Selasa, 02 November 2010

Buku-Buku yang Belum Kuselesaikan dan Berharap Segera Selesai






Sabtu, 23 Oktober 2010

Tentang Bintang



Tentang Bintang
:riana

bintang selalu diletakkan
begitu jauh dari jangkau.

apakah bintang akan padam
ketika aku sentuh? atau aku
akan terbakar? menurutmu?

aku selalu lebih suka malam
dibasahi hujan—kehangatan
perlahan tumbuh di tubuhku.

dan aku akan lebih leluasa
mengangankan matamu
lebih bintang, lebih dekat.

apakah matamu akan padam
ketika aku sentuh? atau aku
akan terkapar? menurutmu?

aku selalu lebih suka malam
dibasuhi hujan—keriangan
perlahan tambah di tabahku.

dan aku akan lebih terbiasa
menginginkan matamu
tetap bintang, tetap dekat.


from: aanmansyur.blogspot.com

Lost



Just because I'm losing
Doesn't mean I'm lost
Doesn't mean I'll stop
Doesn't mean I'm across

(Lost-Coldplay)

This night, I want to talk about LOST.

Baru-baru ini pulpen merk G-TEC seharga $2.80 yang saya beli di Changi Airport, Singapore, hilang entah kemana. Saya lupa menaruhnya dimana. Padahal saya suka sekali pulpen itu, warna hitam dan saya lapisi dengan pen-holder khas Kalimantan dari Habib.
Pulpen G-TEC itu saya beli sepasang. Satunya tinta hitam, yang hilang itu, dan satunya lagi, tinta biru. Pulpen biru itulah yang kini menemaniku di tiap-tiap lembar ujian dan di tiap-tiap kelas.
Saya pun segera melupakan pulpen G-TEC hitam itu walaupun sekali-sekali berpikir tentangnya.


SAYA kemudian, sambil menulis ini, mencoba mengingat-ingat, selain pulpen itu, saya telah kehilangan apa lagi.
..............

JAWABNYA: no more.

Lalu saya mengingat teman-temanku di Kosmik, satu persatu dan menyadari, saya masih lebih beruntung belum pernah merasakan kehilangan salah satu orangtua. ORANGTUA! HILANG! Membayangkannya pun tidak bisa. Saya ingat Tira, saat ayahnya meninggal, di pagi itu, dia datang ke rumah dengan niat menitipkan tugas kuliahnya padaku. Saat saya bertanya alasannya tidak ke kampus, dia menjawab ayahnya meninggal dan dia menangis dan kami berpelukan dan saya memintanya sabar. Sungguh, saya tidak tahu PERSIS apa yang dirasakannya.
Saya juga ingat Tya yang bapaknya meninggal karena sakit. Saya ingat pergi menjenguk bapaknya di rumah sakit beberapa kali bersama teman-teman lain. Saya juga ingat hari bapaknya meninggal. Tapi saya juga masih tidak tahu PERSIS bagaimana sedih hatinya.
Kemudian, entah di tahun ini, begitu banyak kabar kehilangan yang saya terima; Bapaknya Nd dan kemudian Neneknya Bwave....

I know one thing is for sure, that must be really PAINFUL.
Karena kehilangan sesuatu selalu menyisakan rasa perih, sakit dan sesal.

Saya pernah membaca kalimat seperti ini, "The most potential person who could hurt you is someone you really love.." Orang yang kau sayang itulah yang bisa menyakitimu.

Karena saat kalian kehilangan seseorang yang kalian sayangi sepenuh hati, kalian juga kehilangan CINTA dan KASIH SAYANG dari mereka. Dan menurut saya, HAL itulah yang paling menyakitkan dari losing someone we love. Kenyataan bahwa kita tidak bisa lagi berbagi kasih sayang dengan mereka.

HIDUP itu beginilah. Selalu ada waktu belajar, waktu memetik pelajaran, menarik hikmah, mencari kesimpulan. BELAJAR. Tidak sehari dua hari, pelajaran itu berlangsung seumur hidup, bertahap-tahap. Tidak semua orang mendapat ujian yang sama. dan kita tidak diberikan ujian yang tidak sesuai dengan kelas kita. semua punya porsi masing-masing.



Love,
Sunshine

Kamis, 21 Oktober 2010

blank. blink.

PICTURE 1




membuka-buka lagi album foto di facebook, "Sama Teman-Teman", menemukan banyak sekali foto lama. Ini salah satunya. Saya yang pake jilbab merah pink menghalau terik silau matahari, sedangkan Tya, asik sekali motret. Guess who's taking this picture? YEP. HIM.


PICTURE 2





Ini salah satu lagi foto dari album foto itu. Lokasi di salah satu SD daerah Antang, saya lupa SD apa namanya. Kita sedang take gambar Video Pembelajaran dan Rahma jadi Astradanya! Person who took this picture? WRONG, NOOOT HIM.

Senin, 11 Oktober 2010

miss MJ

Tadi malam, saya rindu berat pada Mas Jek.

Ingatan itu selalu muncul setiap saya melihat taksi berseliweran di jalan raya. Mengingat satu persatu kenangan waktu Mas Jek masih ada di Makassar.

Mas Jek. Nama aslinya Zakaria. Mami Papi bertemu dengannya setahun lalu, saat Papi dirawat inap di RS. Stella Maris. Mas Jek dan Papi sekamar. Waktu itu, Mami bercerita padaku bahwa Papi mendapat teman yang baik, gagah dan cerdas sekamar dengannya. Dia bekerja di Oriflame Makassar.

Saat pertama kali melihat Mas Jek, pikirku, dia memang gagah dan selalu tersenyum. Tubuhnya tinggi, kulit putih, rambut cepak dan benar-benar terawat. Umurnya sudah hampir tiga puluhan. Dia tidak punya keluarga di Makassar, maka saat dia masuk rumah sakit, Mami lah yang mengurusnya sambil mengurus Papi. Mas Jek sangat berterima kasih pada Mami, dan menganggapnya seperti orangtua sendiri.

Lalu Mas Jek dan Papi keluar dari rumah sakit dan tetap berhubungan. Hingga April 2010, Mas Jek dipindahtugaskan ke Denpasar. Dia dapat promosi di Oriflame cabang Denpasar.

Mas Jek seperti kakak laki-lakiku sendiri.

Saya ingat, Mami selalu membuatkannya makanan dan kue-kue lalu memintaku membawakan makanan dan kue-kue yang telah dibuatnya itu ke kantor Mas Jek. Waktu itu sudah malam, sekitar pukul sembilan. Saya berangkat ke kantornya dengan pete-pete. Pulangnya, dia mengantarku dengan taksi sampai ke rumah. Padahal jarak kantor ke rumahku itu jauh sekali, dan saya bisa pulang dengan pete-pete, tapi untuk alasan keamanan, dia mengantarku pulang.

Atau saat saya pulang dari study tour, saya datang ke kantornya untuk membeli parfum, maskara bening brand Oriflame. Dia menyuruhku duduk di kursi depan mejanya, dan dia lalu berkeliling rak-rak produk Oriflame memilihkan saya parfum. Dia menawarkan satu, saya tidak suka, dia mencarikan yang lain. Begitu terus sampai saya menemukan yang saya suka.

Atau saat saya ke kosannya menyerbu koleksi DVDs nya yang banyak. Film. Film. Film. Salah satu bahan pembicaraan yang membuat saya dan Mas Jek nyambung.

Atau, saat saya butuh uang untuk tes TOEFL, untuk daftar beasiswa IELSP ke Amerika, saya datang ke kantornya pagi-pagi. Dengan nekat, saya meminta tolong dipinjami uang. Mas Jek, tanpa pikir panjang, menyanggupi. Dia malah yang mendatangi kampusku dan membawakan uangnya padaku, dengan taksi. Mas Jek, dugaanku, tidak tahu naik pete-pete. Namun, semua sikapnya membuatku sangat terkesan.

Idul Fitri tahun lalu, Mas Jek menginap di rumah dan sholat Ied bersama keluarga kami. Yang saya ingat, setiap dia selesai mandi dan keluar dari kamar, wangi parfumnya menyeruak menyerbu seluruh sudut rumah. Wangi parfumnya manis sekali. Tapi saya sudah lupa seperti apa baunya.

Saya suka setiap kali Mas Jek tertawa saat ngobrol denganku.Saya suka saat kami duet di karaoke. Saya suka kalau dia menasehatiku layaknya dia kakak dan saya adik kesayangannya. Saya suka setiap dia membantuku menyebrang dan mengambil pete-pete depan kantornya.

Orang-orang masuk keluar dalam hidup kita. Mereka datang dan pergi, singgah sebentar di hati, lalu keluar. Ada yang meninggalkan jejak, bekas langkah dan kesan yang teramat dalam hingga sulit terlupakan. Mas Jek salah satunya. Dan saya sebal sekali saat tidak berucap goodbye padanya saat berangkat ke Denpasar. Kami benar-benar lost contact sekarang. Tak tahu bagaimana kabarnya. I hope we can meet again. I miss him so bad.


Love,
Sunshine

ordinary student

"Jadi kenapa, M, kita tidak bisa jadi seorang mahasiswi yang biasa-biasa saja?"

Pertanyaan itu terus menerus berkutat di kepalaku saat berada di atas pete-pete 07, di perjalanan pulang dari rumah Noe bersama Emma. Sudah pukul sepuluh malam.

"Maksudmu, Ri?"

"Maksudku, kenapa kita seperti ini? Pulang selarut ini? Kenapa kita tidak seperti mahasiswi biasa saja: kampus, kuliah, selesai kuliah, pulang ke rumah."

Emma, seingatku, hanya diam, karena saya terus menerus bicara. Saya mencoba menyelaraskan otak dan mulutku. Dua-duanya sulit sekali dibendung kalau sudah mulai bekerja.

"Kalau saya ingat-ingat lagi,Em. Saya ini, kerja di Astamedia, urus Sold Out Shop, bantu orang rumah jual Teh Poci di pasar kalau weekend. Semua itu sambil kuliah, yang alhamdulillah sejauh ini berjalan baik. Belum misalnya, kau, aktif di kepengurusan himpunan di jurusanmu, atau saya, di Kosmik. Maksudku, kenapa kita tidak BISA jadi mahasiswi yang BIASA-BIASA saja?"

"Karna kau GU..." GU, Gila Urusan. Emma menjawab sambil tertawa.

"Mungkin, iya, Em.."

"Tapi, misalnya lagi, saya bantu produksi Aliguka, atau saya, yang sudah pernah ke Amerika..., jauhnya itu, Em! Menurutku, semua itu sudah bukan mahasiswi yang biasa-biasa saja, toh, Em?"

Emma, seingatku, cuma mengangguk.

"Apa tujuannya, Em, kita mau begini?"

"Untuk mengasah keterampilan, Ri. Karna Sold Out ini, saya bisa sedikit-sedikit menjahit.."

Pikirku, cuma itukah? Gadis-gadis lain seumuran kami, sepantaran kami, sekeras ini juga kah pada hidup mereka? Apa sebenarnya tujuan kami MAU melakukan semua ini?

"Yang jelasnya, Em, setelah menikah, saya STOP semua ini. Jadi, mulai saat ini, sekarang ini hingga sarjana dan menikah, biar berjalan seperti ini dulu. Karna kalau sudah menikah, sepanjang waktu akan di rumah, urus rumah tangga, suami dan anak-anak!"

"Jelaslah, Ri..., kecuali suami mu izinkan kau kerja." Emma menjawab.

Saya mengangguk, lalu menyudahi percakapan ini. Kami sudah mau ganti pete-pete.

Senin, 04 Oktober 2010

Dina Oktaviani: Broken Heart Walking

I want to introduce you to:
DINA OKTAVIANI



dan buku kumpulan puisinya berjudul:
BROKEN HEART WALKING: HATI YANG PATAH BERJALAN.


Buku ini hadiah dari Kak Aan Mansyur, seorang penggila kata dan kalimat. Dia memberiku April 2010 dan buku ini lebih banyak menghabiskan waktunya mendekam di lemari buku ku, ketimbang saya baca berulang-ulang.

but these are my favorite:

"dadanya berdarah
hatinya tidak"
-jalan kecil menuju dina-

"now that night has become the past
which will not appear in our words
if we have to meet and chat
in my home-or yours
in the future"
-wedding anniversary-

"tak ada yang dapat sembunyi lagi
saat aku membuka pintu dan memasuki semesta
yang dengan takjub kita sebut rumah"
-trinitas-

"...but still I miss you
like a terrifying journey
of a train from town to town
which I could never stop

I try to write something
and pray for you
so that you can forgive
your love for me

but all the words
and beliefs
ran away from my solitude

-why should one's head be above the heart
that my frail breasts
cannot touch your ears
without lowering your face?"
-Inner Landscape-

Dina Oktaviani was born on October 11, 1985 in Lampung. At 21 she had her first book of poems published. This was Biografi Kehilangan (the Biography of Loss)

She is the author of como un sueno, a collection of short stories. Broken Heart Walking is her latest collection of poems.

*
Thanks for Kak Aan, a man who really loves words and sentences, for introducing me and let me into poems and its beauty. Mengingatkan waktu masih SMP, saat-saat saya menulis puisi dan cerita fantasi bersama Chank.

Teh Poci

First, I want to say SORRY karna belakangan ini saya jarang update dirimu lagi, Lukisan Mentari ku.

Sudah dua kali weekend ini, Sabtu Minggu, saya berjualan Teh Poci di Pasar Daya. Mengeruk-ngeruk rezeki dengan berkeliling menjajakan minuman teh manis dan dingin itu kepada pengunjung maupun penjual di sana.



Mungkin ini juga salah satu episode LIFE LESSON dalam hidup, betapa saya sadar bahwa HIDUP memang TAK MUDAH. Kita harus benar-benar pantang menyerah dan berusaha sekuat usaha dan daya upaya, mencurahkan keringat hanya untuk bertahan hidup. Memang kesannya berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan.

Saat matahari sedang geramnya bersinar, kulit dan kepala rasanya terpanggang. Baki yang berisi enam gelas Teh Poci saya bawa keliling pelosok pasar sambil berteriak-teriak, "Teh Poci, Bu. Teh Poci,Pak? Adek?" Tiga ribu satu.."

Berkali-kali. Sambil sesekali menghapus keringat yang jatuh dari dahi dan kepala. Sambil menahan pegal di kaki dan tangan.

Terus menerus begitu, dari pukul sebelas pagi hingga lima sore. Saat ada pembeli, senangnya luar biasa, semangat terpompa lagi untuk kembali berjalan. Saat tak ada yang beli, kekecewaannya berkali-kali lipat.

Saat sudah waktunya pulang dan menghitung hasil hari itu, betapa bahagianya kalau mendapat dua ratus ribu rupiah. Mami juga merasa senang kita bisa dapat uang segitu, artinya esoknya sudah ada yang bisa dipakai beli makan dan ongkos sekolah anak-anaknya yang sejumlah 6 orang.


Love,
Sunshine

Kamis, 30 September 2010

Sunshine

Hari itu, entah tanggal berapa dan hari apa. Yang saya ingat saat itu saya sedang berada di ruang kuliah bersama teman-teman lainnya. Kuliahnya pasti sangat membosankan hingga saya, Dini dan Rahma mengobrol dan saling mengirim note.

Lalu, saya mengatakan bahwa saya suka sekali iklan Fanta yang ada di televisi.
Salah satu jingle nya, "Helllooo...sunshine!!"

Kemudian, saya menulis-nulis S U N S H I N E
dan betapa keren dan indah nama itu menurut saya.

Kemudian, tiap kali kami mengobrol lewat note, saya selalu menulis Sunshine sebagai alias namaku.

misalnya
Sunshine : "Weh, Din. Sudahko tugas? Apa tadi dia bilang Bapak itu? Ndak menger' ka..."

selalu Sunshine, Sunshine, Sunshine....

Rahma lah yang meng-official kannya, dengan menyapaku setiap kali bertemu, dengan "Hello, Sunshine.."
dan saya akan membalasnya dengan, "Hello, Rainbow..."

teman-teman mendengarnya setiap saat.
setiap hari.
setiap lewat di depan koridor.
setiap melihatku dan Rahma.

mereka kemudian merasa terbiasa dengan Sunshine dan Rainbow.

Selasa, 14 September 2010

Rumah Badai

Sebelum badai datang, Sayang
Marilah membangun rumah kita
mendirikan pondasi demi pondasi
sekuat-kuatnya.

mungkin langit masih cerah
dan hujan belum pula turun
karena itu, mari kita menaikkan atap rumah kita
membingkai jendela persegi di dekat pintu

Rumah kita betapa indah, sungguh
takjub aku memandangnya
kita berdua bersama anak-anak
kita akan hidup bahagia bersama di dalamnya

Sesaat, ketika badai datang menghantam-hantam
pikirku kita akan aman di rumah

Kalau kau takut, aku takut melihatmu ketakutan
aku memelukmu, kau mendekapku
tak ada suara, diluar hujan lebat
petir menyambar-nyambar

badai menghantam-hantam
aku memelukmu, kau mendekapku
kita berdua di dalam rumah
rumah kita...

Senin, 23 Agustus 2010

I LOVE GLEE



Glee is a television show performs high school life with music and all the problems and teen's finding their self esteem. Baru-baru ini saya sudah menamatkan hingga episode 21. And it was such amazing TV show.

Menonton Glee dari awal membuat kita benar-benar termotivasi dan bergembira. Ceritanya berputar sekitar Glee Club di McKinley High School di Ohio, US. Will Schuester mengambil alih pelatih Glee Club di SMA itu dan menamakannya New Directions. Satu persatu murid pun mendaftar masuk. Sayangnya, Glee Club sudah terlabel sebagai komunitas anak-anak freak sehingga memiliki sedikit sekali anggota. Hingga Mr. Schuester berhasil membujuk salah seorang anggota football, Finn, masuk dan satu persatu teman se tim football maupun pacarnya, Quinn Fabray, leader of cheerleader, ikut bergabung di Glee Club.

Glee Club pun akhirnya beranggotakan 13 orang ; Rachel, Finn, Kurt, Mercedes, Quinn, Puck, Artie, Brittany, Tina, Mike, Santana.

What makes Glee so special from other TV show?
Saya tidak banyak menonton TV show, yang saya tahu pun sedikit. Namun, Glee dibandingkan dengan High School Musical? Totally different. Its atmosphere, its story, its characters? Glee lebih kaya akan pelajaran hidup. Glee lebih berasa 'hidup' dan real. Glee lebih memperkaya kita dengan lagu-lagu yang begitu melankolis sometimes, namun juga bisa begitu agung dan membahagiakan.

Tak akan ada yang bisa menolak pesona Rachel saat membawakan "No Air" bersama Finn. Performa Puck saat menyanyikan "Sweet Caroline" membuat saya langsung jatuh cinta pada lagu itu. Saat mereka bersama-sama menyanyikan "Don't Stop Believing", "Keep Holding On" dan "Somebody to Love"? It was unforgetable. They learnt mash up, ballad, funk hingga Gaga! and I'm sure you will learn it too.

Hingga di episode 21, mereka akan melaju ke Regionals, melawan Vocal Adrenaline, saingan terberat mereka. Will they win? Well, I'm looking forward to watch the next episode!

Love,
Ri


Jumat, 20 Agustus 2010

The Girl With The Dragon Tattoo


This is a book that I really curious about. Waktu masih di Tucson dan jalan-jalan ke beberapa bookstore disana ada satu buku yang selalu bertengger menjadi BESTSELLER, berjudul : The Girl Who Kicked the Hornets's Nest. Saya pikir ini buku apa. Tapi kemudian, terlupakan.

Lalu, suatu hari Kathleen, guru SRL saya di CESL, membawakan Kindle Amazon yang dia punya. Dia menunjukkan kepada kita wujud Kindle Amazon yang ajaib itu kepada kita semua. Saat saya melihat judul e-book yang sementara dia baca : The Girl With The Dragon Tattoo, saya pun masih tak tahu buku apa itu. Saya benar-benar baru mendengarnya.

Ternyata, The Girl Who Kicked the Hornets's Nest adalah buku ketiga dari trilogi karya Stieg Larsson. Buku pertama yaitu The Girl With the Dragon Tattoo kemudian dilanjutkan The Girl Who Played With Fire.

Saya pun lalu membeli buku pertamanya. Sampai sekarang masih berusaha menyelesaikannya. Trust me, guys. It needs more patience and more time to read book in English version if it's not your daily speak.

So, wait for the review!

Love,
Ri

Kamis, 19 Agustus 2010

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (III)

Makassar, 17 Agustus 2010

Alhamdulillah, ya Allah.
Rasa syukur dan terimakasih ku pada-Mu selalu
untuk semua keajaiban-keajaiban hidupku setiap hari,
terencana, terjadi dan terlaksana.

Love,
Ri

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (II)

Makassar, 17 Agustus 2010


Dulu, saya benar-benar bahagia di Tucson. Hal paling rumit yang saya pikirkan adalah bagaimana menyelesaikan semua tugas-tugas yang diberikan Instructor di CESL. Sisanya, memikirkan bagaimana menyanyikan lagu Tari Saman saat Indonesian Day dan Closing Ceremony.

Itu saja.

Saya tidak perlu memikirkan tentang pekerjaan yang belum selesai di kantor; kemungkinan dipecat, bagaimana caranya mendapat cukup uang untuk ongkos ke Ubud Oktober nanti; jadi volunteer festival Internasional Writers and Readers 2010, oleh-oleh untuk dosen yang tidak cukup dan belum terbagi, janji nonton, penjualan iPhone yang berbelit-belit dan rumit yang benar-benar menghabiskan pulsa berkali-kali dan kesalahpahamanku dengan Bwave.

Saya juga berpikir betapa beruntungnya Kak Yusran dan Kak Dwi yang telah menikah dan sepertinya dalam waktu dekat ini akan tinggal di luar negeri, mengingat Kak Yusran lolos beasiswa Ford Foundation. Membayangkan hal-hal ajaib seperti itu juga akan terjadi padaku suatu hari nanti.

Rasanya saya mau kembali lagi ke Tucson.

Melarikan diri dari semua kejaran pikiran-pikiran itu.

Di Sahara Apartment, 3215 room. Bersama Hera yang seringkali kesal kunjungan tengah malam Habib, Azis dan Fahrin yang baik hati, yang selalu memberi beberapa roti selai dan susunya untuk sarapanku sebelum ke CESL, Yudi dan Habib yang luarbiasa perhatiannya padaku apalagi soal jadwal makan...Wiwid dan Yeyen yang selalu setia mendengar dan menceritakan rahasia-rahasia. Rapat demi rapat sebelum Indonesian Day bersama teman-teman IELSP lainnya.

Semuanya seperti mimpi. Mimpi yang meninggalkan jejak berupa foto-foto 15 GB di laptop, pakaian, sepatu, buku-buku dan DVDs.

Saya juga heran mengapa kepalaku ini tidak mau berhenti berpikir dan mengingat, bermimpi dan berkhayal. Tak mau diam.


Love,
Ri

Tiga Catatan di Hari Kemerdekaan (I)

Makassar, 17 Agustus 2010

Hari ini 65 tahun sudah Indonesia merdeka. Semua siaran TV menyiarkan prosesi upacara bendera di Jakarta. Ada juga yang menyiarkan prosesi upacara di bawah laut, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tadi pagi, sekitar jam 10, Lulu masuk ke kamarku membuka lemari tepat saat saya baru bangun. Saat saya bertanya dia mau kemana, dia menjawab, dia baru saja pulang upacara di sekolahnya.

Sedangkan saya, selain memberi ucapan selamat ulang tahun pada Indonesia di facebook, twitter dan plurk, tak melakukan apa-apa lagi.

Oh ya. Saya baru menamatkan membaca The Magician's Elephant nya Kate DiCamillo.


Love,
Ri