Senin, 11 Oktober 2010

miss MJ

Tadi malam, saya rindu berat pada Mas Jek.

Ingatan itu selalu muncul setiap saya melihat taksi berseliweran di jalan raya. Mengingat satu persatu kenangan waktu Mas Jek masih ada di Makassar.

Mas Jek. Nama aslinya Zakaria. Mami Papi bertemu dengannya setahun lalu, saat Papi dirawat inap di RS. Stella Maris. Mas Jek dan Papi sekamar. Waktu itu, Mami bercerita padaku bahwa Papi mendapat teman yang baik, gagah dan cerdas sekamar dengannya. Dia bekerja di Oriflame Makassar.

Saat pertama kali melihat Mas Jek, pikirku, dia memang gagah dan selalu tersenyum. Tubuhnya tinggi, kulit putih, rambut cepak dan benar-benar terawat. Umurnya sudah hampir tiga puluhan. Dia tidak punya keluarga di Makassar, maka saat dia masuk rumah sakit, Mami lah yang mengurusnya sambil mengurus Papi. Mas Jek sangat berterima kasih pada Mami, dan menganggapnya seperti orangtua sendiri.

Lalu Mas Jek dan Papi keluar dari rumah sakit dan tetap berhubungan. Hingga April 2010, Mas Jek dipindahtugaskan ke Denpasar. Dia dapat promosi di Oriflame cabang Denpasar.

Mas Jek seperti kakak laki-lakiku sendiri.

Saya ingat, Mami selalu membuatkannya makanan dan kue-kue lalu memintaku membawakan makanan dan kue-kue yang telah dibuatnya itu ke kantor Mas Jek. Waktu itu sudah malam, sekitar pukul sembilan. Saya berangkat ke kantornya dengan pete-pete. Pulangnya, dia mengantarku dengan taksi sampai ke rumah. Padahal jarak kantor ke rumahku itu jauh sekali, dan saya bisa pulang dengan pete-pete, tapi untuk alasan keamanan, dia mengantarku pulang.

Atau saat saya pulang dari study tour, saya datang ke kantornya untuk membeli parfum, maskara bening brand Oriflame. Dia menyuruhku duduk di kursi depan mejanya, dan dia lalu berkeliling rak-rak produk Oriflame memilihkan saya parfum. Dia menawarkan satu, saya tidak suka, dia mencarikan yang lain. Begitu terus sampai saya menemukan yang saya suka.

Atau saat saya ke kosannya menyerbu koleksi DVDs nya yang banyak. Film. Film. Film. Salah satu bahan pembicaraan yang membuat saya dan Mas Jek nyambung.

Atau, saat saya butuh uang untuk tes TOEFL, untuk daftar beasiswa IELSP ke Amerika, saya datang ke kantornya pagi-pagi. Dengan nekat, saya meminta tolong dipinjami uang. Mas Jek, tanpa pikir panjang, menyanggupi. Dia malah yang mendatangi kampusku dan membawakan uangnya padaku, dengan taksi. Mas Jek, dugaanku, tidak tahu naik pete-pete. Namun, semua sikapnya membuatku sangat terkesan.

Idul Fitri tahun lalu, Mas Jek menginap di rumah dan sholat Ied bersama keluarga kami. Yang saya ingat, setiap dia selesai mandi dan keluar dari kamar, wangi parfumnya menyeruak menyerbu seluruh sudut rumah. Wangi parfumnya manis sekali. Tapi saya sudah lupa seperti apa baunya.

Saya suka setiap kali Mas Jek tertawa saat ngobrol denganku.Saya suka saat kami duet di karaoke. Saya suka kalau dia menasehatiku layaknya dia kakak dan saya adik kesayangannya. Saya suka setiap dia membantuku menyebrang dan mengambil pete-pete depan kantornya.

Orang-orang masuk keluar dalam hidup kita. Mereka datang dan pergi, singgah sebentar di hati, lalu keluar. Ada yang meninggalkan jejak, bekas langkah dan kesan yang teramat dalam hingga sulit terlupakan. Mas Jek salah satunya. Dan saya sebal sekali saat tidak berucap goodbye padanya saat berangkat ke Denpasar. Kami benar-benar lost contact sekarang. Tak tahu bagaimana kabarnya. I hope we can meet again. I miss him so bad.


Love,
Sunshine

ordinary student

"Jadi kenapa, M, kita tidak bisa jadi seorang mahasiswi yang biasa-biasa saja?"

Pertanyaan itu terus menerus berkutat di kepalaku saat berada di atas pete-pete 07, di perjalanan pulang dari rumah Noe bersama Emma. Sudah pukul sepuluh malam.

"Maksudmu, Ri?"

"Maksudku, kenapa kita seperti ini? Pulang selarut ini? Kenapa kita tidak seperti mahasiswi biasa saja: kampus, kuliah, selesai kuliah, pulang ke rumah."

Emma, seingatku, hanya diam, karena saya terus menerus bicara. Saya mencoba menyelaraskan otak dan mulutku. Dua-duanya sulit sekali dibendung kalau sudah mulai bekerja.

"Kalau saya ingat-ingat lagi,Em. Saya ini, kerja di Astamedia, urus Sold Out Shop, bantu orang rumah jual Teh Poci di pasar kalau weekend. Semua itu sambil kuliah, yang alhamdulillah sejauh ini berjalan baik. Belum misalnya, kau, aktif di kepengurusan himpunan di jurusanmu, atau saya, di Kosmik. Maksudku, kenapa kita tidak BISA jadi mahasiswi yang BIASA-BIASA saja?"

"Karna kau GU..." GU, Gila Urusan. Emma menjawab sambil tertawa.

"Mungkin, iya, Em.."

"Tapi, misalnya lagi, saya bantu produksi Aliguka, atau saya, yang sudah pernah ke Amerika..., jauhnya itu, Em! Menurutku, semua itu sudah bukan mahasiswi yang biasa-biasa saja, toh, Em?"

Emma, seingatku, cuma mengangguk.

"Apa tujuannya, Em, kita mau begini?"

"Untuk mengasah keterampilan, Ri. Karna Sold Out ini, saya bisa sedikit-sedikit menjahit.."

Pikirku, cuma itukah? Gadis-gadis lain seumuran kami, sepantaran kami, sekeras ini juga kah pada hidup mereka? Apa sebenarnya tujuan kami MAU melakukan semua ini?

"Yang jelasnya, Em, setelah menikah, saya STOP semua ini. Jadi, mulai saat ini, sekarang ini hingga sarjana dan menikah, biar berjalan seperti ini dulu. Karna kalau sudah menikah, sepanjang waktu akan di rumah, urus rumah tangga, suami dan anak-anak!"

"Jelaslah, Ri..., kecuali suami mu izinkan kau kerja." Emma menjawab.

Saya mengangguk, lalu menyudahi percakapan ini. Kami sudah mau ganti pete-pete.

Senin, 04 Oktober 2010

Dina Oktaviani: Broken Heart Walking

I want to introduce you to:
DINA OKTAVIANI



dan buku kumpulan puisinya berjudul:
BROKEN HEART WALKING: HATI YANG PATAH BERJALAN.


Buku ini hadiah dari Kak Aan Mansyur, seorang penggila kata dan kalimat. Dia memberiku April 2010 dan buku ini lebih banyak menghabiskan waktunya mendekam di lemari buku ku, ketimbang saya baca berulang-ulang.

but these are my favorite:

"dadanya berdarah
hatinya tidak"
-jalan kecil menuju dina-

"now that night has become the past
which will not appear in our words
if we have to meet and chat
in my home-or yours
in the future"
-wedding anniversary-

"tak ada yang dapat sembunyi lagi
saat aku membuka pintu dan memasuki semesta
yang dengan takjub kita sebut rumah"
-trinitas-

"...but still I miss you
like a terrifying journey
of a train from town to town
which I could never stop

I try to write something
and pray for you
so that you can forgive
your love for me

but all the words
and beliefs
ran away from my solitude

-why should one's head be above the heart
that my frail breasts
cannot touch your ears
without lowering your face?"
-Inner Landscape-

Dina Oktaviani was born on October 11, 1985 in Lampung. At 21 she had her first book of poems published. This was Biografi Kehilangan (the Biography of Loss)

She is the author of como un sueno, a collection of short stories. Broken Heart Walking is her latest collection of poems.

*
Thanks for Kak Aan, a man who really loves words and sentences, for introducing me and let me into poems and its beauty. Mengingatkan waktu masih SMP, saat-saat saya menulis puisi dan cerita fantasi bersama Chank.

Teh Poci

First, I want to say SORRY karna belakangan ini saya jarang update dirimu lagi, Lukisan Mentari ku.

Sudah dua kali weekend ini, Sabtu Minggu, saya berjualan Teh Poci di Pasar Daya. Mengeruk-ngeruk rezeki dengan berkeliling menjajakan minuman teh manis dan dingin itu kepada pengunjung maupun penjual di sana.



Mungkin ini juga salah satu episode LIFE LESSON dalam hidup, betapa saya sadar bahwa HIDUP memang TAK MUDAH. Kita harus benar-benar pantang menyerah dan berusaha sekuat usaha dan daya upaya, mencurahkan keringat hanya untuk bertahan hidup. Memang kesannya berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan.

Saat matahari sedang geramnya bersinar, kulit dan kepala rasanya terpanggang. Baki yang berisi enam gelas Teh Poci saya bawa keliling pelosok pasar sambil berteriak-teriak, "Teh Poci, Bu. Teh Poci,Pak? Adek?" Tiga ribu satu.."

Berkali-kali. Sambil sesekali menghapus keringat yang jatuh dari dahi dan kepala. Sambil menahan pegal di kaki dan tangan.

Terus menerus begitu, dari pukul sebelas pagi hingga lima sore. Saat ada pembeli, senangnya luar biasa, semangat terpompa lagi untuk kembali berjalan. Saat tak ada yang beli, kekecewaannya berkali-kali lipat.

Saat sudah waktunya pulang dan menghitung hasil hari itu, betapa bahagianya kalau mendapat dua ratus ribu rupiah. Mami juga merasa senang kita bisa dapat uang segitu, artinya esoknya sudah ada yang bisa dipakai beli makan dan ongkos sekolah anak-anaknya yang sejumlah 6 orang.


Love,
Sunshine

Kamis, 30 September 2010

Sunshine

Hari itu, entah tanggal berapa dan hari apa. Yang saya ingat saat itu saya sedang berada di ruang kuliah bersama teman-teman lainnya. Kuliahnya pasti sangat membosankan hingga saya, Dini dan Rahma mengobrol dan saling mengirim note.

Lalu, saya mengatakan bahwa saya suka sekali iklan Fanta yang ada di televisi.
Salah satu jingle nya, "Helllooo...sunshine!!"

Kemudian, saya menulis-nulis S U N S H I N E
dan betapa keren dan indah nama itu menurut saya.

Kemudian, tiap kali kami mengobrol lewat note, saya selalu menulis Sunshine sebagai alias namaku.

misalnya
Sunshine : "Weh, Din. Sudahko tugas? Apa tadi dia bilang Bapak itu? Ndak menger' ka..."

selalu Sunshine, Sunshine, Sunshine....

Rahma lah yang meng-official kannya, dengan menyapaku setiap kali bertemu, dengan "Hello, Sunshine.."
dan saya akan membalasnya dengan, "Hello, Rainbow..."

teman-teman mendengarnya setiap saat.
setiap hari.
setiap lewat di depan koridor.
setiap melihatku dan Rahma.

mereka kemudian merasa terbiasa dengan Sunshine dan Rainbow.

Selasa, 14 September 2010

Rumah Badai

Sebelum badai datang, Sayang
Marilah membangun rumah kita
mendirikan pondasi demi pondasi
sekuat-kuatnya.

mungkin langit masih cerah
dan hujan belum pula turun
karena itu, mari kita menaikkan atap rumah kita
membingkai jendela persegi di dekat pintu

Rumah kita betapa indah, sungguh
takjub aku memandangnya
kita berdua bersama anak-anak
kita akan hidup bahagia bersama di dalamnya

Sesaat, ketika badai datang menghantam-hantam
pikirku kita akan aman di rumah

Kalau kau takut, aku takut melihatmu ketakutan
aku memelukmu, kau mendekapku
tak ada suara, diluar hujan lebat
petir menyambar-nyambar

badai menghantam-hantam
aku memelukmu, kau mendekapku
kita berdua di dalam rumah
rumah kita...

Senin, 23 Agustus 2010

I LOVE GLEE



Glee is a television show performs high school life with music and all the problems and teen's finding their self esteem. Baru-baru ini saya sudah menamatkan hingga episode 21. And it was such amazing TV show.

Menonton Glee dari awal membuat kita benar-benar termotivasi dan bergembira. Ceritanya berputar sekitar Glee Club di McKinley High School di Ohio, US. Will Schuester mengambil alih pelatih Glee Club di SMA itu dan menamakannya New Directions. Satu persatu murid pun mendaftar masuk. Sayangnya, Glee Club sudah terlabel sebagai komunitas anak-anak freak sehingga memiliki sedikit sekali anggota. Hingga Mr. Schuester berhasil membujuk salah seorang anggota football, Finn, masuk dan satu persatu teman se tim football maupun pacarnya, Quinn Fabray, leader of cheerleader, ikut bergabung di Glee Club.

Glee Club pun akhirnya beranggotakan 13 orang ; Rachel, Finn, Kurt, Mercedes, Quinn, Puck, Artie, Brittany, Tina, Mike, Santana.

What makes Glee so special from other TV show?
Saya tidak banyak menonton TV show, yang saya tahu pun sedikit. Namun, Glee dibandingkan dengan High School Musical? Totally different. Its atmosphere, its story, its characters? Glee lebih kaya akan pelajaran hidup. Glee lebih berasa 'hidup' dan real. Glee lebih memperkaya kita dengan lagu-lagu yang begitu melankolis sometimes, namun juga bisa begitu agung dan membahagiakan.

Tak akan ada yang bisa menolak pesona Rachel saat membawakan "No Air" bersama Finn. Performa Puck saat menyanyikan "Sweet Caroline" membuat saya langsung jatuh cinta pada lagu itu. Saat mereka bersama-sama menyanyikan "Don't Stop Believing", "Keep Holding On" dan "Somebody to Love"? It was unforgetable. They learnt mash up, ballad, funk hingga Gaga! and I'm sure you will learn it too.

Hingga di episode 21, mereka akan melaju ke Regionals, melawan Vocal Adrenaline, saingan terberat mereka. Will they win? Well, I'm looking forward to watch the next episode!

Love,
Ri


Jumat, 20 Agustus 2010

The Girl With The Dragon Tattoo


This is a book that I really curious about. Waktu masih di Tucson dan jalan-jalan ke beberapa bookstore disana ada satu buku yang selalu bertengger menjadi BESTSELLER, berjudul : The Girl Who Kicked the Hornets's Nest. Saya pikir ini buku apa. Tapi kemudian, terlupakan.

Lalu, suatu hari Kathleen, guru SRL saya di CESL, membawakan Kindle Amazon yang dia punya. Dia menunjukkan kepada kita wujud Kindle Amazon yang ajaib itu kepada kita semua. Saat saya melihat judul e-book yang sementara dia baca : The Girl With The Dragon Tattoo, saya pun masih tak tahu buku apa itu. Saya benar-benar baru mendengarnya.

Ternyata, The Girl Who Kicked the Hornets's Nest adalah buku ketiga dari trilogi karya Stieg Larsson. Buku pertama yaitu The Girl With the Dragon Tattoo kemudian dilanjutkan The Girl Who Played With Fire.

Saya pun lalu membeli buku pertamanya. Sampai sekarang masih berusaha menyelesaikannya. Trust me, guys. It needs more patience and more time to read book in English version if it's not your daily speak.

So, wait for the review!

Love,
Ri

Kamis, 19 Agustus 2010

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (III)

Makassar, 17 Agustus 2010

Alhamdulillah, ya Allah.
Rasa syukur dan terimakasih ku pada-Mu selalu
untuk semua keajaiban-keajaiban hidupku setiap hari,
terencana, terjadi dan terlaksana.

Love,
Ri

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (II)

Makassar, 17 Agustus 2010


Dulu, saya benar-benar bahagia di Tucson. Hal paling rumit yang saya pikirkan adalah bagaimana menyelesaikan semua tugas-tugas yang diberikan Instructor di CESL. Sisanya, memikirkan bagaimana menyanyikan lagu Tari Saman saat Indonesian Day dan Closing Ceremony.

Itu saja.

Saya tidak perlu memikirkan tentang pekerjaan yang belum selesai di kantor; kemungkinan dipecat, bagaimana caranya mendapat cukup uang untuk ongkos ke Ubud Oktober nanti; jadi volunteer festival Internasional Writers and Readers 2010, oleh-oleh untuk dosen yang tidak cukup dan belum terbagi, janji nonton, penjualan iPhone yang berbelit-belit dan rumit yang benar-benar menghabiskan pulsa berkali-kali dan kesalahpahamanku dengan Bwave.

Saya juga berpikir betapa beruntungnya Kak Yusran dan Kak Dwi yang telah menikah dan sepertinya dalam waktu dekat ini akan tinggal di luar negeri, mengingat Kak Yusran lolos beasiswa Ford Foundation. Membayangkan hal-hal ajaib seperti itu juga akan terjadi padaku suatu hari nanti.

Rasanya saya mau kembali lagi ke Tucson.

Melarikan diri dari semua kejaran pikiran-pikiran itu.

Di Sahara Apartment, 3215 room. Bersama Hera yang seringkali kesal kunjungan tengah malam Habib, Azis dan Fahrin yang baik hati, yang selalu memberi beberapa roti selai dan susunya untuk sarapanku sebelum ke CESL, Yudi dan Habib yang luarbiasa perhatiannya padaku apalagi soal jadwal makan...Wiwid dan Yeyen yang selalu setia mendengar dan menceritakan rahasia-rahasia. Rapat demi rapat sebelum Indonesian Day bersama teman-teman IELSP lainnya.

Semuanya seperti mimpi. Mimpi yang meninggalkan jejak berupa foto-foto 15 GB di laptop, pakaian, sepatu, buku-buku dan DVDs.

Saya juga heran mengapa kepalaku ini tidak mau berhenti berpikir dan mengingat, bermimpi dan berkhayal. Tak mau diam.


Love,
Ri

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (I)

Makassar, 17 Agustus 2010

Hari ini 65 tahun sudah Indonesia merdeka. Semua siaran TV menyiarkan prosesi upacara bendera di Jakarta. Ada juga yang menyiarkan prosesi upacara di bawah laut, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tadi pagi, sekitar jam 10, Lulu masuk ke kamarku membuka lemari tepat saat saya baru bangun. Saat saya bertanya dia mau kemana, dia menjawab, dia baru saja pulang upacara di sekolahnya.

Sedangkan saya, selain memberi ucapan selamat ulang tahun pada Indonesia di facebook, twitter dan plurk, tak melakukan apa-apa lagi.

Oh ya. Saya baru menamatkan membaca The Magician's Elephant nya Kate DiCamillo.


Love,
Ri


Sabtu, 14 Agustus 2010

Peluk

at Bandara Soekarno Hatta- Jakarta
Monday, August 9, 2010.

Sejak turun dari Singapore Airlines dan mendaratkan kaki disini perasaanku mulai tidak keruan. Berlapis-lapis kegundahan, sedih, rindu, haru, bahagia bersusun di dalamnya. Saya bahkan tak tahu perasaan apa yang paling dominan di antara itu semua. Saya hanya terus melangkah keluar menuju bagian imigrasi bersama delapan belas temanku, saudara dan keluargaku.

Akhirnya kami sampai juga di Indonesia, tanah air kebanggaan kami.

Setelah mengambil bagasi, kami keluar menuju Hotel Transit. Mba Ama dan Mas Yudis, representatif dari IIEF, orang yang selama ini mengurusi kami dari pre-departure orientation, departure hingga pulang kembali, sudah menunggu di sana. Di Cockpit II, kami akan diberi Re-Entry, semacam pembekalan sebelum kami pulang kembali ke hometown masing-masing. Bekal agar kami tidak merasa terlalu shock akan pergantian suasana yang begitu berbeda. Padahal kami di Indonesia sudah hidup selama hampir dua puluh tahun.

Re-entry selesai dalam dua jam. Setelah foto bareng Mba Ama dan Mas Yudis, kami mengecek jadwal penerbangan kami selanjutnya ke hometown kami masing-masing. Saat itu sudah pukul 13.30. Penerbangan ke Makassar pukul 18.00. Mestinya saya harus sudah check in sekitar pukul 16.00-16.30.

Kami semua pun ke Terminal 1.


Dan pelukan demi pelukan pun terjadi.

Saya memeluk satu persatu temanku yang bersedih karena perpisahan. Saya memeluk teman-temanku karena dengan begitu saya juga merasa terobati dan merasa kuat. Saya memeluk mereka karena saya tidak akan melihat mereka entah dalam jangka waktu berapa lama. Saya memeluk mereka karena saya butuh pelukan itu.

It feels like there was a piece of my heart missing, loss. Sesuatu yang sangat penting dari diriku terlepas begitu saja. Sampai-sampai berpuluh pelukan pun tak bisa mengobatinya.

Sekarang, kenangan itu masih terang benderang di ingatanku, di kepalaku. Setiap menit muncul kemudian hilang. Hadir kemudian pergi. Rindu masih terasa di diriku, bersarang dan tumbuh subur.


For ALL our memories in Tucson, Guys...
don't forget us.



Love,
Ri

Rabu, 04 Agustus 2010

Mine Lyrics Taylor Swift





This is the first single of her upcoming 3rd album, "Speak Now".

LISTEN HERE

Taylor Swift “Mine” Lyrics


Oh oh ooo o
Oh oh ooo o

You were in college working part time waiting tables
Left to small time never looked back.
I was the flight risk with the fear of fallin
Wondered why we bothered with love if it never lasts
I say ‘Can you believe it?”
As we’re lying on a couch

(?) And I can see it
Yes yes I can see it now

Do you remember we were sitting there about the water
You put your arm around me for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine

Flash forward and we’d been taking on the world together
And there is a drawer of my things and your place
You learned my secrets and you figured out why I’m (?)
You said we’d never made my parents’ mistakes.

But we’ve got bills to pay
We’ve got nothing figured out
When it was hard to take yes yes
This is was I thought about

Do you remember we were sitting there about the water
You put your arm around me for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine

Do you remember all the city lights on the water
You saw me start to believe for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine
Woah oh oo




Senin, 26 Juli 2010

IELSP: My Best Experience Along My Life





Experience is a great teacher, John Legend said. We live, we feel and we learn something every moment in our life. Experience is one thing you can't get for nothing. It’s priceless. I believe everyone has their own happenings, feelings and stories along their way of life. Some are dreams, some are passion and we give a hard trying to get them. Dreams, life, passion, stories and even ourselves are the product of all our experience. That’s what I thought after through (almost) eight weeks in Tucson, Arizona with my twenty friends from Indonesia, since I got scholarship of IELSP this year.
Living in Tucson need a hard trying. It took two weeks for me to adjust and make sure of myself that “it’s not in Indonesia”. I have to take care of myself instead of my parents used to. I have my own room apartment shared with my friend, Hera from West Borneo, Indonesia. She was three years older than me, good chef and nice roommate. I was Bugisian and she was Javanese. I realized that, the fact that I’m living in a country that has a broad cultures and different people came here for many purposes, my first exchange culture happened in my own room.
The key is tolerance. I was reckless, moody and have a bad habit : procrastination. After (almost) eight weeks living in here with my twenty friends from Indonesia and CESL’s friends and teachers, I feel more understand and realized that tolerance is a difficult to learn. We have to think instead of just follow our feeling; think that we are all different, that we couldn’t hope another people do what we want them to do for us. I was reckless, moody and did procrastination but now I have to change, because I have to tolerant with my tidy discipline roommate, because I realized that I was shared my life with her. It started with her then others.
My first impression when I arrived in Tucson is the people was very friendly. Everytime I meet with someone new, they greet me like, “Hello, how’re you?” or just “Hello..!” and I replied with “Good, how’re you?” and they answered, “Good..”. That’s one thing. When I want to go somewhere by Suntran and I don’t know how to get there, I asked people and suprisingly, they want to help by showed and explained the way on map. English is everywhere here. Two months here, English was just like Bahasa to me. My first class in CESL, I got surprised too because I catched everything teacher said although there are some words I didn’t know the meaning.
This scholarship have showed me the other side of the world that made me really ‘see’ diversity in this world. In this young age, I have been so lucky for getting such a great opportunity like this. When I really want to study and improve my English, IELSP come and take me to an appropriate place like Center of English As a Second Languange (CESL) in Tucson, Arizona, US. This program provided me a really comfortable accomodation, nice atmosphere for study with many places to visit on weekend.
From pre-departure orientation in Jakarta last April, we given many informations about our departure, visa interview and chance to see our alumni for each representative in university. There is person who take care of us from the beginning until we arrive in our destination. I couldn’t hope much more, for me it’s more than enough.
This is my unforgetable experience and my best journey along my life. There are so many culture lesson I’ve got that will really helpful in my CV for seeking a good job...and get a masters degree scholarship later. I really want to continue my study in Europe, someday. Like I always think, knowledge making us addiction. Once we get enjoy of them, we will hard to stop it. I hope I will never quit study; academicly and get life lessons. []

Rabu, 21 Juli 2010

Get Well Soon, Bib.




Oh Gosh,

Habib drop. Tadi malam sekitar pukul 01.30 am dia pingsan di kamarnya. Semua teman-teman yang masih belum tidur datang melihat, termasuk saya. Saat datang ke kamarnya, dia setengah mati menahan sakit di perut, kaki nya mengeras, dingin. Saya, Maria, dan Yeyen memeganginya sambil memberi kata-kata "sabar, Bib".

Saya khawatir sekali. Yudi dan Sakti memanggil taksi. Setelah 15 menit, taksinya datang. Habib digotong keluar kamar menuju gerbang apartemen. Saya lari mengambil sandal dan jaket kesayangan sahabatku itu, entahlah, saya ingin ada sesuatu yang menguatkan dia kemana-mana.

Supirnya menolak mengantar ke rumah sakit. Alih-alih, dia menghubungi 911 dan menghabiskan hampir lima belas menit lagi bicara dengan entah siapa 911 itu. Habib sudah di dalam taksi, menahan sakit luar biasa, dan masih ditanya, "Is he still breathing?". Amerika benar-benar payah. Sumpah, payah sekali.

Lalu dari kejauhan, sirene alarm ambulance berbunyi. Mobil besar mengangkut tim medis yang berpakaian seragam dan membawa peralatan entah apa. Mereka lalu mengerubungi Habib yang masih di dalam taksi, memeriksa dan melemparkan pada kami pertanyaan-pertanyaan. Beberapa menit kemudian, mereka memberitahu bahwa Habib akan dibawa ke UMC-University Medical Centre, dekat Speedway.

Ika yang ikut di mobil ambulance. Saya, Wiwid, Yudi, Sakti dan Firman mengikuti dengan taksi dari belakang.

Sampai di UMC, saya melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 am. Kami diminta menunggu di lobi.

Lima belas menit kemudian, petugas sosial, Melissa, datang dan mencari Yudi. Katanya Habib panggil namanya terus. Melissa lalu bertanya padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, kira-kira apa penyebabnya. Yudi menjawab dan menceritakan detail nya. Melissa mengerti dan berkata kami tidak usah khawatir, Habib sedang diurus dokter.

Kami menunggu hampir dua jam lebih di lobi yang dinginnya amit-amit. Kami berusaha untuk terlelap beberapa menit. Pukul 04.30 am, perawat datang dan membolehkan kami masuk melihat Habib. Firman dan Sakti giliran pertama. Dua puluh menit kemudian mereka kembali, lalu Yudi dan Ika masuk. Tiga puluh menit kemudian, mereka kembali. Wiwid masuk lebih dulu, lima menit kemudian saya menyusul.

Ruangan emergency tempat Habib dirawat penuh dengan alat-alat medis yang hanya saya lihat di film-film Hollywood. Komputer ada tiga tersebar di sudut-sudut ruangan. Ada rak besar penuh dengan map-map dan pakaian operasi. Cahaya nya redup. Ada gorden berwarna krem yang menjadi pintu. Wiwid sudah di dalam, kedengarannya menasehati Habib. Saya tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya.

Habib di infus. Badannya penuh stiker yang ada kabelnya. Di telunjuk tangan kanannya di grip dengan entah apa yang ujungnya berwarna merah. Dia terbaring lemah dan tidak bisa banyak bicara.

Wiwid dan saya berusaha membuatnya nyaman. Kami bahkan membicarakan tentang biaya perawatan disana. Berapa harga tiap stiker yang ada ditempel di badannya. Berapa harga infusnya, berapa biaya dokter, berapa biaya suntik, dsb. Alhamdulillah, Habib tertawa dan membuat saya berpikir, dia sudah tidak apa-apa.

Pukul 06.20 am, setelah memutuskan Ika lah yang menjaga Habib di UMC, kami pulang ke apartment. Yudi harus ke kampus. Saya dan Wiwid memutuskan hari ini tidak ke kampus. Kami ingin istirahat saja di kamar.

Hari ini, Tucson berbeda. Itu saja. Mungkin bukan Tucson yang berbeda. Mungkin Tucson masih sama. Pagi nya sama. Saya saja yang memandang berbeda.

Habib Rahman, cepat sembuh ya..


Love,
Sunshine