Kamis, 10 Februari 2011

Kado Ulang Tahun

Saya selalu menyukai buku bacaan. Apapun genre nya. Namun sejak berteman dekat dengan Kak Aan Mansyur, seolah-olah puisi dan sajak (sastra) membanjiri bacaanku. Tiba-tiba saya mengenal Sara Teasdale, John Keats dan Pablo Neruda. Nama Elizabeth Browning, Thomas Hardy, Robert Frost, Rainer Maria Rilke, John Donne dst, sudah tidak asing lagi di telingaku.

Pas 8 Februari malam kemarin, Kak An- sapaan akrab saya padanya- memberi saya buku ini sebagai kado ulang tahun. Isinya sajak dan surat cinta dari penyair di seluruh dunia. I love it. Walaupun bukunya dalam Bahasa, tapi saya tetap suka. Sejauh ini, saya suka The Look nya Sara Teasdale, Nineteen nya George Bogin dan Should I Compare Thee With Summer's Days nya William Shakespeare. 


Critically acclaimed poet and anthologist, Paul Janeczko has turned his attention to a new compilation of love poems for teens that collects the most poignant and moving musings about love from a diverse group of classic poets and writers like Shakespeare, Dickinson, Whitman, Millay, Angelou, and many more.This is a book girls will carry with them always.

from http://www.paperbackswap.com/Blushing-Expressions-Love-Paul-B-Janeczko/book/0439530563/

Thanks, Kak An.

Love,
Sunshine

Rabu, 09 Februari 2011

22.2.2. Special Day Ever

Better late than never, right?

Di tahun ini, entah alasan apa yang membuat saya merasa Februari menjadi bulan yang penuh cinta. Iya, cinta. Padahal, meski berhubungan atau tidak, dari awal tahun hingga bulan kedua tahun 2011 ini, sudah banyak kabar kehilangan dan berita duka yang saya dengar.

However, karena ini bulan cinta, saya ingin bercerita tentang hari ulang tahun ke-22 saya kemarin, yang jatuh tanggal 2 Februari. Hari penuh cinta terbanyak yang pernah saya dapatkan mungkin seumur umur. There were a lots of happiness and love that day!

Rabu. 2 Februari. Pagi-pagi saya ditelpon sama Kak Riza, menginformasikan semua penyiar CBC FM harus datang karena ada yang akan dibicarakan. I said, okay. I will come. Padahal hari itu, tidak ada rencana ngampus. No plan. at all. Selain karena saya tidak ada ongkos ke kampus, saya masih ingin malas-malasan di rumah.

Jadi, saya ke akhirnya ke kampus. Menunggu di Lab Radio. Menunggu Kak Riza yang tak kunjung datang. Pas dia datang, malah ngobrol saja. Ya sudah, karena saya lapar, saya cari makan di Kolong sama Indah, Resti dan Era. Ternyata, kemudian baru saya tahu, telpon Kak Riza tadi pagi itu cuma pancingan supaya saya ke kampus.

Hari ulang tahunku bersamaan dengan hari ulang tahun Opi. Kami cuma beda setahun. Opi setahun lebih tua dibanding saya. Pas tiba di Kolong, Opi dan Yusuf juga sudah disitu.

Saya pesan makanan, duduk. Pas pesanan saya datang, beberapa menit kemudian,...

at Kolong, Kantin Ekonomi. Opi-kaos putih dan saya pas depan kue ultah.


Tampak Dini, Tya, Icha, Muthe, Rahma berjalan masuk ke Kolong membawa satu kotak kue ulang tahun dengan hiasan lilin HAPPY BDAY di atasnya. They made us birthday surprise party. How sweet of them!! Mereka juga memberi saya dan Opi hadiah. Saya dapat kaos Jason Mraz, Opi dapat novel Tere Liye.

Saat tiba di rumah, Mami Papi mengajak pergi karaokean di D-Class. Kami satu rumah ingin merayakan dan bersyukur untuk hari ulang tahunku ke-22 itu. Di C-Class, saya luarbiasa senang dan nyanyi teriak-teriak sampai tenggorokan sakit. Jingkrak dan lompat-lompat, gila-gilaan sama Warni, Ayu, Lulu, Meli, Tita. Like nothing can't stop us. 

Tita and I in white T

Warni, Lulu and I. Take a picture. Kayaknya Ayu sama Meli lagi nyanyi deh.

YEAH, this is my Jason Mraz T-shirt!!!


Dari D-Class, Mami Papi membawa kami ke Pantai Losari. Makan Pisang Epe' sambil memandang pantai dan langit malam. Kami pulang sekitar jam sebelasan lewat.

Saya sudah bahagia sekali hari itu. Cuma sedikit memikirkan Bwave, dsb. Maksudku, saya ingin menelpon dan bercerita how happy I was that day. Bayangkan, hari spesial mu bersama teman, sahabat dan keluargamu! Kata Cinta Kasih Clarita, "Apa lagi yang kurang?"

Pas sampai rumah, Riri datang. Iya, sekitar jam 12 malam dia datang. Di smsnya bilang dia mau 'nitip' sesuatu. Tapi pas datang, ternyata dia memberi saya kado ulang tahun! Delivery! Pas di kamar saya buka isinya selimut warna ungu yang cukup besar untuk saya dan Meli pakai berdua. Alhamdulillah...makasih ya, Riri.

Sebelum tidur, saya menelpon Bwave hampir dua jam. Cerita semuanya. Banyak hal. Dia cerita ini, saya cerita itu. We shared information, stories, laugh, thoughts and so on.

And that calls made my special day was COMPLETE.

Alhamdulillah. Thanks God. YOU always be right there for me. YOU gave me such a kind and lovely people around me. Thanks for EVERYTHING. For love and sincere.

Mestinya kita jangan menebarkan permusuhan, perang dan kekerasan. Kenapa kita tidak saling cinta saja? Bukankah itu lebih indah dan menyenangkan?


Love,
Sunshine

Minggu, 06 Februari 2011

I Concern

I concern about almost everything here, in Indonesia

about news nowadays,
about climate and extreme weather changing,
about war and peace all over the world,
about poverty,
illiteracy and education,
corruption and unfairness of laws,
kind of movies which are really bored and practically just think about gross.

and the most thing I hate is, I almost cannot do anything about those things.

maybe the idea to make a change is just too big to me.
But I swear I am going to do something big.

Start with preparing myself. begin with a small step.
living life with a good things. for a better future.

why we're just keep asking for all things happened?
why weren't we doing something?
and let's start with ourself.

at least, if you don't do it for your country. just do it for yourself or your family or for someone you loved.

THINK BIG. ACT BIG. BE A PART OF SOMETHING BIG.
MAKE A CHANGE

Love,
Sunshine

Kamis, 03 Februari 2011

Goodbye, Pace

suasana di pekuburan TPA Poltek.

Cuma gambar di pekuburan TPA Poltek ini yang bisa saya ambil sore tadi. Saat dengar kabar Pace--suami Mace, meninggal di Pasar, tempatnya biasa menjual, saya langsung menghubungi teman Calisto7 yang berniat ingin mengantar jenazahnya. Semoga beliau diterima di sisi-Nya. Semoga Mace sekeluarga diberi ketabahan dan kesabaran melebihi apapun yang pernah ditanggungnya. Amin, ya Rabb.

"Karna kematian sesungguhnya sangat dekat dengan kita, death is just a part of life.."


Love,
Sunshine

Selasa, 01 Februari 2011

Olenka


Zahir. Itu kata yang membuat saya tertarik membaca postingan Kak Ema di blognya. Untuk menggambarkan kata itu dia pun menulis beberapa paragraf tentang sebuah cerita dalam novel berjudul Olenka. Saya penasaran, meminjamnya dan kemudian menghabiskan beberapa hari membacanya.

An author, Budi Darma, wrote this book on 1983, took Bloomington, Indiana, US as a setting of its story. 'Olenka' tells about a man named Fanton Drummond, who crazy about a woman named Olenka, who already had a husband and son. they met in a elevator of their apartment, Tulip Tree. since then, Fanton Drummond couldn't get her out of his mind. Everything he thought, it's just about Olenka, about her.

Kira-kira begitu cerita singkatnya.

Di Indonesia sendiri buku ini diterbikan oleh Balai Pustaka dan sudah berkali-kali dicetak ulang. Novel yang ditulis dalam waktu tiga minggu ini berhasil menjadi pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan termasuk salah satu karya sastra besar Indonesia.

Dalam buku ini saya tertarik pada apa yang disebut 'Kesatuan Afinitas'. Mengingatkan saya pada pertanyaan yang kerap kali bersarang di kepala saya: "Apakah orang yang kita pikirkan memikirkan kita juga?".

Membaca Olenka, diluar settingnya di luar negeri, saya seperti membaca karya terjemahan. Mulai dari Vanity Fair karya Thackeray, The Darling karya Anton P. Chenkov, Clairvoyante Madame, Balon Trans-Amerika Da Vinci, kisah Margaret Trudeau; mantan istri Perdana Menteri Kanada, Pierre Elliott Trudeau. Sajak-sajak Robert Browning, pemikiran Immanuel Kant hingga The Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne. Belum lagi selipan surat kabar di beberapa halaman di buku ini. Semua hal-hal itu membuat Olenka tidak hanya mengisahkan kisah cinta picisan belaka namun memang hasil pemikiran intelektual yang tidak main-main.

Ini memang bukan novel ringan walaupun berkisah tentang obsesi dalam cinta. Bagaimana benar-benar masuk ke pemikiran tokoh Fanton Drummond dan memahaminya butuh beberapa kali membaca untuk saya.

Budi Darma

Seperti kata Budi Darma, "Karya sastra yang baik bukanlah tulisan yang kaya tindakan-tindakan jasmani yang menakjubkan, akan tetapi kaya berkelebatnya pikiran..."


Love,
Sunshine

Minggu, 30 Januari 2011

IELSP | Volunteer Sub Kitchen

Jadi volunteer di Sub Kitchen

Tucson, 18 Juli 2010

Siang itu, seperti siang yang sama di Tucson, panas dan terang. Amanda dan Jamie sudah menunggu kami di depan apartemen Sahara dengan shuttle CESL. Hari itu, kami menjadi volunteer di Sub Kitchen dan mereka berdualah yang akan mengantar kami menuju Speedway.

Sampai disana, saya menemukan diri saya bersama 18 teman se-grup berada di sebuah lapangan yang cukup luas. Sudah ada beberapa tenda terpasang yang dipakai orang-orang berteduh, duduk dan bekerja. Amanda dan Jamie cukup menurunkan kami disana dan mereka akan menjemput kami dua jam kemudian.

Kemudian kami mendaftarkan diri sebagai volunteer; membuat barisan lalu satu persatu dari kami dicatat namanya dan diberi nametag yang ditempel di kaos dekat dada--sebagai pengenal.

Terlalu panas. Padahal baru jam setengah tiga. Saat summer, puncak panas di Tucson sekitar jam 4. Maka saya meminjam topi milik Sakti dan memakai kacamata karena silaunya tak tertahankan.

Tugas pertama kami yaitu membungkus sendok dengan tisu. Kami diberi sarung tangan plastik untuk menjaga sendok yang dibungkus itu tetap bersih dari kuman. Karena kami banyak, tentu saja, pekerjaan itu segera selesai.

Saya dan Firman lipat-lipat tisu

Kemudian kami pun memilih pekerjaan apa yang hendak kami bantu. Ada yang membantu mengatur semua makanan ke meja, ada yang membantu mengangkat ini itu dan sebagainya. Makin lama, makin banyak orang yang datang.

Kursi-kursi mulai disusun beberapa baris. Stand-stand makanan juga sudah mulai mengatur makanannya ke dalam beberapa boks dan tempat. Stand pakaian dan stand sembako juga sudah siap. Saya dengan teman-teman lain, berjaga di stand sembako. Sebagian lagi di stand makanan.

Saat itu saya dan Wiwid saking hausnya, mencari toserba yang menjual Coke atau Pepsi. Untunglah, ada toserba yang lumayan besar tepat di samping lapangan itu. Wiwid membeli Coke botol sedang. Saat kami kembali, antrian sudah terbentuk.

Betapa tercengangnya saya melihat homeless yang mengantri itu. Mereka memang agak kumal dan tidak terurus tapi mereka semua sehat. Sub Kitchen ini merupakan tempat dimana mereka bisa memperoleh apapun yang mereka butuhkan dalam seminggu. Apapun. Mulai dari makanan, obat-obatan, susu, keju, roti, buah, yogurt, makanan siap saji hingga pakaian. Mereka bebas memilih dan mengambil apapun yang mereka butuhkan. Dalam jumlah berapapun. Dipersilahkan. Program ini dijalankan oleh The Giving Tree yang bertujuan menolong para homeless, anak-anak dan keluarga yang membutuhkan di Tucson, Arizona.

Hal yang mencengangkan saya adalah betapa mereka tetap menjaga budaya antri dan menunggu giliran. Tidak berdesak-desakan, mendorong, apalagi berteriak kasar. Maksud saya, saya pernah mendengar kasus pembagian beras dan BLT yang berujung maut di Indonesia. Dan hal ini walaupun tujuannya sama, namun praktiknya jauh berbeda. Padahal kita sama-sama manusia.

Satu persatu, dengan ramah, saya bertanya pada siapapun yang telah sampai di meja saya. "Do you need milk? or yogurt?" dan mereka akan menjawab, "Yes, give me two.." dan saya akan memberinya dua kaleng susu atau yogurt. Atau, "How about water? or grape tomato?" Jika mereka butuh, mereka bilang butuh dan jika tidak, mereka menolak. Sesederhana itu. Jika mereka lupa mengambil sesuatu dan gilirannya sudah lewat, mereka mengantri kembali dari awal.

Banyak pula yang penasaran akan keberadaan kita disana. Siapa kami? Apa yang kami lakukan? Dari mana kami berasal? Beberapa dari kami pun menjelaskan. Kami student di University of Arizona dan kami dapat beasiswa kesana untuk improve English. Kami datang jauh dari Indonesia. Dan mereka sangat appreciate for our help dan juga bangga pada kami--UofA punya nama yang sangat baik disana.

Dua jam yang tidak terasa, Amanda dan Jamie sudah datang dengan shuttle CESL. Siap mengantar kami kembali ke Sahara apartment.


*one of the memorable moment happened in Tucson*

Easy A. Bright Star. Black Swan. Reviews.



Oke, this is quick and short movie reviews from me.

#1 Easy A

Film komedi romantis tipikal anak remaja SMA yang penuh rumors dan prestige. Diperankan oleh Emma Stone, Amanda Bynes, Penn Badgley yang super cute, Lisa Kudrow dan Stanley Tucci. Film yang disutradarai oleh Will Gluck ini berhasil masuk sebagai Official Selection Toronto Film Festival 2010. Ceritanya ringan, fresh, lucu dan dibuat dengan gaya cerita yang tidak biasa. Mengingatkan kita tentang masa highschool yang kadang begitu mengerikan namun selalu pula dirindukan.

#2 Bright Star

Have you ever heard about John Keats? Dia seorang penulis puisi romantis asal Inggris dengan karyanya yang paling terkenal : Endymion dengan puisinya, "A Thing of Beauty is a Joy Forever". Ya, film ini mengangkat kisah hidup dan asmara John Keats dengan Fanny Braune. Diperankan oleh Ben Wishaw dan Abbie Cornish. Film bersetting London 1818 ini terkesan lambat dan penuh dengan emosi karakter yang kadang membuat sebal. Namun, karakter Fanny menggambarkan kekuatan dan kerapuhan wanita saat jatuh cinta membuat kita penasaran menontonnya hingga akhir. Film karya Jane Campion ini berhasil masuk nominasi Golden Palm di Festival Film Cannes 2009. However, first love burns brighter, indeed.


#3 Black Swan

Luarbiasa.
Film karya Darren Aronofsky ini mengangkat sisi kehidupan ballerina. Black Swan sendiri diambil dari istilah karakter gelap dan jahat dari pertunjukkan Swan Lake-- sedangkan White Swan adalah karakter terang, polos dan suci. Film ini diperankan oleh Natalie Portman yang berhasil mendapat penghargaan Golden Globe untuk Best Actress in a Motion Picture, Drama. Selain itu ada juga Vincent Cassel, Mila Kunis dan Winona Ryder. Di Oscar, film ini masuk dalam 5 nominasi termasuk dalam Best Cinematography, Directing, Actress in a Leading Role, Film Editing dan Best Picture.

I really recommended all these movies! Remember, they are all PG-13 in rating except Black Swan, it's rated R.


Have a nice watching!

Love,
Sunshine

Sabtu, 29 Januari 2011

#jengukAchie yang Gagal?

Oke. Ini cerita hari ini.

Achie Nashtasya, salah satu anggota keluarga Calisto7, telah melahirkan anak laki-laki pertamanya, Fathir, 26 Januari kemarin. Berhubung keuangan sedang sekarat dan hampir mampus, pas anak-anak menjenguk 27 Januari nya, saya tidak ikut. Ya, benar. Alasannya tidak punya ongkos dan pulsa.
*apa yang lebih buruk dari itu, coba?*

Akhirnya setelah janjian dengan anak Calisto7 lain di Twitterland, saya berhasil mengajak Tya, Muthe dan Tri Ayu. Belakangan, Nita, Nendenk dan Nita juga ikut menjenguk. Kita janjian jam 3 di MP.

Saya memutar otak. Bagaimana saya menjenguk Achie di RS. Budi Mulia itu, dengan bermodalkan 6ribu rupiah?

Rencana pun tersusun.

Maka tadi pagi, saya bangun lebih awal dari biasanya. Setelah membersihkan rumah, saya pun bersiap-siap pergi. Saya rencana nebeng mobilnya Papi ke rumah Tya karena dari sana sudah dekat dari MP. *at least kalau nebeng sama Papi, tidak keluar ongkos lagi ke rumah Tya*

Pas jam 3, saya dan Tya bersiap berangkat dan alhamdulillah kita diantar pake mobil ke MP. It means, no cost to MP. *selamat*
Setelah bertemu dengan semuanya, kita menuju RS. Budi Mulia sama-sama, kesanan kita naik mobilnya Muthe. And it means, no cost to there. *dua kali selamat*

Tapi tahukah kalian, sampai di sana?
Saya bertanya ke Perawat  : "Mbak, ruang Pakis dimana ya?"
Perawat : "Oh, disana, belok kiri, ujung.."
Saya : "Makasih.."

Saya pun berjalan menuju penunjuk arah perawat tadi. Pas sampe depan pintu, saya ketuk. Tak ada jawaban. Ketuk lagi. Masih tak ada. Kemudian saya membuka pintunya. Terkunci. Damn!

Saya : "Weeh, teman, terkunci pintunya.." *firasat tidak enak*
Perawat tadi kemudian melihat saya di depan kamar Pakis sama anak-anak yang lain mengerubungi. Dia pun mencoba membuka pintunya namun tetap terkunci. Lalu dia bilang begini, "Ooh, sudah keluar tadi pagi.."
Saya :"Tadi pagi?"
Perawat : "Iya.."

Kami pun hanya manggut-manggut dan keluar berderet rapi dari rumah sakit. Mencoba menghubungi Achie tapi tidak nyambung. Kami pun pulang. Saya kembali ke rumah Tya.

Setelah Achie di sms, dia membalas bahwa dia sudah ada di rumahnya. Tadi pagi dia sudah keluar. Mestinya kita memang mengirim dari kemarin kan, supaya tahu.

Oke, sampai di rumah Tya, Muthe turun sebentar liat-liat koleksi DVD. Saya menelpon Papi berharap dijemput, tapi ternyata Papi sudah di rumah. Jadi terpaksa dengan modal 6ribu itulah saya harus pake pulang naik pete-pete sendiri.

Saya : "Mut, nebeng nah sampai ambil Daya.."
Muthe: "Sip!"

Setelah singgah di Candy beli kue, *Muthe yang beli bukan saya*, kami pun pulang. Tapi, Muthe bilang bersedia mengantar sampai depan Telkomas!! Jadi saya tinggal naik ojek saja, and it means, it costs only 2ribu!

Dan alhamdulillah, saya sudah di rumah, selamat, dan bawa oleh-oleh cakes Candy. :)

Alhamdulillah...
:)


Love,
Sunshine

Kamis, 27 Januari 2011

a year ago

Tidak berniat untuk mengenang masa lalu. Tadi kebetulan saya ingat ulang tahun saya seminggu lagi. Dan kalau ingat hal itu, saya jadi ingat 'how did I celebrate my birthday a year ago?'-- yang ujung-ujungnya ingat Mas Jek lagi. :(

Setahun yang lalu dia mengirim sms begini ke Corby:
"Oh iya, selamat ya, besok mau diajak jalan-jalan kemana?"

Ugh, dan setahun yang lalu, dengan naif saya menolak ajakan Mas Jek, karena berharap Bwave akan mengajak jalan saya juga, entah kemana, meskipun dia tidak janji, saya memang cuma berharap, bagaimanapun 2 Februari itu kan hari ulang tahunku.

Somehow, saya me-reply dengan, "Ndak usah, Mas...blablabla"
*sudah tidak ingat*

Dan tadaa!! Harapan yang berujung kekecewaan.
*tidak mau mengungkit-ungkit lagi*

The point is, saya masih juga curious dengan 'kira-kira kalau saya jadi jalan-jalan sama Mas Jek hari itu', akankah hari itu jadi kenangan ulang tahun yang tak terlupakan? Kenangan hari ulang tahun sehari bersama Mas Jek?

I miss you, Mas.
When will I see you again?



Love,
Sunshine

Sabtu, 22 Januari 2011

Bitter Moments

Kadang ada kenangan yang begitu menyesakkan dada hingga kau memilih untuk melupakan semuanya, semua detailnya.

Hingga perlahan kau bahkan sudah lupa hal itu pernah terjadi.

Sampai orang lain mengungkitnya kembali.

Aneh

Kadang saya berpikir saya itu aneh. Bukan cuma tindakan, perilaku dan pikiran. Berpikir bahwa saya aneh pun, merupakan sebuah keanehan sendiri. Apalagi sampai menulisnya. Double Aneh.

Hanya saja kadangkala, pikiranku ini begitu cepat berjalan. Menelusuri, mengingat-ingat, menghubung-hubungkan sesuatu dengan sesuatu.

Mungkin karena hal itu juga, mood ku cepat sekali berubah dari waktu ke waktu.
Mungkin karena hal itu juga, saya suka ditemukan sendiri di sudut, dalam diam.
Mungkin karena hal itu juga, saya suka membaca, karena membaca itu aktivitas pribadi dan masing-masing pribadi punya imaji dan ketekunan yang berbeda-beda.
Mungkin karena hal itu juga, saat kawan bercerita sesuatu saya tidak bisa memberi ekspresi yang mereka harapkan, karena saat itu saya tengah sibuk menghubungkan cerita-cerita mereka dengan ingatan lain dalam pikiranku.

Tapi, seperti yang Kak Aan bilang, setiap orang punya keanehan masing-masing, hanya saja tidak terlihat dari luar. Itulah yang membuat setiap kita, punya karakter.

Love,
Sunshine

Jumat, 21 Januari 2011

#Scriptsweet

Akhirnya, ini semester akhir (Insya Allah) jadi mahasiswa Komunikasi Unhas. Awal tahun ini, saya sudah siap-siap menyusun skripsi dan KKN. Sarjana Ilmu Komunikasi, menjadi resolusi no.1 yang harus saya tanggung.

Jadi, setelah bertemu dengan PA- Pembimbing Akademik- saya disarankan dan diminta untuk meneliti tentang pengaruh iklan terhadap tindakan membeli masyarakat kota Makassar (alternatif judul no.3). Penelitian kuantitatif, means survai, means kuesioner dan analisis efek. Terkesan kerjaan public relations dan pemasaran, padahal saya mengambil prodi jurnalistik di Komunikasi. But, it's okay. :)

Saya tidak mau memikirkan sisi 'sulit' dan 'negatif' nya. Apapun judul penelitiannya, saya harus tetap maju dan melangkah.

Alhamdulillah, disaat-saat seperti ini, saat penyusunan skripsi seperti ini, saya seperti dimudahkan. Kemarin, saya sempat stress dan panik memikirkan tentang buku-buku pegangan yang akan saya jadikan referensi untuk penyusunan skripsi. Mengingat, koleksi buku teks saya sedikit dan modal beli juga tidak memadai. Dimana saya bisa dapat buku pinjaman? Pinjam di dosen; ah, rasanya tidak enak. Senior-senior? Tapi senior siapa? Rata-rata mereka juga sibuk dengan urusan penelitian mereka yang belum kelar. Mungkin mereka punya, tapi itu jadi alternatif terakhir. Pikirku, cuma perpustakaan lah satu-satunya harapan.

Sampai tadi sore. Saya, Dini, Tya dan Anita iseng main-main ke Biblioholic-Inninawa di BTN Bung Permai. Setelah pulang dari rumah sakit menjenguk Kak Sophian, kami pun sampai kesana disambut baik oleh Kak Aan.


Dan inilah buku-buku yang saya dapat dari 'merampok' disana. Kami puas dan bersyukur sekali, bisa pinjam beberapa buku teks yang terkait dengan penelitian kami.


Pesan saya khususnya buat adik-adik semester awal. Jangan malas membaca. Jangan contohi kakak senior seperti saya: baru mau membaca buku teks pas skripsi. SALAH BESAR itu. Saya baru menyesal sekarang. Pokoknya belajar baik-baik. Semua bacaan yang bermanfaat pasti berguna suatu saat.


Love,
Sunshine

Selasa, 18 Januari 2011

Pesan Hujan



Sekiranya setiap rintik hujan mengandung pesan,
pada tiap ritmik, tiap titik:
adalah aku yang sedang rindu padamu.

Pesan itu mungkin tak sampai,
sebab kau benci hujan, yang selalu membuatmu
kerepotan mencuci Satria kesayanganmu dari becek.

Rasakanlah hari ini:
derasnya hujan, sederas rinduku.
rintiknya hujan, setitik rinduku.

Hingga andainya aku menjadi kau,
musim hujanlah yang paling kuharapkan.
Berapa kalipun aku harus mencuci Satria ku itu.

Karena pada hujan, kutitip pesan rinduku...


*Sunshine

Bruno Mars Concert in Jakarta


Maret nanti ada Java Jazz di Jakarta. si Corinne Bailey Rae tampil. Trus, April, Bruno Mars, penyanyi idola ku setelah Jason Mraz, juga akan konser di Jakarta. Maret-Mei saya ada jadwal KKN. Bulan-bulan itu pasti sibuk menyusun skripsi. Insya Allah, kalau ada rejeki dan kesempatan, saya mau sekali ke Jakarta, liat Bruno Mars. Tentu saja, sama teman-teman kampus tersayang. :)

Nenek Indo'

Nenek Indo' and me when Ied Fitri 2010. :)


Sore ini saat pulang dari kampus, saat ojek yang saya naiki berbelok ke jalan Telegrap 5, saya terkejut melihat sosok yang saya kenal berjalan sendiri. Saya lalu meminta agar diturunkan disitu.

Yang berjalan sendiri sambil memakai daster batik merah muda itu, Nenek Indo'. Ibunya Nenek. Neneknya Mami. Nenek Buyutku.

Saya menghampirinya, bertanya padanya dengan suara agak tinggi, karena pendengarannya agak terganggu.
"Mauki' beli apa?" saya bertanya karena dia hendak ke arah warung terdekat.
"Rokok.." dia menjawab.
"Mana uangta'? Sini saya belikan ki'.."
Dia memberiku uang seribuan, dan saya pergi ke warung itu, membawakannya sebatang rokok. Dia nampak tidak puas.
"Berapa uangku tadi?"
"Seribu.."
"Satu ji?"
"Iye, seribu satu!"
"Tambah pade..."

Dia lalu memberiku selembar lima ribuan. Saya kembali ke warung,membawakannya 8 batang rokok. Saat menyerahkannya kembali, dia puas, mengantongi semua rokok itu ke kantong daster nya dan berjalan pulang.

Seandainya dia mengijinkan saya menggendongnya, saya gendong dia pulang ke rumah. Tubuhnya kecil dan ringkih, seakan-akan tertiup angin saja jatuh. Jalannya pelan sekali, saya sudah lima langkah ke depan, dia ketinggalan jauh di belakang.
Saya memutuskan untuk mengikuti langkahnya dan mengajaknya mengobrol.
"Siapa di rumah, Nek?"
"Tidak ada anak-anak di rumah...,"
"Kemana?"
"Pergi sama Ibu nya semua.., singgah mki"

Ya Allah, ternyata ini Nenekku, tidak kenal sama saya. Dia menyangka saya ini orang lain yang kebetulan lewat dan mengenalnya dan ingin ke rumah. Bukan cucunya yang selama ini tinggal seatap dengannya. Oh Tuhan...

Nenek Indo' sudah 100 tahun umurnya. Beliau sudah renta tapi masih kuat bekerja rumah juga. Dia tinggal di rumahku sejak Ramadhan kemarin hingga sekarang. Keluarga kami yang mengurusnya.

Entahlah, saya hanya ingin menulis tentang Nenek Indo'.


Thanks for stopping by and read!
Love,
Sunshine