Kamis, 30 September 2010

Sunshine

Hari itu, entah tanggal berapa dan hari apa. Yang saya ingat saat itu saya sedang berada di ruang kuliah bersama teman-teman lainnya. Kuliahnya pasti sangat membosankan hingga saya, Dini dan Rahma mengobrol dan saling mengirim note.

Lalu, saya mengatakan bahwa saya suka sekali iklan Fanta yang ada di televisi.
Salah satu jingle nya, "Helllooo...sunshine!!"

Kemudian, saya menulis-nulis S U N S H I N E
dan betapa keren dan indah nama itu menurut saya.

Kemudian, tiap kali kami mengobrol lewat note, saya selalu menulis Sunshine sebagai alias namaku.

misalnya
Sunshine : "Weh, Din. Sudahko tugas? Apa tadi dia bilang Bapak itu? Ndak menger' ka..."

selalu Sunshine, Sunshine, Sunshine....

Rahma lah yang meng-official kannya, dengan menyapaku setiap kali bertemu, dengan "Hello, Sunshine.."
dan saya akan membalasnya dengan, "Hello, Rainbow..."

teman-teman mendengarnya setiap saat.
setiap hari.
setiap lewat di depan koridor.
setiap melihatku dan Rahma.

mereka kemudian merasa terbiasa dengan Sunshine dan Rainbow.

Selasa, 14 September 2010

Rumah Badai

Sebelum badai datang, Sayang
Marilah membangun rumah kita
mendirikan pondasi demi pondasi
sekuat-kuatnya.

mungkin langit masih cerah
dan hujan belum pula turun
karena itu, mari kita menaikkan atap rumah kita
membingkai jendela persegi di dekat pintu

Rumah kita betapa indah, sungguh
takjub aku memandangnya
kita berdua bersama anak-anak
kita akan hidup bahagia bersama di dalamnya

Sesaat, ketika badai datang menghantam-hantam
pikirku kita akan aman di rumah

Kalau kau takut, aku takut melihatmu ketakutan
aku memelukmu, kau mendekapku
tak ada suara, diluar hujan lebat
petir menyambar-nyambar

badai menghantam-hantam
aku memelukmu, kau mendekapku
kita berdua di dalam rumah
rumah kita...

Senin, 23 Agustus 2010

I LOVE GLEE



Glee is a television show performs high school life with music and all the problems and teen's finding their self esteem. Baru-baru ini saya sudah menamatkan hingga episode 21. And it was such amazing TV show.

Menonton Glee dari awal membuat kita benar-benar termotivasi dan bergembira. Ceritanya berputar sekitar Glee Club di McKinley High School di Ohio, US. Will Schuester mengambil alih pelatih Glee Club di SMA itu dan menamakannya New Directions. Satu persatu murid pun mendaftar masuk. Sayangnya, Glee Club sudah terlabel sebagai komunitas anak-anak freak sehingga memiliki sedikit sekali anggota. Hingga Mr. Schuester berhasil membujuk salah seorang anggota football, Finn, masuk dan satu persatu teman se tim football maupun pacarnya, Quinn Fabray, leader of cheerleader, ikut bergabung di Glee Club.

Glee Club pun akhirnya beranggotakan 13 orang ; Rachel, Finn, Kurt, Mercedes, Quinn, Puck, Artie, Brittany, Tina, Mike, Santana.

What makes Glee so special from other TV show?
Saya tidak banyak menonton TV show, yang saya tahu pun sedikit. Namun, Glee dibandingkan dengan High School Musical? Totally different. Its atmosphere, its story, its characters? Glee lebih kaya akan pelajaran hidup. Glee lebih berasa 'hidup' dan real. Glee lebih memperkaya kita dengan lagu-lagu yang begitu melankolis sometimes, namun juga bisa begitu agung dan membahagiakan.

Tak akan ada yang bisa menolak pesona Rachel saat membawakan "No Air" bersama Finn. Performa Puck saat menyanyikan "Sweet Caroline" membuat saya langsung jatuh cinta pada lagu itu. Saat mereka bersama-sama menyanyikan "Don't Stop Believing", "Keep Holding On" dan "Somebody to Love"? It was unforgetable. They learnt mash up, ballad, funk hingga Gaga! and I'm sure you will learn it too.

Hingga di episode 21, mereka akan melaju ke Regionals, melawan Vocal Adrenaline, saingan terberat mereka. Will they win? Well, I'm looking forward to watch the next episode!

Love,
Ri


Jumat, 20 Agustus 2010

The Girl With The Dragon Tattoo


This is a book that I really curious about. Waktu masih di Tucson dan jalan-jalan ke beberapa bookstore disana ada satu buku yang selalu bertengger menjadi BESTSELLER, berjudul : The Girl Who Kicked the Hornets's Nest. Saya pikir ini buku apa. Tapi kemudian, terlupakan.

Lalu, suatu hari Kathleen, guru SRL saya di CESL, membawakan Kindle Amazon yang dia punya. Dia menunjukkan kepada kita wujud Kindle Amazon yang ajaib itu kepada kita semua. Saat saya melihat judul e-book yang sementara dia baca : The Girl With The Dragon Tattoo, saya pun masih tak tahu buku apa itu. Saya benar-benar baru mendengarnya.

Ternyata, The Girl Who Kicked the Hornets's Nest adalah buku ketiga dari trilogi karya Stieg Larsson. Buku pertama yaitu The Girl With the Dragon Tattoo kemudian dilanjutkan The Girl Who Played With Fire.

Saya pun lalu membeli buku pertamanya. Sampai sekarang masih berusaha menyelesaikannya. Trust me, guys. It needs more patience and more time to read book in English version if it's not your daily speak.

So, wait for the review!

Love,
Ri

Kamis, 19 Agustus 2010

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (III)

Makassar, 17 Agustus 2010

Alhamdulillah, ya Allah.
Rasa syukur dan terimakasih ku pada-Mu selalu
untuk semua keajaiban-keajaiban hidupku setiap hari,
terencana, terjadi dan terlaksana.

Love,
Ri

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (II)

Makassar, 17 Agustus 2010


Dulu, saya benar-benar bahagia di Tucson. Hal paling rumit yang saya pikirkan adalah bagaimana menyelesaikan semua tugas-tugas yang diberikan Instructor di CESL. Sisanya, memikirkan bagaimana menyanyikan lagu Tari Saman saat Indonesian Day dan Closing Ceremony.

Itu saja.

Saya tidak perlu memikirkan tentang pekerjaan yang belum selesai di kantor; kemungkinan dipecat, bagaimana caranya mendapat cukup uang untuk ongkos ke Ubud Oktober nanti; jadi volunteer festival Internasional Writers and Readers 2010, oleh-oleh untuk dosen yang tidak cukup dan belum terbagi, janji nonton, penjualan iPhone yang berbelit-belit dan rumit yang benar-benar menghabiskan pulsa berkali-kali dan kesalahpahamanku dengan Bwave.

Saya juga berpikir betapa beruntungnya Kak Yusran dan Kak Dwi yang telah menikah dan sepertinya dalam waktu dekat ini akan tinggal di luar negeri, mengingat Kak Yusran lolos beasiswa Ford Foundation. Membayangkan hal-hal ajaib seperti itu juga akan terjadi padaku suatu hari nanti.

Rasanya saya mau kembali lagi ke Tucson.

Melarikan diri dari semua kejaran pikiran-pikiran itu.

Di Sahara Apartment, 3215 room. Bersama Hera yang seringkali kesal kunjungan tengah malam Habib, Azis dan Fahrin yang baik hati, yang selalu memberi beberapa roti selai dan susunya untuk sarapanku sebelum ke CESL, Yudi dan Habib yang luarbiasa perhatiannya padaku apalagi soal jadwal makan...Wiwid dan Yeyen yang selalu setia mendengar dan menceritakan rahasia-rahasia. Rapat demi rapat sebelum Indonesian Day bersama teman-teman IELSP lainnya.

Semuanya seperti mimpi. Mimpi yang meninggalkan jejak berupa foto-foto 15 GB di laptop, pakaian, sepatu, buku-buku dan DVDs.

Saya juga heran mengapa kepalaku ini tidak mau berhenti berpikir dan mengingat, bermimpi dan berkhayal. Tak mau diam.


Love,
Ri

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (I)

Makassar, 17 Agustus 2010

Hari ini 65 tahun sudah Indonesia merdeka. Semua siaran TV menyiarkan prosesi upacara bendera di Jakarta. Ada juga yang menyiarkan prosesi upacara di bawah laut, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tadi pagi, sekitar jam 10, Lulu masuk ke kamarku membuka lemari tepat saat saya baru bangun. Saat saya bertanya dia mau kemana, dia menjawab, dia baru saja pulang upacara di sekolahnya.

Sedangkan saya, selain memberi ucapan selamat ulang tahun pada Indonesia di facebook, twitter dan plurk, tak melakukan apa-apa lagi.

Oh ya. Saya baru menamatkan membaca The Magician's Elephant nya Kate DiCamillo.


Love,
Ri


Sabtu, 14 Agustus 2010

Peluk

at Bandara Soekarno Hatta- Jakarta
Monday, August 9, 2010.

Sejak turun dari Singapore Airlines dan mendaratkan kaki disini perasaanku mulai tidak keruan. Berlapis-lapis kegundahan, sedih, rindu, haru, bahagia bersusun di dalamnya. Saya bahkan tak tahu perasaan apa yang paling dominan di antara itu semua. Saya hanya terus melangkah keluar menuju bagian imigrasi bersama delapan belas temanku, saudara dan keluargaku.

Akhirnya kami sampai juga di Indonesia, tanah air kebanggaan kami.

Setelah mengambil bagasi, kami keluar menuju Hotel Transit. Mba Ama dan Mas Yudis, representatif dari IIEF, orang yang selama ini mengurusi kami dari pre-departure orientation, departure hingga pulang kembali, sudah menunggu di sana. Di Cockpit II, kami akan diberi Re-Entry, semacam pembekalan sebelum kami pulang kembali ke hometown masing-masing. Bekal agar kami tidak merasa terlalu shock akan pergantian suasana yang begitu berbeda. Padahal kami di Indonesia sudah hidup selama hampir dua puluh tahun.

Re-entry selesai dalam dua jam. Setelah foto bareng Mba Ama dan Mas Yudis, kami mengecek jadwal penerbangan kami selanjutnya ke hometown kami masing-masing. Saat itu sudah pukul 13.30. Penerbangan ke Makassar pukul 18.00. Mestinya saya harus sudah check in sekitar pukul 16.00-16.30.

Kami semua pun ke Terminal 1.


Dan pelukan demi pelukan pun terjadi.

Saya memeluk satu persatu temanku yang bersedih karena perpisahan. Saya memeluk teman-temanku karena dengan begitu saya juga merasa terobati dan merasa kuat. Saya memeluk mereka karena saya tidak akan melihat mereka entah dalam jangka waktu berapa lama. Saya memeluk mereka karena saya butuh pelukan itu.

It feels like there was a piece of my heart missing, loss. Sesuatu yang sangat penting dari diriku terlepas begitu saja. Sampai-sampai berpuluh pelukan pun tak bisa mengobatinya.

Sekarang, kenangan itu masih terang benderang di ingatanku, di kepalaku. Setiap menit muncul kemudian hilang. Hadir kemudian pergi. Rindu masih terasa di diriku, bersarang dan tumbuh subur.


For ALL our memories in Tucson, Guys...
don't forget us.



Love,
Ri

Rabu, 04 Agustus 2010

Mine Lyrics Taylor Swift





This is the first single of her upcoming 3rd album, "Speak Now".

LISTEN HERE

Taylor Swift “Mine” Lyrics


Oh oh ooo o
Oh oh ooo o

You were in college working part time waiting tables
Left to small time never looked back.
I was the flight risk with the fear of fallin
Wondered why we bothered with love if it never lasts
I say ‘Can you believe it?”
As we’re lying on a couch

(?) And I can see it
Yes yes I can see it now

Do you remember we were sitting there about the water
You put your arm around me for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine

Flash forward and we’d been taking on the world together
And there is a drawer of my things and your place
You learned my secrets and you figured out why I’m (?)
You said we’d never made my parents’ mistakes.

But we’ve got bills to pay
We’ve got nothing figured out
When it was hard to take yes yes
This is was I thought about

Do you remember we were sitting there about the water
You put your arm around me for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine

Do you remember all the city lights on the water
You saw me start to believe for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine
Woah oh oo




Senin, 26 Juli 2010

IELSP: My Best Experience Along My Life





Experience is a great teacher, John Legend said. We live, we feel and we learn something every moment in our life. Experience is one thing you can't get for nothing. It’s priceless. I believe everyone has their own happenings, feelings and stories along their way of life. Some are dreams, some are passion and we give a hard trying to get them. Dreams, life, passion, stories and even ourselves are the product of all our experience. That’s what I thought after through (almost) eight weeks in Tucson, Arizona with my twenty friends from Indonesia, since I got scholarship of IELSP this year.
Living in Tucson need a hard trying. It took two weeks for me to adjust and make sure of myself that “it’s not in Indonesia”. I have to take care of myself instead of my parents used to. I have my own room apartment shared with my friend, Hera from West Borneo, Indonesia. She was three years older than me, good chef and nice roommate. I was Bugisian and she was Javanese. I realized that, the fact that I’m living in a country that has a broad cultures and different people came here for many purposes, my first exchange culture happened in my own room.
The key is tolerance. I was reckless, moody and have a bad habit : procrastination. After (almost) eight weeks living in here with my twenty friends from Indonesia and CESL’s friends and teachers, I feel more understand and realized that tolerance is a difficult to learn. We have to think instead of just follow our feeling; think that we are all different, that we couldn’t hope another people do what we want them to do for us. I was reckless, moody and did procrastination but now I have to change, because I have to tolerant with my tidy discipline roommate, because I realized that I was shared my life with her. It started with her then others.
My first impression when I arrived in Tucson is the people was very friendly. Everytime I meet with someone new, they greet me like, “Hello, how’re you?” or just “Hello..!” and I replied with “Good, how’re you?” and they answered, “Good..”. That’s one thing. When I want to go somewhere by Suntran and I don’t know how to get there, I asked people and suprisingly, they want to help by showed and explained the way on map. English is everywhere here. Two months here, English was just like Bahasa to me. My first class in CESL, I got surprised too because I catched everything teacher said although there are some words I didn’t know the meaning.
This scholarship have showed me the other side of the world that made me really ‘see’ diversity in this world. In this young age, I have been so lucky for getting such a great opportunity like this. When I really want to study and improve my English, IELSP come and take me to an appropriate place like Center of English As a Second Languange (CESL) in Tucson, Arizona, US. This program provided me a really comfortable accomodation, nice atmosphere for study with many places to visit on weekend.
From pre-departure orientation in Jakarta last April, we given many informations about our departure, visa interview and chance to see our alumni for each representative in university. There is person who take care of us from the beginning until we arrive in our destination. I couldn’t hope much more, for me it’s more than enough.
This is my unforgetable experience and my best journey along my life. There are so many culture lesson I’ve got that will really helpful in my CV for seeking a good job...and get a masters degree scholarship later. I really want to continue my study in Europe, someday. Like I always think, knowledge making us addiction. Once we get enjoy of them, we will hard to stop it. I hope I will never quit study; academicly and get life lessons. []

Rabu, 21 Juli 2010

Get Well Soon, Bib.




Oh Gosh,

Habib drop. Tadi malam sekitar pukul 01.30 am dia pingsan di kamarnya. Semua teman-teman yang masih belum tidur datang melihat, termasuk saya. Saat datang ke kamarnya, dia setengah mati menahan sakit di perut, kaki nya mengeras, dingin. Saya, Maria, dan Yeyen memeganginya sambil memberi kata-kata "sabar, Bib".

Saya khawatir sekali. Yudi dan Sakti memanggil taksi. Setelah 15 menit, taksinya datang. Habib digotong keluar kamar menuju gerbang apartemen. Saya lari mengambil sandal dan jaket kesayangan sahabatku itu, entahlah, saya ingin ada sesuatu yang menguatkan dia kemana-mana.

Supirnya menolak mengantar ke rumah sakit. Alih-alih, dia menghubungi 911 dan menghabiskan hampir lima belas menit lagi bicara dengan entah siapa 911 itu. Habib sudah di dalam taksi, menahan sakit luar biasa, dan masih ditanya, "Is he still breathing?". Amerika benar-benar payah. Sumpah, payah sekali.

Lalu dari kejauhan, sirene alarm ambulance berbunyi. Mobil besar mengangkut tim medis yang berpakaian seragam dan membawa peralatan entah apa. Mereka lalu mengerubungi Habib yang masih di dalam taksi, memeriksa dan melemparkan pada kami pertanyaan-pertanyaan. Beberapa menit kemudian, mereka memberitahu bahwa Habib akan dibawa ke UMC-University Medical Centre, dekat Speedway.

Ika yang ikut di mobil ambulance. Saya, Wiwid, Yudi, Sakti dan Firman mengikuti dengan taksi dari belakang.

Sampai di UMC, saya melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 am. Kami diminta menunggu di lobi.

Lima belas menit kemudian, petugas sosial, Melissa, datang dan mencari Yudi. Katanya Habib panggil namanya terus. Melissa lalu bertanya padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, kira-kira apa penyebabnya. Yudi menjawab dan menceritakan detail nya. Melissa mengerti dan berkata kami tidak usah khawatir, Habib sedang diurus dokter.

Kami menunggu hampir dua jam lebih di lobi yang dinginnya amit-amit. Kami berusaha untuk terlelap beberapa menit. Pukul 04.30 am, perawat datang dan membolehkan kami masuk melihat Habib. Firman dan Sakti giliran pertama. Dua puluh menit kemudian mereka kembali, lalu Yudi dan Ika masuk. Tiga puluh menit kemudian, mereka kembali. Wiwid masuk lebih dulu, lima menit kemudian saya menyusul.

Ruangan emergency tempat Habib dirawat penuh dengan alat-alat medis yang hanya saya lihat di film-film Hollywood. Komputer ada tiga tersebar di sudut-sudut ruangan. Ada rak besar penuh dengan map-map dan pakaian operasi. Cahaya nya redup. Ada gorden berwarna krem yang menjadi pintu. Wiwid sudah di dalam, kedengarannya menasehati Habib. Saya tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya.

Habib di infus. Badannya penuh stiker yang ada kabelnya. Di telunjuk tangan kanannya di grip dengan entah apa yang ujungnya berwarna merah. Dia terbaring lemah dan tidak bisa banyak bicara.

Wiwid dan saya berusaha membuatnya nyaman. Kami bahkan membicarakan tentang biaya perawatan disana. Berapa harga tiap stiker yang ada ditempel di badannya. Berapa harga infusnya, berapa biaya dokter, berapa biaya suntik, dsb. Alhamdulillah, Habib tertawa dan membuat saya berpikir, dia sudah tidak apa-apa.

Pukul 06.20 am, setelah memutuskan Ika lah yang menjaga Habib di UMC, kami pulang ke apartment. Yudi harus ke kampus. Saya dan Wiwid memutuskan hari ini tidak ke kampus. Kami ingin istirahat saja di kamar.

Hari ini, Tucson berbeda. Itu saja. Mungkin bukan Tucson yang berbeda. Mungkin Tucson masih sama. Pagi nya sama. Saya saja yang memandang berbeda.

Habib Rahman, cepat sembuh ya..


Love,
Sunshine


Sabtu, 17 Juli 2010

Tucson, 07.17.10

At Sahara Apartment
3215 room



take a picture with Maria, friend from Nicaragua and Aziz.
Hari ini Sabtu. Tadi pagi bangun jam 9. Subuh terlewati begitu saja [lagi-lagi saya telat bangun]. Setelah benar-benar bangun, saya berusaha untuk mengingat apa rencana hari ini. Ooh, pukul sebelas ada FREE Saturday Class di CESL lalu pukul 5 sore, mau ke Desert Museum. I think it will be great.
Saya hanya tidak mengingat akan berjalan kaki ke CESL.

Sebenarnya dari Sahara ke CESL-Univ. Arizona- cukup dekat. Takes time about 30 minutes. Di perjalanan pasti tidak akan terasa karna bisa liat rumah-rumah unik dan cafe-cafe yang nyaman, guys. Apa yang menjadi kendala dan keluhan terberat adalah.....terik matahari Tucson yang begitu sangat menyiksa. Kalau kalian sering mengeluh betapa panasnya Makassar,..Tucson lebih dibanding itu. Serius. Serius beribu-ribu kali. Kalau ndak percaya, kesini saja.

Jadi, dua puluh menit [lagi-lagi telat] sebelum jam 11, saya, Wiwid, Yudi, Rohman dan Yeyen berjalan menuju CESL. Kami memang anak Indonesia yang rajin belajar dan sekolah. Kami bisa saja tidur-tiduran di kamar yang nyaman dan ber-AC, alih-alih menempuh perjalanan seperti itu. Kami hanya terus berjalan sampai gerbang Univ. Arizona nampak. Senangnya bukan main.

Di CESL, dalam 3 minggu ini, setiap hari Sabtu, ada Free Saturday Class. Jadi ada semacam latihan mengajar untuk guru-guru baru. Nah, karna mereka mau latihan mengajar, maka kami lah yang jadi muridnya. Bukan cuma Indonesian saja, kok. Semua murid CESL, if they want, they may come. Kelihatannya, semua yang datang itu adalah mereka yang berburu poin, berhubung karna beberapa guru menjanjikan extra point bagi murid yang datang. Saya salah satunya.

FSC usai pukul 2 PM. Masih ada sekitar dua setengah jam lagi sebelum ke Desert Museum. Saya dan Wiwid akhirnya menjalani jalanan yang layaknya oven itu, menuju apartment kami yang nyaman, Sahara.

Lalu pukul 4.40 PM, saya, Yudi, Maria, Habib, Aziz dan Fahrin berjalan kembali ke CESL. Alhamdulillah, mendung. Bulan ini, Tucson have a monsoon. Perjalanan, hanya meletihkan kaki. Tanpa sengatan perih di kulit karna panas. Kami ber-4 tanpa Yudi dan Aziz lebih beruntung lagi karna ada trem yang menuju kampus. So, kami menumpang trem dengan $1.


turun dari trem, foto dulu...

And then, sampailah kami di depan CESL. Saya cukup senang karna Steve ikut rombongan kami ke Desert Museum juga. He's just a nice teacher.

waiting in front of CESL, ready to go to museum!

Menaiki 2 van ke Desert Museum, perjalanan sekitar 30 menit. Pemandangannya such an amazing. Mountains and saguaro everywhere...

First experience always be the best.


Dan rasanya untuk menggambarkan tentang Desert Museum, cuma bisa dengan foto-foto. Words aren't enough. Cuma bisa bilang, "beautiful...beautiful"


Love,
Sunshine

Minggu, 04 Juli 2010

Judulnya : Sunshine

Tulisan ini dibuat oleh sahabatku, Dini. Tulisan tentang diriku yang membuat saya terharu sampai menangis. Thanks, Din...


Hari itu mungkin belum genap sebulan aku menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi, aku masih seseorang yang gagu, belum mengenal banyak orang dan masih belum percaya diri untuk bergaul, mungkin saja karena aku seorang pendatang.


Tiba-tiba datang seorang temanku, bisa dibilang begitu, karena kami seangkatan dan sejurusan.
Ia meminjam hpku, katanya iseng untuk melihat-lihat foto, tak lama ia berbicara padaku

“sukako juga Jason Marz?”

Aku menengadah padanya, pasti dia baru saja melihat wallpaper hpku

“iya… kau juga suka?”

Tak lama, kami bercerita mengenai pria yang jauh di belahan dunia lain itu, mempunyai kesamaan dalam kesukaan bisa membuatmu membina hubungan yang lebih jauh.Buktinya saja, Sampai sekarang teman yang bertanya itu telah aku anggap sebagai seorang sahabat, iya..ia pantas disebut seorang sahabat …

Sahabat yang mau saja mendengar apapun ceritaku, mengenai seorang pria yang begitu kucintai, aku suka bercerita padanya, karena mungkin ia menunjukkan rasa ketertarikan akan cerita ku tentang pria itu, ah aku tidak tahu apa ia betul-betul tertarik, tapi kalaupun tidak, ia menghargaiku dengan mau mendengarku

Sahabat yang mau saja aku mintai tolong untuk melakukan apa saja, karena aku tahu ia lebih percaya diri melakukannya di banding diriku yang pemalu ini

Sahabat yang mau saja menemaniku berjalan kaki yang cukup jauh di hiruk pikuk kota Makassar untuk membeli buku, karena kami tidak punya ongkos untuk naik kendaraan

Sahabat yang dengan jujurnya memberi tahu kesalahanku tanpa takut saya tersinggung, dan selalu berusaha agar aku memperbaiki sifatku itu.

Sahabat yang mungkin di hari-hari tertentu bisa menjadi musuh karena ego kami masing-masing

Sahabat yang kadang berbeda pendapat denganku mengenai apa saja, kadang kami memperdebatkan pesan dalam suatu film, kadang ia menutup telinga saat saya memutar lagu band rock, kadang saya mulai sakit kepala jika dipaksanya membaca buku sastra yang benar-benar memusingkan, kadang kami memperdebatkan siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kasus Century.

Sunshine…
Itu nama sahabatku

Katanya ia senang jika dipanggil dengan sebutan itu, dan betapa senangnya dirinya saat mengetahui ada lagu Jason Marz yang berjudul sama.

Sunshine itu seorang yang unik, yang masa bodoh dengan pendapat orang mengenai pakaian yang dikenakannya hari itu
Masa bodoh dengan kami yang menutup telinga saat ia bernyanyi yang lebih mirip menggumam
Masa bodoh dengan orang yang greget ingin meremasnya saat ia memasang tampang polos di saat seseorang bertanya serius

Sunshine….
Artinya itu matahari bersinar
Mengapa akhri-akhir ini tak ada kecerahan di wajahmu
Kau punya masalah? Kami juga semua punya masalah kok
Kami ingin melihat wajahmu cerah kembali lagi,, sama seperti saat kau berloncat girang memberitahu kau akan ke Amerika,

Tapi aku senang saat ada sinar matahari di wajahmu saat kami tadi bertandang ke rumahmu
Sunshine….
Saat berpelukan di rumahmu kemarin, dan tahu kau akan ke Amerika dua bulan dan kami akan KKN di daerah antah berantah, tiba-tiba rasa iri di dadaku hilang entah kemana berganti dengan rasa kehilangan.
Merindukan semua apa yang kita lakukan
Saling menunggu kuliah selesai duduk di koridor, bergosip mengenai cowok cakep fakultas sebelah, makan bareng di Kansas, pergi nonton di TO dengan uang pas-pasan atau duduk2 di Solaria menunggu makanan sambil menikmati J.Co
Sunshine
Semoga dua bulan kemudian kita bertemu lagi di koridor tercinta dan bercerita mengenai pengalaman masing-masing

P.S : sepertinya daftar oleh-oleh yang saya mau bakal lebih panjang dari catatan kecil di atas, MAAF nda bisa antar ke bandara...

Senin, 14 Juni 2010

How are You? Email to Tya.

Dear Tya,

I've been from Fry's, shopping needs for a weeks. Its weird you know look rice again. Even it's been just three days I left Indonesia, I missed our main food.

So...we've already seen University of Arizona and CESL. It was very hot and dry in here. Tadi pagi sekitar jam 11 setelah breakfast, kita ke Chase Bank. Bikin rekening dan ATM disitu. Hampirka ndabisa bikin karna diminta KTP ku dan sa lupa bawa dompet dan KTP ku ada di dompet. Untungnya ada fotokopian nya di map dokumen IELSP ku. Jadi, untunglah bisa diterima.

Oh iya, nama guard dari IIE New York, Chris Cassucio. He was really cute, Tya! Andaikan bisa foto sama-sama dia sebelum balik ki ke NYC. Trus guard dari CESL namanya Megan Goold. She was beautiful either. Two people inilah yang jemput kita di Bandara Tucson kemarin dan mengurus kita sampai hari ini disini.

Jadi, setelah dari Bank Chase, ke Islamic Centre Tucson ki sebentar buat sholat Dhuhur. Ada teman namanya Sheeren dari Iran , Amiika kalo nda salah namanya dari Saudi Arabia. Trus ada juga dari Libya tapi saya lupa namanya. We did nice conversation with them.

Dari Islamic Centre, kita kembali ke Chase Bank lagi untuk tunggu teman-teman yang belum selesai. Dari Chase Bank baru kita going back to CESL and did placement test there. We did grammar, listening and writing test. Salah strategi ka. Mestinya salah-salah saya jawab supaya nda tinggi level ku..maumi diapa, saya dapat level 3 untuk grammar dan level 4 untuk listening. Level nya 1-4.

Setelah dari CESL lah kita ke Fry's. Ya ampun Tya, imagine ko? I spent 89$ there! For food, of course. But I bought THE OUTSIDER DVD and kacamata sunreader seharga 15$.

Bekal dari IIEF 100$ sudah habis. Tinggal sedikit. Jadi, yah...saya cuma bisa bergantung sama uang yang di Chase Bank itu. Tapi adapi 5 hari kedepan...

That's my story, Tya. Just wait for another, tomorrow is gonna busy time.


Love,
Ri

Minggu, 13 Juni 2010

Catatan Perjalanan yang Hanya Bisa Ditulis di Handphone

I
Akhirnya saya sampai di Jakarta (lagi). Bertemu teman-teman Arizona Cohort 7 IELSP lagi. Rasanya beda sekali. Tadi pagi di Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar, berpisah dengan Isti Tya Rahma Anita Ira Chank dan Noe. Beberapa jam kemudian saya sudah berada di salah satu kamar hotel di Jakarta Airport Hotel bersama Yeyen dan Hera. Di kamar sebelah ada teman-teman yang lain, di kamar yang lain.

Tomorrow is the big day. Tomorrow is our departure day go to Tucson, Arizona, United States of America. It feels like WOW to me.

Mami sedang berusaha untuk tidur di tempat tidur. Kamar ini nyaman dan cozy. Hera sedang santai juga di bed sambil memilih channel TV. Dia berhenti di saluran HBO yang memutar The Dark Knight.

Yeyen keluar cari makan siang bersama Agus mungkin.

Saya sendiri, memilih untuk ya...menulis ini.

Dan ternyata saya akhirnya tertarik menonton The Dark Knight.


Love,
Sunshine

II

Melelahkan tapi penuh kesan. Itu mungkin yang akan saya jawab kalau ditanya, "How was your flight?"
Dari Cengkareng sampai disini, Narita, saya merasa lelah. Tapi saya masih bisa bertahan, karena saya memang harus bertahan. Saya masih harus berjalan dan terbang melewati LAX, bandara internasional di Los Angeles lalu Tucson, di Arizona.

Ya Allah, beri kekuatan dan lindungan-Mu.

La haula wala quata illa billah.

Kelelahan dan semua rasa letih itu terasa tak begitu penting lagi saat tiba dan melihat dan berkeliling-keliling di bandaranya. It was awesome and it still unbelieveable for me. How could I be able in here, in Tokyo, Narita International Airport?

Me and Wiwid spent 50 dollars for souvenirs from here. I bought Anne Frank:The Diary of a Young Girl, Komik Detective Conan 89 edition dan a postcard. Wiwid bought some souvenirs, too.

And we spent 50$ for them. Can you imagine it?

We still habe umm,...maybe one hour until our flight to Los Angeles.

Ya Allah, mohon lindungan-Mu selalu...


Love,
Sunshine