Selasa, 27 Oktober 2009

Selasa, At Radio Medika Unhas

Noe sedang ada di kabin siaran. Lagi ON AIR. Dia sekarang sudah jadi penyiar di radio yang bermarkas di Fakultas Kedokteran lantai 3 ini. 
Dan saya sedang menunggunya sambil online pake Macbook nya yang baterenya tinggal 12 persen, memakai menit-menit terakhir untuk meng-update blog ku yang sudah lama kutinggalkan karna kesibukan yang tidak jelas di kampus.
Kemarin saya gagal dapat beasiswa Indosat, jatuh di wawancara. Hmm, mungkin memang bukan rejeki. Mungkin rejeki orang lain, tapi Mami terus-terusan kecewa. Jadi, untuk menghibur hatinya saya kembali mendaftarkan diri untuk beasiswa ke Amerika-IELSP. Alhamdulillah, TOEFL ku mencukupi, jadi bersama Ridho, saya pun kini mengurus berkas-berkas persyaratannya. Semoga rejeki ada di beasiswa ini kan? Who knows?

Come on, Noe...hurry up. I'm almost boring here. Walaupun bisa online gratis, huhuhuhu...

Brainwave sedang di BTP. Entahlah, mungkin lagi ngedit- pekerjaan  yang selama ini membesarkannya. Anita tadi juga sms, dia nyusul ke sana. Jam enam nanti ada take gambar (baca: syuting) buat film tugas Cinematografi. 
Sebenarnya saya sudah mulai merasa tidak nyaman disana. Tapi karna tak ada tempat lain dijadikan lokasi pengambilan gambar dan pemeran utama cowoknya cuma ada waktu pas jam entar, jadilah jadwal syuting hari ini, jam enam sore di BTP.

I don't know my true feelings, but I kinda like in here. I missed Noe so much and I really seldom spent time together with her. And I think, this is the only time between our busy time. So, here I am. Menunggu Noe yang lima belas menit lagi selesai.

Songs from Mocca playing...
reminds me of Rahma

After from here, I'm going to BTP or Dini's home, borrowing her laptop to do Jursir.
I'm gonna late home...
AGAIN

-Sunshine-

Kamis, 08 Oktober 2009

How Deep Is Your Love?

How Deep Is Your Love?

Sebenarnya ini sudah kelewat malam membicarakan tentang cinta- cintaan. Tapi karena Tya menuntut tentang tulisan yang sudah kuceritakannya tadi dalam perjalanan menuju Antara, harus jadi, disinilah aku sekarang. Di depan monitor, menuliskan apa yang sudah kujelaskan tadi padanya.

BAGAIMANA kau tahu seseorang cinta kepadamu? Bagaimana kau bisa yakin bahwa dia benar-benar sayang kepadamu? Bagaimana kau sadar bahwa laki-laki inilah yang tulus dan benar-benar cinta kepadamu dengan segala kekurangan dan kelemahanmu? Bahwa bagaimanapun dan kapanpun nanti dia tak akan meninggalkanmu? Dengan mengatakan, "aku mencintaimu" kah? "Aku sayang padamu"? "Aku jatuh cinta padamu"? "Hanya kau yang ada disini" (sambil menunjuk dadanya)? Begitukah?

Karena, saat kita telah jatuh cinta, tak ada yang kita percaya selain orang yang kita cintai. Semua kata-kata yang dikatakannya, bagi kita adalah benar dan pasti. Kita tak tahu dia berbohong ataukah dia jujur. Semua kata-kata itu, yang telah biasa kita dengar dan kita nilai sebagai rayuan gombal semata, tiba-tiba menjadi kalimat yang paling indaahh yang pernah kita dengar. Dan alhasil, kita tak bisa tidur saking seringnya memikirkan "makna" kalimat itu. Padahal bisa saja, mereka mengatakannya tanpa niat dan tujuan apa-apa. Mereka hanya mengatakannya padamu, ingin membuatmu bahagia dan terkesan dan membuat mereka semakin dicintai.

Begitulah...

Namun, bukan berarti semua bisa digeneralisasikan begitu adanya. Bukannya aku tidak memercayai kalimat bualan itu. Bukan, sama sekali tidak demikian. Aku hanya merasa lebih terkesan dan terharu pada orang-orang yang menyatakan rasa cinta mereka dengan cara mereka sendiri. Cara yang gila, kalimat pendek namun sakti. Kata-kata yang akan diingat sampai kapanpun, hingga seratus tahun yang akan datang setelah mereka menikah. Cara yang bisa dibilang tanpa kata-kata cinta, tanpa kata-kata sayang dan tanpa kata-kata rayuan itu. Pernahkah kau mendapatkannya?

Bagi Clare, saat Henry mengatakan di depan keluarganya, "Aku akan menikahinya, apapun yang terjadi..." (I'll marry her, no matter what). Saat itulah, Clare yakin "DIALAH laki-laki yang akan kunikahi. DIALAH nanti yang menjadi ayah anak-anakku"

Atau saat Jean, seorang bellboy hotel, rela-rela saja menghabiskan seluruh tabungannya yang tidak seberapa itu demi menyenangkan hati Irene, wanita cantik materialistis yang suka hidup mewah. Bahkan saat uangnya tinggal satu koin, dia menukarnya dengan sepuluh detik. Sepuluh detik waktu tambahan untuk melihat wajah Irene, gadis yang setengah mati dicintainya, saat Irene sudah mau meninggalkannya karena Jean sudah kehabisan uang. (Priceless)

Atau saat Manny berjalan sejauh sepuluh kilometer menuju rumah Nanny. Hanya untuk melihat wajah gadis yang dicintainya itu selama lima menit. Karena setiap malam, Nanny akan keluar membuang sampah di depan rumah selama lima menit. Manny yang jatuh cinta itu, tak pernah keberatan menjalani sepuluh kilo itu berjalan kaki. Dia bahkan sudah merasa bahagia, saat dia telah melihat Nanny seharian itu, walaupun cuma lima menit......

Jadi, bagaimana kau bisa yakin dia benar-benar mencintaimu?

-sunshine-

Henry

Clare :

Henry tidak mengatakan kata-kata cinta malam itu. Tapi dia berjanji akan menjaga dan melindungiku dari apapun yang akan datang, dan bagiku, itu lebih dari sekedar kata-kata romantis apapun yang pernah kudengar.

-sunshine-

Story of Clare with Henry part IV

Henry:
Apa yang terjadi jika saat itu aku tak tersesat dalam lorong-lorong rumah sakit berbau pembersih lantai cemara itu? Bagaimana seandainya supir taksi yang membawaku, lebih lambat atau lebih cepat semenit ? Mungkin aku tak akan bertemu dengan Clare, tak akan terpesona oleh wajahnya. Oleh senyumannya. Oleh keanggunannya yang juga menjadi kekuatan terbesarnya. Dan mungkin, aku tak akan jatuh cinta padanya.

Clare:
Saat itu ayah keluar dari rumah sakit. Aku bersyukur pada-Nya, akhirnya doaku terjawab juga. Ibu sudah meninggal sejak aku kecil dan sejak hari itu, ayah lah yang menjadi orang tuaku satu-satunya. Aku bahkan takut kehilangan ayah lebih dari kehilangan diriku sendiri. Aku lalu menghubungi Bibi Marie yang kemudian membawa suaminya, Paman Sam, untuk membantuku membawa pulang ayah sementara aku membereskan urusan rumah sakit. Saat aku selesai, aku lalu mengucapkan terima kasih pada dr. Robert dan berpamitan untuk pulang saat seorang laki-laki dengan keras menubrukku, membuat tas bawaan yang lumayan berat itu, jatuh. Aku dan laki-laki itu bersitatap. Lalu, entah suara darimana dari dalam diriku, berteriak. membuat jantungku seakan berhenti berdetak. He's your Henry, Clare...

-sunshine-

The Story of Clare with Henry part III

Bagi Henry, senyuman Clare berarti segalanya. Maka setiap pagi, setiap Henry membuka mata, dia akan melihat senyum Clare. Senyum itu berarti,"Aku mencintaimu, Henry!". Jika Clare tersenyum mendengar lelucon-lelucon yang diceritakannya, maka senyumannya itu akan berarti, "Kau bisa bercerita tentang apapun dan aku akan selalu menyukainya". Senyuman Clare saat menyiapkan makan malam berarti, "Bagaimana harimu, sayang?"Dan Henry sudah mengenal makna senyuman Clare seperti dia mengenal dirinya sendiri.Bahkan saat airmata Clare keluar, saat dia menangis terisak, saat dia menangis hebat, dia akan tersenyum. Senyumannya itu seperti bicara padanya. "Kau akan berada di sampingku saat aku berduka, kan? Saat aku tua? Saat aku marah? Saat aku terpuruk dan jatuh miskin? Kau akan membiarkan aku bersandar dalam pelukanmu saat aku sakit, kan?"Maka...Setiap pagi Henry akan berbisik membalas senyuman Clare dengan ucapan, "Aku juga mencintaimu, Clare..."Dan Henry juga akan bercerita pada Clare betapa hari itu menjadi hari yang paling indah atau paling buruk, saat Clare menyiapkan makan malam mereka.Henry akan mengangguk berpuluh kali untuk menenangkan Clare. Saat Clare merasa putus asa, saat Clare merasa kesepian. Saat Clare tersenyum dalam tangisannya.

-sunshine-

Story of Clare and Henry part II

Clare menunggu hari itu. Hari dimana dia duduk di beranda depan rumahnya sambil menikmati satu dua seruput kopi manisnya. Dia memandang ke arah pagar dan menunggu. Menunggu kedatangan Henry. Henry akan datang dari luar pagar, dia akan membuka gerendel depan dan membawa masuk diri dan senyuman khasnya ke hadapan Clare. Clare akan menjatuhkan rajutannya, memperbaiki letak kacamatanya dan menatap lekat-lekat pada pria kecintaannya itu, pada Henry. Henry miliknya. Dia tak akan perduli pada kakinya yang sudah tak kuat, gerakannya yang sudah tidak selincah dulu, kulit wajahnya yang sudah mengkeriput dan mengelupas. Clare tak akan memperdulikan lagi pendapat Henry tentang apakah dia cantik sore itu atau tidak. Dia tidak akan mendengar pendapat Henry betapa rambutnya telah memutih dimakan usia atau tidak. Clare akan mengacuhkan semua hal tentang bagaimana dirinya di mata Henry saat itu. Clare akan beranjak dari kursinya, berdiri memandangi Henry dari atas ke bawah, menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya, menatap mata dan senyumannya, menanti. Sepersekian detik, Clare mengambil langkah pertama menuju kekasihnya. Henry merentangkan tangannya, bersiap merengkuh tubuh Clare yang kecil dan renta. Clare berlari kecil, meninggalkan kursi dan berandanya menuju halaman rumahnya yang berumput. Menyambut pelukan Henry.Bagi Clare, sore itu akan tetap bersemayam dalam pikirannya.Di dalam benaknya, adegan-adegan itulah yang akan terjadi saat Henry kembali. Karena seperti itulah yang diinginkannya.

-sunshine-

Story of Clare and Henry

Saat marah, Clare menjadi anak kecil. Saat dia merasa senang, dia akan membongkar laci mejanya, mengeluarkan DVD-DVD kesukaannya, dan lalu duduk di depan TV berjam-jam. Saat Clare merasa sedih, seperti kebanyakan orang, dia menangis tanpa suara. Kalau rasa sakit dalam hatinya tidak terperikan, dia menutup wajahnya dengan bantal sampai dia tak bisa bernapas, dan itu akan mengurangi apa yang dirasakannya. Saat Clare merasa kecewa, dia mengirimi teman-temannya pesan berisi kekecewaannya. Ketika lelah merayapinya, insomnia akan datang mengikutinya. Lelah dan insomnia; akan membuat Clare menjadi volcano yang bisa meledak kapan saja, lalu dia kembali menjadi anak kecil. Volume TV kesukaan Clare saat menonton berita adalah 20, karena dia selalu ingin memancing perhatian Dad untuk menonton berita bersamanya. Jika dia menonton tayangan musik, dia memberi volume sampai 42. Kalau lagu itu dia hafal, dia akan ikut bernyanyi. Tapi kalau tidak, dia akan menghentakkan kaki atau kepala atau pinggulnya mengikuti apapun irama musiknya. Lagu kesukaan Clare adalah Dancing Quenn dari ABBA, Kiss Me nya Sixpence None The Richer dan lagu soundtrack dari film Flashdance, What a Feeling. Emosi yang dirasanya paling kuat terjadi saat dia jatuh cinta. Karena saat itu tak ada satupun yang tahu; marahkah ia, senangkah, sedih kah ia, merasa kecewa kah... Clare sendiri bahkan tidak mengerti pada perasaannya sendiri. Dia hanya tahu bahwa setiap hari yang dijalaninya semakin pendek. Dia bahkan sering senyum-senyum sendiri tanpa ada sesuatu yang lucu. Dia marah tanpa alasan yang jelas. Dan bahkan kadang-kadang, dia akan membanting pintu kamarnya setelah pulang dari sekolah, dan tidak lama terdengar suara sesenggukan dari dalam kamarnya. Walaupun jatuh cinta menjadi situasi yang paling dibencinya, anehnya, dia sering sekali merasakannya. Clare jatuh cinta, setelah selama sebulan tanpa jawaban dan kepastian, dia akan melupakan cintanya itu, mengubur dalam-dalam kisah dan perasaannya dan menjadi baru lagi. Begitu seterusnya. Cinta Clare tak pernah terbalas, setidaknya hingga dia bertemu Henry.

-sunshine-

Kamis, 14 Mei 2009

langit. bintang.

ingin mempersembahkan senyuman ku pada langit yang masih biru. Pada langit yang masih setia menemani mentari menata pagi.

ingin mengutarakan kekagumanku pada langit malam. Pada langit yang masih setia menemani bulan dan menebarkan bintang-bintang di langit jagad alam.

Di kala kita mendongak memandangnya di kala malam, di sepanjang jalan yang kita lalui berdua.

-sunshine-

Selasa, 21 April 2009

-no reason- curhat part I

Uuughh..
sa sungguh tak mengerti!!!
Belakangan ini, sa sudah jarang lagi update blog. Belakangan ini sa sudah jarang menghabiskan waktu seharian membaca dan menghabiskan satu atau dua buku. Belakangan ini sa sudah jarang duduk di depan monitor, menonton satu-dua film.
Kenapa itu terjadi??
Mungkin karna kesibukan. Tapi kalau mau diliat-liat lagi, sebenarnya sa sibuk apa? Toh, dulu kuliah tetap jalan, kegiatan demi kegiatan Kosmik tetap ada. Produksi film juga ada meskipun tidak seketat "Dobel Enam".
Lalu ada apa sebenarnya?
Coba kita telusuri baik-baik. Ehm...
Buku yang terakhir saya baca itu judulnya A Cat in My eyes nya Fahd Djibran. Itu sa selesaikan sekitar akhir Maret, tapi blum sempat posting di blog.
Film terakhir yang sa nonton??? Apa di'? Umm..astaga sa lupa! Saking lamanya mi sa nda nonton film. Tapi film yang sa nonton nda selesai itu I'm Not There. Tapi blum selesai. Banyak film d kompi yg belum sempat sa nonton dan sa review. Mungkin Revolutionary Road kali ya??

Lalu ada apa dengan diri saya sendiri yang sudah tak pernah lagi menyentuh buku ataupun menonton film?
Mungkin sa cuma kehilangan passion tentang dua hal itu. Mungkin memang ada kalanya melepaskan rutinitas itu, lalu di saat yang lain, mengambil nya kembali, menjalaninya lagi seperti awal dulu. Sa tak perlu begitu gusar kan? Sa hanya perlu sedikit santai dalam berpikir kan? Sa hanya perlu satu hari untuk DIRIKU sendiri. Hari dimana sa benar-benar melakukan apa yang saya mau, meskipun untuk melakukan semua yang sa mau tak akan cukup dalam sehari.

Makasih telah mau membaca ini..

Sabtu, 11 April 2009

-no more-

Dia menyukaimu.
Mengapa?
Pernahkah kau bertanya padanya alasannya?

Ya, aku tahu.
Aku tak tahu.
Tidak, belum pernah

Padahal aku bingung.
Bingung padanya juga bingung padanya
aku bingung pada mereka


Aku belum punya jawaban jiwa untuk pertanyaanmu
Sudikah kau mengerti?

Mungkin aku menyukaimu, sedikit
Mungkin aku mengharapkanmu, sedikit
Tapi tak banyak.

Senin, 23 Maret 2009

Diskusi CCC-Kosmik UH




CCC ( Cmmunication Cyber Club) sebagai salah satu biro di Kosmik yang mewadahi para pecinta dunia cyber, pada hari Sabtu (14/03/09) kembali mengadakan diskusi bersama warga Kosmik. Bertempat di koridor FIS 3-depan ruang 208- peserta yang berjumlah sekitar 20 orang hadir dan diberi materi mengenai langkah-langkah dalam instalasi Laptop ataupun PC (Personal Computer).

Materi dibawakan oleh Kanda Rustan (Kosmik'06) bersama Kanda Syahrul (Kosmik '06), koordinator biro CCC-Kosmik tahun ini. Dimulai dengan pengenalan settingan BIOS, basic input-output system, instalasi OS (operating system) dalam hal ini Windows, tips and trik registry hingga sejarah perkembangan Windows. Kak Rustan juga menjelaskan tentang how to tweaking ; yaitu cara mengoptimalkan kerja komputer/ laptop, troubleshooting dan penanggulangannya hingga pengenalan system file pada harddisk; FAT dan NTFS.

Sebelumnya pada hari Senin (16/02/09) materi awal juga dibawakan oleh Kak Mitha (Kosmik'06). Peserta saat itu lebih bersemangat memperhatikan sewaktu Kak Mitha membawakan materi mengenai hardware komputer. Dimulai dari pengenalan RAM/DDR, pengenalan processor, motherboard, power supply hingga spesifikasi komputer.

"Teman-teman CCC saya harapkan bisa memahami komponen-komponen software; termasuk OS, cara instalasinya atau memaksimalkan kerja komputer", jelas Kak Rustan, saat ditanya mengenai harapannya kepada peserta setelah diskusi CCC. Diskusi CCC selanjutnya akan membahas tentang "Networking & Games" dan juga "Wireless Hardware". Semoga saja diskusi selanjutnya bisa lebih mengedepankan mater-materi yang bermutu. (Riana)

Rabu, 18 Maret 2009

The Boy in The Striped Pajamas



The Boy in The Striped Pajamas (Book)

Novel setebal 216 halaman ini ditulis oleh John Boyne, penulis asal Irlandia. Dia menulis draft awal novel ini selama dua setengah hari dan saat dipublikasikan, novel ini langsung terjual lebih dari 4 juta kopi di seluruh dunia.

Novel ini bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Bruno yang terpaksa pindah dari Berlin menuju luar kota karena ayahnya dipindahtugaskan kesana. Di jendela kamar rumahnya yang baru, dia bisa melihat dari kejauhan orang-orang dari segala usia memakai baju bergaris-garis. Bruno mengistilahkannya 'striped pyjamas', tanpa tahu apapun mengenai mereka dan alasan mereka memakai seragam bergaris itu.

Yang saya sukai dari novel ini adalah kemampuannya bercerita tentang tema yang rumit dari sudut pandang yang sederhana. Holocaust yang terjadi di zaman Hitler di Auschwitz, Bruno menyebutnya "Out-With", mampu diceritakan dari pandangan anak-anak. Istilah 'pagar' yang dihadapi oleh Bruno saat bertemu Shmuel yang ternyata adalah pembatas wilayah kamp konsentrasi Nazi dengan wilayah diluar itu. Hingga penggambaran 'striped pyjamas' oleh Bruno yang ternyata adalah seragam tawanan Holocaust yang berwarna biru-hitam-putih.

Penggambaran karakter tokohnya kuat dan jelas. Bagian terbaik ada pada endingnya yang kurang digambarkan secara detail dan rinci, namun cukup dimengerti. Karena novel ini diceritakan dari sudut pandang anak berumur sembilan tahun, terdapat banyak pengulang-ulangan kalimat, betapa Bruno ingin mempertegas perasaannya saat pindah ke Auschwitz dari Berlin, rumahnya yang sebenarnya.

have a nice reading!
-sunshine-

Senin, 02 Maret 2009

Bella The Movie (2006)





True Love Goes Beyond Romance

Sebuah film karya Alejandro Gomez Monteverde yang berhasil memenangkan Festival Film Toronto sebagai People's Choice Award. Bella mengangkat kisah cinta yang indah dengan casting yang fantastik dan plot yang kuat. "Sooner or later every one of us will face an irreversible moment that will change our lives forever. If it hasn't happened you yet...it will."

Dan saya sejak dahulu kala, sangat percaya pada kalimat sakti ini.

Dirilis tanggal 26 Oktober 2007, film yang diproduksi oleh Metanoia Films ini mengambil setting di kota New York, dimana lokasi film sepenuhnya juga diambil disana.

Jose (Eduardo Verastegui) suatu hari menghabiskan sepenuh waktunya menemani Nina (Tammy Blanchard), yang habis dipecat oleh pemilik restoran tempatnya bekerja, Manny (Manny Perez), yang kebetulan adalah kakak angkat Jose. Mereka berjalan di sepanjang kota New York dan menghabiskan setengah hari dengan berkunjung ke rumah Jose. Nina yang masih terluka karena kehilangan anaknya akibat aborsi dan dia juga dipecat, akhirnya merasa terhibur karena perhatian yang diberikan Jose dan keluarganya. Namun tanpa disadari Nina, bukan hanya dia yang merasa terobati. Jose pun merasa tersembuhkan setelah menceritakan pada Nina tentang masa lalunya yang kelam. Mereka pun merasa saling membutuhkan satu sama lain.

Film berdurasi 1 jam 40 menit ini, alurnya dibuat maju-mundur. Dan membuat penonton bertanya-tanya apa tepatnya yang terjadi pada Nina, pada aborsi nya dan siapa tepatnya anak perempuan kecil yang dia temui pada akhir cerita. Namun, mengesampingkan hal-hal itu, Bella juga memberikan sudut-sudut New York yang indah, pantainya yang menakjubkan saat malam dan original soundtrack yang tak terlupakan.

Have a nice watching!
-sunshine-

Hounddog (2007)



Saat Tya hari itu memperlihatkan DVD yang baru saja dibelinya, dan saya melihat judulnya, saya tiba-tiba terkejut. Film yang dibelinya berjudul Hounddog. Sampul depan kasetnya pemeran utama film itu, tak bukan tak lain, Dakota Fanning. Saya tiba-tiba tertarik ke masa lalu, masa yang sudah lama sekali, saat film itu familiar di telinga saya. Saya segera meminjam, dan menontonnya.

Dan sekali lagi Dakota Fanning memberikan aktingnya yang memukau.

Film berdurasi 102 menit ini ditulis dan disutradarai oleh Deborah Kampmeier. Mengambil set di tahun 1960 di Amerika bagian Selatan. Lewellen (Dakota Fanning) sangat menggilai Elvis Presley. Lagu yang paling disukainya berjudul Hounddog. "You ain't nothin' but a hounddog, cryin' all the time..". Lagu berirama cepat itu biasa dinyanyikannya dengan menari layaknya penari bar. Suatu hari, sahabat Lewellen, Buddy (Cody Hanford) mengabarkan padanya bahwa Elvis Presley akan datang. Lewellen senang bukan main. Dia pun meminta Buddy untuk mencarikannya tiket. Disinilah konflik mulai terjadi. Buddy akhirnya mendapatkan Lewellen tiket, namun Lewellen harus bertemu dengannya di sebuah garasi kosong dekat sungai tempat mereka biasa bermain. Lewellen, di sore itu, mengabaikan sapaan tetangga nigger nya,Charles (Afemo Omilami), berlari dengan senang bukan kepalang menuju tempat janjian mereka. Sampai disana, dia diperkosa.

Setelah itu, Lewellen tidak sama lagi dengan Lewellen yang dulu.

Film ini bercerita tentang bagaimana bangkit kembali setelah kejadian yang amat buruk menimpa kita. Bagaimana caranya untuk mengisi lagi lubang yang tercipta akibat kejadian buruk itu. Scene yang amat saya sukai adalah scene saat Lewellen diambil oleh Charles untuk diobati. Charles meminta Lewellen agar mengeluarkan semua pedih hatinya melalui musik. Lewellen akhirnya menyanyikan Hounddog dengan versi yang berbeda, Hounddog yang sesuai dengan suasana hatinya, dengan syahdu dan melankolis.

Have a nice watching!
-sunshine-

Minggu, 01 Maret 2009

81st Annual Academy Awards-The Biggest Movie Event of The Year



81st Annual Academy Awards®

Yup, here it is! Para nominasi dan pemenang Oscar yang diumumkan hari Minggu, 22 Februari 2009 di Kodak Theatre kemarin. Walaupun postingannya sudah terlambat, tapi yah akhirnya dipublish juga. Dan jagoan ku Slumdog Millionaire memperoleh 8 piala! Congratulation!!!

Best Motion Picture of the Year
WINNER
Slumdog Millionaire (2008): Christian Colson
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Ceán Chaffin, Kathleen Kennedy, Frank Marshall
Frost/Nixon (2008): Brian Grazer, Ron Howard, Eric Fellner
Milk (2008/I): Bruce Cohen, Dan Jinks
The Reader (2008): Anthony Minghella, Sydney Pollack, Donna Gigliotti, Redmond Morris

Best Performance by an Actor in a Leading Role
WINNER
Sean Penn for Milk (2008/I)
Nominees:
Richard Jenkins for The Visitor (2007/I)
Frank Langella for Frost/Nixon (2008)
Brad Pitt for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Mickey Rourke for The Wrestler (2008)

Best Performance by an Actress in a Leading Role
WINNER
Kate Winslet for The Reader (2008)
Nominees:
Anne Hathaway for Rachel Getting Married (2008)
Angelina Jolie for Changeling (2008)
Melissa Leo for Frozen River (2008)
Meryl Streep for Doubt (2008/I)

Best Performance by an Actor in a Supporting Role
WINNER
Heath Ledger for The Dark Knight (2008)
Nominees:
Josh Brolin for Milk (2008/I)
Robert Downey Jr. for Tropic Thunder (2008)
Philip Seymour Hoffman for Doubt (2008/I)
Michael Shannon for Revolutionary Road (2008)

Best Performance by an Actress in a Supporting Role
WINNER
Penélope Cruz for Vicky Cristina Barcelona (2008)
Nominees:
Amy Adams for Doubt (2008/I)
Viola Davis for Doubt (2008/I)
Taraji P. Henson for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Marisa Tomei for The Wrestler (2008)

Best Achievement in Directing
WINNER
Danny Boyle for Slumdog Millionaire (2008)
Nominees:
Stephen Daldry for The Reader (2008)
David Fincher for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Ron Howard for Frost/Nixon (2008)
Gus Van Sant for Milk (2008/I)

Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen
WINNER
Milk (2008/I): Dustin Lance Black
Nominees:
Frozen River (2008): Courtney Hunt
Happy-Go-Lucky (2008): Mike Leigh
In Bruges (2008): Martin McDonagh
WALL·E (2008): Andrew Stanton, Pete Docter, Jim Reardon

Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
WINNER
Slumdog Millionaire (2008): Simon Beaufoy
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Eric Roth, Robin Swicord
Doubt (2008/I): John Patrick Shanley
Frost/Nixon (2008): Peter Morgan
The Reader (2008): David Hare

Best Achievement in Cinematography
WINNER
Slumdog Millionaire (2008): Anthony Dod Mantle
Nominees:
Changeling (2008): Tom Stern
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Claudio Miranda
The Dark Knight (2008): Wally Pfister
The Reader (2008): Roger Deakins, Chris Menges

Best Achievement in Editing
WINNER
Slumdog Millionaire (2008): Chris Dickens
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Angus Wall, Kirk Baxter
The Dark Knight (2008): Lee Smith
Frost/Nixon (2008): Daniel P. Hanley, Mike Hill
Milk (2008/I): Elliot Graham

Best Achievement in Art Direction
WINNER
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Donald Graham Burt, Victor J. Zolfo
Nominees:
Changeling (2008): James J. Murakami, Gary Fettis
The Dark Knight (2008): Nathan Crowley, Peter Lando
The Duchess (2008): Michael Carlin, Rebecca Alleway
Revolutionary Road (2008): Kristi Zea, Debra Schutt

Best Achievement in Costume Design
WINNER
The Duchess (2008): Michael O'Connor
Nominees:
Australia (2008): Catherine Martin
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Jacqueline West
Milk (2008/I): Danny Glicker
Revolutionary Road (2008): Albert Wolsky

Best Achievement in Makeup
WINNER
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Greg Cannom
Nominees:
The Dark Knight (2008): John Caglione Jr., Conor O'Sullivan
Hellboy II: The Golden Army (2008): Mike Elizalde, Thomas Floutz

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
WINNER
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Alexandre Desplat
Defiance (2008): James Newton Howard
Milk (2008/I): Danny Elfman
WALL·E (2008): Thomas Newman

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song
WINNER
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman, Sampooran Singh Gulzar("Jai Ho")
Nominees:
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman, Maya Arulpragasam("O Saya")
WALL·E (2008): Peter Gabriel, Thomas Newman("Down to Earth")

Best Achievement in Sound
WINNER
Slumdog Millionaire (2008): Ian Tapp, Richard Pryke, Resul Pookutty
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): David Parker, Michael Semanick, Ren Klyce, Mark Weingarten
The Dark Knight (2008): Ed Novick, Lora Hirschberg, Gary Rizzo
WALL·E (2008): Tom Myers, Michael Semanick, Ben Burtt
Wanted (2008): Chris Jenkins, Frank A. Montaño, Petr Forejt

Best Achievement in Sound Editing
WINNER
The Dark Knight (2008): Richard King
Nominees:
Iron Man (2008): Frank E. Eulner, Christopher Boyes
Slumdog Millionaire (2008): Tom Sayers
WALL·E (2008): Ben Burtt, Matthew Wood
Wanted (2008): Wylie Stateman

Best Achievement in Visual Effects
WINNER
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Eric Barba, Steve Preeg, Burt Dalton, Craig Barron
Nominees:
The Dark Knight (2008): Nick Davis, Chris Corbould, Timothy Webber, Paul J. Franklin
Iron Man (2008): John Nelson, Ben Snow, Daniel Sudick, Shane Mahan

Best Animated Feature Film of the Year
WINNER
WALL·E (2008): Andrew Stanton
Nominees:
Bolt (2008): Chris Williams, Byron Howard
Kung Fu Panda (2008): John Stevenson, Mark Osborne

Best Foreign Language Film of the Year
WINNER
Okuribito (2008)(Japan)
Nominees:
Der Baader Meinhof Komplex (2008)(Germany)
Entre les murs (2008)(France)
Revanche (2008)(Austria)
Vals Im Bashir (2008)(Israel)

Best Documentary, Features
WINNER
Man on Wire (2008): James Marsh, Simon Chinn
Nominees:
The Betrayal - Nerakhoon (2008): Ellen Kuras, Thavisouk Phrasavath
Encounters at the End of the World (2007): Werner Herzog, Henry Kaiser
The Garden (2008/I): Scott Hamilton Kennedy
Trouble the Water (2008): Tia Lessin, Carl Deal

Best Documentary, Short Subjects
WINNER
Smile Pinki (2008): Megan Mylan
Nominees:
The Conscience of Nhem En (2008): Steven Okazaki
The Final Inch (2009): Irene Taylor Brodsky, Tom Grant
The Witness from the Balcony of Room 306 (2008): Adam Pertofsky, Margaret Hyde

Best Short Film, Animated
WINNER
Maison en petits cubes, La (2008): Kunio Katô
Nominees:
Ubornaya istoriya - lyubovnaya istoriya (2007): Konstantin Bronzit
Oktapodi (2007): Emud Mokhberi, Thierry Marchand
Presto (2008): Doug Sweetland
This Way Up (2008): Alan Smith, Adam Foulkes

Best Short Film, Live Action
WINNER
Spielzeugland (2007): Jochen Alexander Freydank
Nominees:
Auf der Strecke (2007): Reto Caffi
Manon sur le bitume (2007): Elizabeth Marre, Olivier Pont
New Boy (2007): Steph Green, Tamara Anghie
Grisen (2008): Tivi Magnusson, Dorthe Warnø Høgh

Source by: imdb.com