Sabtu, 12 Juni 2010

Departure Day I

Akhirnya saya sampai di Narita International Airport bersama teman-teman rombongan Arizona Grantee IELSP Batch 7. Setelah melewati langkah demi langkah keberangkatan yang sangat melelahkan.

Dimulai dari Bandara Cengkareng di Jakarta; check in, pemeriksaan bebas fiskal, imigrasi, lalu ke pesawat Japan Airlines.

Perjalanan ke Jepang ditempuh dalam waktu tujuh jam. Dalam pesawat, saya merasa kurang nyaman. Selain AC nya dingin sekali, badanku terasa pegal sekali. Untungnya, saya bisa tidur beberapa jam dan bangun sudah disediakan makanan yang lumayan.

Oke, sampai di Bandara nya kita lewati bagian imigrasi. Kemudian naik Connecting Bus menuju Terminal 2.

Dan, here I am, mencoba menulis dengan Hepi yang tinggal 38% remaining battery power nya. Sayang sekali, charger nya saya taruh di koper.

Sekarang waktu Tokyo menunjukkan pukul 09.10 am tanggal 13 Juni 2010. Kami harus check in jam 14.00 karena pesawat kami akan take off sekitar pukul lima sore. Artinya kami punya waktu menunggu yang lumayan panjang.

Bandara ini sungguh besar. Dimana-mana terdengar bahasa Jepang yang entah artinya apa. Saya cuma tahu arigatou gozaimasu!.

Bandara ini seperti benteng yang besar yang tersembunyi. Tokyo sampai tidak terlihat.


Love,
Sunshine

Minggu, 06 Juni 2010

flowers from Chank

Alhamdulillah!
Guys, akhirnya hari ini saya dibolehkan pulang! Syukur..syukur.

Tadi dr. Hans meng-USG saya lagi. Setelah diperiksa, ternyata cairan dalam paru-paru saya sisa sedikit dan akan kering dengan minum obat dengan teratur. And it means, saya bisa berobat jalan. Pas saya tanya apa saya boleh pulang, dr. Hans bilang, "boleh...boleh!"

Kalau bisa melompat disitu, pasti saya loncat-loncat saking bahagianya.

Pas kembali ke kamar ternyata Ochank datang. Dia membawakan saya seikat bunga Chrysant orens dan ester kuning. Indah sekali. Saya baru kali itu dibawakan bunga.

Sabtu, 05 Juni 2010

RAME

Senangnya!
Tadi anak-anak rame-rame datang ke sini jengukka.

Opi. Kudra. Ilham. Tinus. Rahma. Cimbei. Ridho. Ewi. Muthe.

Sampe sore.

Tapi. Pas bangun hari ini, demam ka lagi. Jadi, sepanjang hari tadi lemas ka lagi.

dr. Hans bilang infusku sudah bisa dicabut kalo obat suntik terakhir sudah dipakai. Trus, Senin, dr. Hans mau periksa lagi untuk terakhir. Kalo memang baekan mka, bisa ma pulang.

Ya Allah, beri kekuatan-Mu padaku...

Kamis, 03 Juni 2010

soundtrack of my hospitalized day 3




Saya tak akan menyangka akan sebosan apa jadinya saya jika teknologi internet wifi ini tidak available di Rumah Sakit ini. Di kamar saya. It's day 3 for today. Mau ma pulang rasanya. Cabut selang infus lalu lari pulang ke rumah.

Well, this is the soundtack of this day. Lagu lama sih. Cuma tetap asik didengar sekarang. Sudah cukup lama juga cari lagu dan liriknya baru dapat sekarang.


Andien

Gemintang
Awali indahnya cerita
Melantunkan rasa
Nyanyikan
Denting nada dan senyuman
Menghadirkan cinta

Resahku menepi indahku bersemi
Mengingat utuh bayangmu

Hatiku mengucap kata merindukanmu
Laksana nyata manis nuansa
Dan jika gemintang tiada lagi melagu
Kisahku yang mencinta dirimu
Kan slalu abadi

Rembulan
Temani indah malam ini
Menyatukan asa
Lukiskan
Dekap hangat yang kau beri
Mengartikan kita

Gemintang nyanyikan
Rembulan lukiskan



SIMPLY

Dewi Lestari


I stand here with a thousand words and tons of hopes
But blankness is the place they ended up the most
I'm lost in the frequency of the oddities
It feels so hard to breathe
I'm like a hapless piece of symphony that no one really cares to hear

You simply inspire me
Collide into me
But no one's there
So why don't you hold me
Why don't you move me
So I know you care
I wonder how far to go
To simply have you and simply keep you

And now, when everything has been said and done
In silence I can only wish I am the one
I'm floating like a bubble that will pop and be gone
Just trying to make you see
The simplicity of lock and key
And how you're never ever there to free me

Rabu, 02 Juni 2010

wish

God, please. For all my life, I wish for YOU. My only ONE saviour. My only ONE guidence.
saya cuma mau sembuh dan sehat kembali supaya saya bisa berangkat ke US, meraih mimpi seumur hidup saya.

Kau pasti sudah bosan mendengar janji-janji manisku pada-Mu.
Jadi saya tidak akan menjanjikan pada-Mu lagi apa-apa.

Saya hanya ingin meMINTA kepada-Mu. Yang punya KEKUATAN dan KEAJAIBAN tak terbatas,
meminjamkan kekuatan-Mu pada saya, sedikit saja untuk dua bulan kedepan.
untuk meminjamkan keajaiban-Mu, sedikit saja untuk kesembuhan saya.

Karena saya benar-benar tidak mengerti, ya Rabb.

saya hanya ingin sembuh,...
that's all I want to say to You. I hope You listen.

Hospitalized, Day 2 Noon

Hidup ternyata tidak semudah apa yang bisa kita bayangkan, Guys.

Hari ini setelah dr.Hans masuk memeriksa kondisi kesehatan saya, dia mengatakan saya harus beristirahat total selama enam bulan. Padahal keberangkatan saya persis di depan mata, seminggu lagi.

Dan jika Kedutaan Amerika tahu kondisi saya seperti ini, saya tidak akan dibiarkan masuk juga ke US.

Saya sudah menangis hingga mukaku merah padam hingga ke ubun-ubun. Bertanya pada diri saya sendiri, kenapa sekarang, kenapa saya. Tak tahukah mereka apa yang disebut mimpi seumur-umur?

Waktu kecil, my Mom always said that I always WANT the world in my hand, but the power I have is not enough even just for hold a half one.

Saya punya banyak keinginan tapi untuk kekuatan tubuh, saya benar-benar kalah.

Tapi apa maksud Allah meloloskan saya beasiswa ini kalau akhirnya tidak membiarkan saya pergi? Apa rencana dan rahasia-Nya pada hidup saya?

Lalu mengapa saya merasa hanya saya yang benar-benar tahu dan mengerti apa yang saya rasakan sekarang?

Apa yang akan terjadi pada saya jika Allah benar-benar tidak memberi saya ijin dan kesempatan untuk pergi tanggal 11 esok?

Jika dr. Hans berkata, "Maaf,Nona. Tidak bisa...harus istirahat, kalau perlu cuti akademik enam bulan...."

Rasanya buang saja saya ke Samudera Antartika, agar saya benar-benar tidak usah lagi kembali dan menghadapi berjuta orang yang sudah tahu rencana keberangkatan saya bertanya-tanya seperti hantu, "Kenapa tidak jadi berangkat?" Astagfirullah, ganti saja identitas saya sekalian.


Love,
Ri


P.S.
Mengapa Tuhan selalu merancang sesuatu dan benar-benar tidak bisa menjelaskan pada kita alasan nya secara langsung? Mengapa Dia suka sekali berteka-teki pada hidup kita?

Hospitalized, Day 1

Guys,
ini belum cukup sehari saya di rawat inap di RS.Grestelina, tapi sudah cukup banyak yang mau saya tulis dari kemarin pagi hingga pagi ini.

Kemarin, 2 Juni kira-kira pukul sepuluh pagi, Mami Papi akhirnya memutuskan untuk membawa saya periksa ke dokter untuk kedua kalinya. Setelah berdebat cukup lama dan panjang dengan teriakan dan makian, akhirnya kami memutuskan ke RS. Grestelina. Kebetulan saat itu kami sedang berada di Jalan Boulevard.

Sampai disana, bagian CS nya merujuk kami agar segera ke UGD agar bisa ditangani oleh Dokter Umum nya. Kami pun akhirnya ke sana.

Dan saya pun ditangani dengan cepat. Seriously, guys. Saya pikir beginilah seharusnya seorang pasien ditangani. Gawat tidaknya atau parah tidaknya penyakitnya. Dan sepanjang apa yang saya amati, pasien-pasien berikutnya yang datang ditangani dengan baik oleh perawat dan dokter umum tadi.

Oke, pertama, tekanan darah dan suhu badan saya diukur. Kemudian infus dipasang. Lalu sample darah saya diambil. Kemudian ada suntik lain dialirkan ke infus. Tes antibiotik yang rasanya perih sekali. Lalu, tes jantung yang membuat saya merasa ditelanjangi. Lalu dr.Hans datang. Memeriksa saya. Me-stetoskop saya, kemudian mengetuk-ngetuk punggung saya. Dan kemudian menyuruh foto rontgen paru paru saya. Karena menurut dia, ada cairan di paru-paru kanan saya. Dan saya hanya tidak menyangka, cairan itupun akan dikeluarkan lima belas menit setelah saya selesai di rontgen.

And do you know how it feels, guys? I feel really hurt.

Tapi bagian menyenangkannya adalah Mami Papi mengambilkan saya kamar VIP! Alhamdulillah, jadi rasanya seperti kamar hotel saja. Bukan seperti kamar rumah sakit...hihihihi. Ndatau itu kalau saya keluar Mami Papi bayar berapa.

Oke. It's 5:22. And it's time to pray. Warni, yang mustinya temani ka, masih tidur sudah sahur tadi. It's Thursday now. And she's fasting.


God. Please. Saya mau sembuh. Beri ijin-Mu ya, Allah. Saya berjanji akan lebih mendengar semua yang Mami Papi bilang ke saya.
Amin.


Love,
Ri

P.S.
I just realized something. Why people think you are really sick when you get hospitalized? Family, friends come see you only when you get sick in hospital? Why they don't bother to even look at you when you get hurt at home in a week?

Senin, 31 Mei 2010

Hei, June...


Guys, saat saya benar-benar sadar pas bangun tadi pagi, hal pertama yang saya sadari adalah bahwa hari ini sudah tanggal 1 Juni 2010.

Hal itu bisa berarti banyak hal.
Pertama, sembilan hari lagi, Insya Allah, saya akan berangkat ke Tucson, Arizona, United States of America. Keberangkatan ini dalam rangka saya berhasil lolos program beasiswa IELSP dari lembaga non-profit IIEF.
What a dream comes true.

Kedua, final test dan tugas final di kampus mulai mereda. Sebelumnya sangat menggila luarbiasa tanpa bisa saya kendalikan.

Fever Fever

Waaah. Sudah seminggu saya demam. Bagaimana tidak? Seminggu kemarin mungkin adalah the busiest weekend ever in my life. Saya tidak tahu saya bikin apa saja. Yang jelas hasilnya, saya ambruk di tempat tidur dan demam.

Terima kasih.

Hari pertama demam, saya tetap ke kampus. Pulangnya, ambruk lagi.
Hari kedua demam, saya tetap bela-belain ke kampus. Pulang-pulang, suhu badan naik.
Hari ketiga, masih tetap sama.

Lalu weekend panjang kemarin datang menyelamatkan.

Tapi dengan resiko Mami panik luarbiasa. Mungkin saya agak terharu juga. Mami selalu berada disampingku, menjaga dan memberi apa yang saya butuhkan. Trust me guys, kalau Ibu kalian seperti Mamiku, kalian akan menangis saking terharunya dengan perhatian dan cinta kasihnya.

I Love you, Mom.

Isti dan Rahma sempat datang menjenguk. They're my bestfriend! Walaupun sibuk kerja tugas kuliah yang seabrek-abrek, masih sempat menyisakan waktu untuk melihat keadaanku.


Namun ternyata, long weekend itu berakhir juga, guys.

Today is Monday. Dan saya baru saja pulang dari kampus wawancara PMW dan Final KAB dan mengumpulkan tugas final SHI.

Betapa....


Love,
Sunshine

Selasa, 25 Mei 2010

FINAL test

Minggu yang berat. Saya harus berusaha sekuat-kuatnya untuk menjaga agar bisa tetap sehat. Dua minggu yang lalu, saya habiskan di kamar hanya untuk istirahat. I got cold. And I feel really bad.
Ternyata saya baikan pas hari Senin.
Senin bagi saya seperti uang 50 ribu an. Maksud saya, jika Senin sudah pecah, tanpa sadar, eh, sudah hari Jumat lagi! Jika uang 50 ribu sudah pecah, tanpa terasa, eh, sudah habis, tak tahu kita pake beli apa. Atau mungkin pengandaian saya keliru. Tak tahulah.

Btw, saya lagi-lagi mengganti template blog saya. Ini dari Kak Nani. Maksud saya, dia mendapatkan saya template berjudul Sunshine ini dan segala macam, saat saya preview, looks nice. So I download it, and upload it as my blog template.

So, what have been up to?
Di kampus, saya dan teman-teman sedang sibuk final test. Final ini terasa semakin berat karena kebanyakan dosen yang hanya memberi tugas pengganti final. Akhirnya, bertumpuk lah tugas-tugas untuk dikumpulkan.
Saat menulis ini, contohnya, saya sebenarnya sedang mengerjakan Tugas Final untuk mata kuliah Etika dan Hukum Media Massa. Untuk Hubungan Demokratisasi Penyiaran dengan Stasiun Televisi Berjaringan dalam UU No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. How does it sound?

Trus, Ilham Nur Bardiansyah, selaku koordinator alias PJ Lab Audio Visual, meminta agar barang-barang lab segera di inventaris dan di label. Jadi, saya, selaku bagian inventaris, harus turun tangan dalam pekerjaan itu lagi.
Kemarin, saya ditinggal sendiri dalam ruangan ber AC karena mahasiswa Teknik UH dan Sospol UH lagi-lagi tawuran. Dan Ilham Nur B dan Taufiq pergi melihatnya dan tinggal lah saya sendiri di lab. Teman-teman cewek lain, pergi makan Kapurung di Mtos.

Jadi saya menyelesaikan beberapa barang. Maksud saya, seperti TV Monitor, DVS, UPS, kabel roll, HT, komputer CPU, Chrome Key, sudah saya inventaris dan label.

Dan sekarang tinggal dua minggu lagi, sebelum hari keberangkatan saya ke Tucson, Arizona, US. Insya Allah. Saya belum menyiapkan apa-apa untuk itu. Saya mau konsentrasi untuk menyelesaikan semua tugas final dan final tes dan pekerjaan blog Astamedia yang tertunda.

Love,
Sunshine

Selasa, 11 Mei 2010

3 Months

tonight, i just want to say...
i miss you!!
that's all, thank you.

-Love,
Sunshine

Jumat, 07 Mei 2010

Rainbow




Bagi saya, Rainbow adalah sebuah buku seni klasik. Buku yang akan kau lupakan saat pertama kali melihat sampulnya. Buku yang akan kau remehkan saat seseorang menawarkan untuk kau baca. Buku yang biasa-biasa saja nampaknya dari luar.

Kemudian, saat kau mulai membuka halaman pertama, kau mulai memperhatikan judulnya dengan benar.

KAMARUPA

Mungkin judulnya akan seperti itu.

Dan tahulah kau bahwa isinya begitu menarik hati. Jenis buku dengan dua bahasa di dalamnya. Jenis buku dengan tulisan dan gambar di dalamnya. Kau mulai berpikir, she has a great sense of art. Dan kau tak akan ragu tentang itu.

Namun, karena menjadi orang yang paling berlogika, kau sering tidak mengerti dia. Tapi kau nyaman bercerita padanya. Kau nyaman membacanya. Saat dia mengajarimu sesuatu, kau suka menjadi muridnya. Dia setia menemanimu ke tempat yang jauh bahkan walau jalan menuju ke tempat itu susah, berliku dan berbatu-batu.

Dan saat teman-temanmu yang lain meminta iphone, sneakers dan laptop saat kau ke US, dia malah memintamu mencarikannya jam antik berbentuk liontin yang bisa dipasangi foto di dalamnya dan agar kau mengiriminya postcard dari sana. Simple but worthed.


Love,
*Sunshine

Relationship



Saya mulai meragu tentang menjalin sebuah hubungan.

Entahlah.

Dalam satu waktu, kau bisa begitu dekat dengan seseorang. Begitu dekatnya, hingga kau bisa mengetahui keberadaannya hanya dengan merasakan aroma tubuhnya yang sangat kau kenal.
Dalam satu waktu, kau juga bisa begitu mengenal seseorang. Begitu kenalnya, hingga kau tahu bagaimana cara makan, berpakaian dan menyisir rambutnya. Kau tahu apa mimpi-mimpinya, kau tahu apa keinginan dan ambisi terbesar dalam hidupnya. Kau tahu seluruh dirinya.

Seperti yang pernah saya katakan, "Kita bertemu dan mengenal banyak orang dalam hidup kita..."

Kemudian dalam sekejap, ZAAP!

Everything's change. Dia bukan lagi orang yang paling dekat denganmu. Dia bukan lagi menjadi orang pertama yang kau hubungi saat membutuhkan bantuan. Dia bukan lagi orang yang paling mendengarmu. Dan tentu saja, begitupula yang berlaku pada dirinya. Kemudian, lambat laun, kau mulai melupakan suaranya. Kau mulai berusaha keras mengingat aroma tubuhnya dan tetap tidak berhasil. Kau lupa apa yang membuatnya takut, makanan yang paling dibencinya. Bahkan kau akan lupa pernah menjadi bagian dari dirinya.

And for me, that was the most weird things happen on earth. And I have no idea, how this could possibly happen. I do really.


Kemudian, seorang teman.
Seseorang yang kau anggap tak akan meninggalkanmu? Seseorang yang kau kira akan selalu mengerti keadaanmu? Seseorang yang kau harapkan akan menerima permintaan maafmu? Seseorang yang kau pikir akan melewati semua saat-saat sedih dan bahagiamu?

Lalu bagaimana yang kau hadapi kemudian?

Tidak ada. Mereka sama saja. Change. Berubah. Hanya dalam sekejap. Karena satu alasan. Dan kau tak bisa berbuat apa-apa untuk itu.

Padahal dia temanmu. Seseorang yang mestinya tak akan meninggalkanmu. Seseorang yang mestinya selalu akan mengerti keadaanmu. Seseorang yang mestinya menerima permintaan maafmu saat kau khilaf. Seseorang yang mestinya bersedia melewati the darkest and the glowest time bersama denganmu.

Kau merasa tak lengkap bila tidak ke Mall bersama-sama. Melakukan apa saja; hangout, makan, menertawai diri karena tak punya uang tapi mau makan di resto mahal. Semua kalian lakukan bersama-sama. Bahkan membicarakan kondisi politik-sosial-ekonomi di saat makan siang bersama, mengutuki mahasiswa yang selalu membuat jalan macet karena aksi demonstrasi mereka, padahal kalian sendiri juga mahasiswa. Atau mengagumi asisten dosen di salah satu jurusan di fakultas, merencanakan jalan-jalan saat liburan, photo session, membicarakan gaun apa yang akan kalian kenakan ketika pesta pernikahan teman kalian, kemudian do make up together, memberi pesta kejutan saat salah satu dari kalian berulangtahun...

Dan semua HAL yang kalian alami sebelumnya.

Mengapa semua itu...serasa menjadi tidak penting lagi?

Mengapa hanya karena satu kejadian yang SALAH, bisa menutupi semua hal BENAR sebelumnya?

Sungguh, akhir-akhir ini, saya mulai meragu tentang menjalin sebuah hubungan.

Kalau begitu, apa yang bisa menjamin, yang menjadi ORANG PALING DEKAT denganmu sekarang, tak akan menjadi MUSUHMU nanti? Orang yang paling kau SAYANG sekarang, malah menjadi orang yang paling kau BENCI nanti?


Love,
*Ri

Jumat, 09 April 2010

see you soon on June!

Apa yang terjadi jikalau hari itu saya memutuskan untuk berhenti mendaftarkan diri untuk IELSP hanya karena merasa minder essay ku tidak akan bisa sebagus essay Ridho?

Pertama, Amerika tetap akan menjadi mimpi sekarang. Tanpa ada bayangan untuk kesana tahun ini.

Dan kedua,saya tidak akan bertemu dengan 19 teman baru dari seluruh Indonesia di satu grup Arizona. Di empat hari saya di Jakarta kemarin.

Kami semua sungguh tak menyangka Amerika akan menjadi bagian dari hidup kami di umur 20 an. We're just so lucky. Berasal dari daerah, latar belakang dan kisah hidup yang berbeda, membuat kami menjalin sebuah ikatan pertemanan yang baru. Keluarga baru.

Saya tiba-tiba memiliki 19 teman baru. Bang Ali, Habib, Hasbi, Aziz, Eko, Firman, Yudi, Faiz, Fahrin, Maria, April, Ikha, Wiwid, Ade, Yeyen, Hera, Agus, Sakti dan Khoirur Rohman.

We've been through ALL together.

Pertemuan awal di Wisma PKBI, rapat Indonesian Day, Medical Check Up, curhat-curhatan di kamar cewek, foto-foto di bundaran HI, foto-foto di Bazaar foto dan langsung makan siang di Warung Desa yang katanya murah meriah tapi ternyata mahal sungguh, PDO di Hotel Acacia datang satu jam lebih awal dan ditegur sama Mba Ama yang ternyata ramah dan lucu, belanja keperluan di Hypermart Thamrin City, antri jam 4.15 subuh di bawah rel kereta: supaya kita ndak telat wawancara visa di US Embassy, ke markas IIEF di Menara Imperium, say goodbye dan kembali ke daerah masing-masing.

Well, cerita kita masih berlanjut di Juni nanti, guys. Just wait for it. Because June is just no longer anymore. SEE YOU SOON on JUNE!!

Love,
*Ri

Senin, 29 Maret 2010

3 IDIOTS (2009)



3 IDIOTS (2009)


Director: Rajkumar Hirani
Cast : Aamir Khan, Kareena Kapoor, R Madhavan, Sharman Joshi, Boman Irani
Producer: Vidu Vinod Chopra
Release Date: 24 Desember 2009
Genre : Comedy| Drama | Romance|
Runtime: 2 hrs 40 mins



Malam itu, tak ada film bagus di 21 MTOS. Saya tidak suka dengan film Indonesia yang menempati tiga studio sekaligus. Affairs, Terekam dan The Sexy City. Hanya satu studio yang bukan film Indonesia, judulnya 3 IDIOTS-film India. Posternya buruk sekali, seburuk judul filmnya. Saya tahu nama dua pemain filmnya dari poster itu; Aamir Khan dan Kareena Kapoor. Saya tetap tidak tertarik menontonnya.

Namun lima menit kemudian, saya menemukan diri saya sudah duduk dalam studio, memasrahkan diri pada film itu-3 IDIOTS. Kalau film ini benar-benar tidak bagus, paling saya akan tertidur dalam studio.

Tapi ternyata filmnya jauh dari dugaan saya semula.

Saya tidak tahu bagaimana harus menentukan emosi apa yang paling dominan saya rasakan saat menonton film ini. Tawa saya mungkin paling keras, haru saya mungkin sangat besar hingga saya berkali-kali menitikkan airmata, rasa bangga muncul bercampur-campur dengan kemuakan dan kemarahan.

3 IDIOTS bercerita tentang dua sahabat, Farhan Qureshi (R Madhavan) dan Raju (Sharman Joshi) yang mencari sahabatnya, Ranchoddas Shamaldas Chanchad, atau Rancho (Aamir Khan). Mereka berdua bersama dengan Chatur Ramalingam "Silencer" yang perfeksionis dan kompetitif lalu melakukan perjalanan ke Shimla demi bertemu dengan Rancho. Selama perjalanan itulah, kisah demi kisah diceritakan saat mereka masih kuliah bersama-sama di Imperial College of Engineering, salah satu universitas terbaik di India.

Mungkin inilah penampilan terbaik dari Aamir Khan setelah Mann (1999) sebagai Karan Dev Singh. Di umurnya yang sudah 45 tahun, dia haruslah bekerja keras untuk bisa dan cocok memerankan seorang mahasiswa universitas. Dan menurut saya dia berhasil. Walaupun tidak begitu cocok dipasangkan dengan si cantik Kareena Kapoor, karena bagi saya Manisha Koirala tetaplah pasangan terbaiknya dalam film.

Muncul kemudian Boman Irani, yang menghidupkan film ini dengan perilaku antagonisnya. Seorang Direktur Universitas bernama Viru Sahasrabuddhe, yang sangat kejam dan tak berperasaan. Dia menekan mahasiswanya dengan ancaman-ancaman 'tidak lulus' dan 'dikeluarkan' dari universitas. Dia tidak menyukai orang bodoh. Dia tidak menyukai Rancho karena seringnya Rancho melawan kata-kata dan pendapatnya. Jenis pemimpin yang otoriter dan tidak perduli apa yang terjadi dengan murid-muridnya. Viru, yang sering dinamai Virus, hanya mengenal dua profesi dalam hidupnya, Insinyur dan Dokter. Maka jika kau seorang laki-laki, jadilah Insinyur, jika tidak, kau tidak punya masa depan.

Saya begitu kagum dengan skenario film ini. Tanpa sadar, kalian duduk selama hampir 3 jam disuguhkan cerita yang sungguh mendidik dari awal hingga akhir film Kalimat sakti All is Well yang berkali-kali terdengar, membuat kita juga yakin bahwa everything's gonna be alright. Persahabatan yang sangat kuat dan tak terpisahkan jarak dan waktu. Betapa dorongan semangat dan sumbangan motivasi dari sahabat kita sangat berpengaruh dalam menentukan hidup kita di masa depan. Betapa kita tak akan pernah bisa lupa pada teman seperti Rancho yang alih-alih menjadi Punsukh Wangdhu yang terkenal dan berhasil. Bagi Rancho, tak penting berhasil, yang penting berguna. Bagi Rancho, kejar apa yang kalian cintai dan nikahi mereka. Jangan sampai kau mencintai fotografi, kalian malah menikahi mesin. Seperti yang dia katakan,"Pursue excellence, and success will follow, pants down".

What else to tell? About music and scoring? I'd give them two thumbs up. Saya yakin kalian akan merinding begitu mendengar Behti Hawa Sa Tha Woh di awal film. Atau kalian akan ikut berjoget saat Aal Izz Well disenandungkan ala-ala opera kamar mandi. Dan juga tentunya, kalian akan langsung mencari dan mendownload lagu Give Me Some Sunshine, saking tergila-gilanya kalian akan paduan akustik gitar dan liriknya. Walaupun Zoobi Doobi agak terlalu berlebihan, tapi kalian akan menyukainya. Apalagi dengan akting duo Rancho dan Pia (Kareena Kapoor) di tengah hujan. Salute for Shantanu Moitra, selaku Music Director film ini yang berhasil dalam scoring yang menggetarkan hati dan membangun emosi penonton.

Film yang diangkat dari novel karya Chetan Bhagat berjudul Five Point Someone ini pun telah terjual 10 Lakh kopi di India sejak 2004. Pertanda betapa tepatnya Vidu Vinod Chopra mengambil keputusan untuk memproduseri film ini dan memilih Rajkumar Hirani untuk menyutradarainya. Film ini pun berhasil meraih Film, Sutradara dan Aktor Terbaik dalam Filmfare Awards di 2010.

Jadi, tak semua film-film India hanya berjoget dan bernyanyi dari satu pohon ke pohon lain, atau dari satu tiang ke tiang lain. Slumdog Millionaire membuktikannya tahun lalu. Dan kali ini 3 IDIOTS meneguhkannya.


Have a nice watching!!

-Ri


Best Scene:
Saat Rancho dengan santai menjelaskan pada dosennya mengenai, "Apa yang saya lupa" dengan jawaban yang rumit dan bertele-tele Padahal jawabannya hanyalah,"Books, Sir. I forgot my books..."

Rancho: [Definition of Book] Instruments that record analyse summarize organize debate and explain information which are illustrative non-illustrative hardbound paperback jacketed non-jacketed with forward introduction, table of contents, index that are indented for the englightnment, understanding enrichment enhancement and education of the human brain thru sensory root of vision... sometimes touch.