lagi saat tiba dan melihat dan berkeliling-keliling di bandaranya. It was awesome and it still unbelieveable for me. How could I be able in here, in Tokyo, Narita International Airport?

Me and Wiwid spent 50 dollars for souvenirs from here. I bought Anne Frank:The Diary of a Young Girl, Komik Detective Conan 89 edition dan a postcard. Wiwid bought some souvenirs, too.

And we spent 50$ for them. Can you imagine it?

We still habe umm,...maybe one hour until our flight to Los Angeles.

Ya Allah, mohon lindungan-Mu selalu...


Love,
Sunshine

Sabtu, 12 Juni 2010

Departure Day I

Akhirnya saya sampai di Narita International Airport bersama teman-teman rombongan Arizona Grantee IELSP Batch 7. Setelah melewati langkah demi langkah keberangkatan yang sangat melelahkan.

Dimulai dari Bandara Cengkareng di Jakarta; check in, pemeriksaan bebas fiskal, imigrasi, lalu ke pesawat Japan Airlines.

Perjalanan ke Jepang ditempuh dalam waktu tujuh jam. Dalam pesawat, saya merasa kurang nyaman. Selain AC nya dingin sekali, badanku terasa pegal sekali. Untungnya, saya bisa tidur beberapa jam dan bangun sudah disediakan makanan yang lumayan.

Oke, sampai di Bandara nya kita lewati bagian imigrasi. Kemudian naik Connecting Bus menuju Terminal 2.

Dan, here I am, mencoba menulis dengan Hepi yang tinggal 38% remaining battery power nya. Sayang sekali, charger nya saya taruh di koper.

Sekarang waktu Tokyo menunjukkan pukul 09.10 am tanggal 13 Juni 2010. Kami harus check in jam 14.00 karena pesawat kami akan take off sekitar pukul lima sore. Artinya kami punya waktu menunggu yang lumayan panjang.

Bandara ini sungguh besar. Dimana-mana terdengar bahasa Jepang yang entah artinya apa. Saya cuma tahu arigatou gozaimasu!.

Bandara ini seperti benteng yang besar yang tersembunyi. Tokyo sampai tidak terlihat.


Love,
Sunshine

Jumat, 09 April 2010

see you soon on June!

Apa yang terjadi jikalau hari itu saya memutuskan untuk berhenti mendaftarkan diri untuk IELSP hanya karena merasa minder essay ku tidak akan bisa sebagus essay Ridho?

Pertama, Amerika tetap akan menjadi mimpi sekarang. Tanpa ada bayangan untuk kesana tahun ini.

Dan kedua,saya tidak akan bertemu dengan 19 teman baru dari seluruh Indonesia di satu grup Arizona. Di empat hari saya di Jakarta kemarin.

Kami semua sungguh tak menyangka Amerika akan menjadi bagian dari hidup kami di umur 20 an. We're just so lucky. Berasal dari daerah, latar belakang dan kisah hidup yang berbeda, membuat kami menjalin sebuah ikatan pertemanan yang baru. Keluarga baru.

Saya tiba-tiba memiliki 19 teman baru. Bang Ali, Habib, Hasbi, Aziz, Eko, Firman, Yudi, Faiz, Fahrin, Maria, April, Ikha, Wiwid, Ade, Yeyen, Hera, Agus, Sakti dan Khoirur Rohman.

We've been through ALL together.

Pertemuan awal di Wisma PKBI, rapat Indonesian Day, Medical Check Up, curhat-curhatan di kamar cewek, foto-foto di bundaran HI, foto-foto di Bazaar foto dan langsung makan siang di Warung Desa yang katanya murah meriah tapi ternyata mahal sungguh, PDO di Hotel Acacia datang satu jam lebih awal dan ditegur sama Mba Ama yang ternyata ramah dan lucu, belanja keperluan di Hypermart Thamrin City, antri jam 4.15 subuh di bawah rel kereta: supaya kita ndak telat wawancara visa di US Embassy, ke markas IIEF di Menara Imperium, say goodbye dan kembali ke daerah masing-masing.

Well, cerita kita masih berlanjut di Juni nanti, guys. Just wait for it. Because June is just no longer anymore. SEE YOU SOON on JUNE!!

Love,
*Ri