Tampilkan postingan dengan label #15harimenulisdiblog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #15harimenulisdiblog. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2011

Langit

Langit itu atap dunia, Ri. Beberapa orang percaya disanalah tempat tinggal Tuhan, seperti setiap kali mereka berkata sambil menunjuk ke atas langit, "Itu sudah kehendak Yang Di Atas..."
***

"Lihat, Sayang! Awannya mirip badut!" kau menunjuk ke langit saat berada di boncengan belakang motorku.
"Ah, masa? Menurutku lebih mirip eskrim"
"Mana ada? Awannya lebih mirip badut nah!"
"Tidak, lebih mirip eskrim..."
"Badut.."
"Eskrim..."
Rasanya ada lima belas menit kita beradu pendapat tentang bentuk awan di langit sampai kau sadar aku hanya berniat mengganggumu.
***

Langit tersiksa dan menderita karena polusi udara dari bumi. Ia pasti sudah seringkali meminta pada Yang Maha Kuasa untuk menguatkan dirinya agar bisa menanggung segala beban bumi. Maka semakin cerah ia, semakin kecil tanggungannya. Semakin gelap ia, semakin berat pula tanggungannya. Ia melindungi bumi tapi manusia malah tidak peduli padanya. Ia memang sudah pantas marah. Langit memang sudah pantas meledak. Tinggal tunggu waktu saja.
***

"Bu Guru, kenapa langit berwarna biru?" Suatu hari Gita bertanya padaku pertanyaan sederhana itu. Aku tersenyum. Bagaimana aku harus menjelaskan fenomena alam pada anak berumur enam tahun?
"Itu karena warna biru adalah warna kesukaan Tuhan, Gita..."
"Oooh..." Gita mengangguk. "Kenapa Tuhan suka warna biru, Bu?"
Aku sadar takkan bisa lepas dari pertanyaan berputarnya ini hingga sejam ke depan. Dan kelak suatu saat, Gita akan tahu sendiri betapa jawabanku ini tidak bisa dipertanggungjawabkan.
***

#16

Senin, 10 Oktober 2011

Hujan

Hujan selalu membuat cerita kita berkesan. Aku suka hujan. Kau tidak. Aku suka hujan karena saat itulah kau memperhatikan dan mencemaskanku lebih besar dibanding saat hari cerah. Kau tidak suka hujan karena hujan selalu membuatmu panik memikirkanku di belakang motormu. Kau tahu aku gampang pilek. Kau tahu daya tahan tubuhku kurang. Kau tahu aku tak pernah membawa jaket jika tidak diingatkan.

Sore itu, hujan tiba-tiba turun deras tanpa permisi. Kau lalu berhenti, membuka jaketmu lalu memberikannya padaku.
"Pakai ini buat tutup kepalamu, supaya tidak kena hujan"
Saya lalu memakainya sebagai tudung kepala. Lalu kau kembali menyalakan motormu dan menembus hujan. Kita tidak melihat tempat singgah dan tujuan semakin dekat. Kaosmu basah kuyup dan kau bahkan tidak peduli.

That was so sweet of you, dear.


#15harimenulisdiblog #11 #Hujan @hurufkecil

Sabtu, 08 Oktober 2011

Ingatan Tepi Jendela

Dia pernah berkata padaku, "Sesungguhnya semua manusia akan terbangun di kala Subuh, tidak terkecuali."

Benarkah?

"Iya, hanya beberapa saja yang kemudian bangkit dan menjalankan ibadah, yang lain kemudian hanya sekedar tersadar dan melanjutkan lelapnya"

sebagian lagi menikmati pagi.

"Hah?"

Sebagian lagi, Sayang, akan membuka jendela-jendela di rumahnya. Merasakan udara sejuk yang dingin menerpa kulit wajahnya kemudian menghirup segarnya pagi saat itu. Mendengar merdu kicauan burung-burung dan melihat bergantinya gelap menjadi terang. Seluruh panca inderanya menikmati pagi dari tepi jendela.

"Lalu?"

Ritual 'tepi jendela' itu menjadi saat dimana dia merencanakan apa yang akan dilakukannya seharian : membersihkan rumah, membuatkan sarapan suami dan anak-anaknya, mencuci pakaian, memasak, merawat taman dan tanamannya dan menunggu suami dan anak-anaknya pulang ke rumah. Begitu setiap hari. Tanpa ritual itu, takkan ada rencana, takkan ada pekerjaan yang selesai.

Lalu dia mengangguk sambil memandangiku, lama.


Kemudian dia pergi. Selamanya, menghadap Sang Kuasa. Bertahun-tahun setelah kepergiannya, percakapan itu terus menerus terputar di ritual pagiku.


#15harimenulisdiblog #9 #Jendela | @hurufkecil

Kamis, 06 Oktober 2011

Pesan Bintang

Hanya hidup yang tak diperjuangkan yang tidak memiliki arti, kau tahu itu kan, Sayang? Atau kau berpikir sebaliknya? Hiduplah yang berarti jadi ia layak untuk diperjuangkan?

Pernah suatu malam aku berbisik di telingamu menerakan beberapa kalimat manis dan datar.

"Agar tidak kau salah artikan jika aku memberinya intonasi"

Kau mengangguk mengerti.

Lagipula, ini pesan khusus dari langit, akulah Sang Pembawa Pesan.

Kubilang padamu, "Jangan terlalu sering mengeluhkan apa yang terjadi dalam hidup. Itu membuatmu semakin susah. Jika sesuatu buruk terjadi, hadapi, terima dengan ikhlas dan bersabarlah. Anggap itu memang bagian dari hidup"

"Tapi itu tidak gampang! Bicara memang mudah, apalagi kau hanya Pembawa Pesan. Jangan coba menceramahiku!"

Setelah berbisik begitu, aku kembali menjadi bintang, mengawasimu. Menunggu menyampaikan pesan-pesan langit selanjutnya.

Dan pesan itu hanya kau anggap satu dari sekian mimpi-mimpi malammu.


#15harimenulisdiblog #8 #pesan | @hurufkecil |