Selasa, 25 November 2008

A Girl Who Married Lion

Finally, setelah sebulan lebih menyimpan buku ini di meja, selesai juga bacanya.

This book from Kak Debra yang baik hati. Berisi 34 dongeng penuh makna yang indah dari dua negara di Afrika-Zimbabwe dan Botswana. Membaca dongeng hanya untuk anak kecil? Menurut saya tidak. Membaca dan mendengarkan dongeng, seperti kata Mma Ramotswe, membuat kita mengenang dan mengingat kembali masa kecilk ita. Saya juga setuju pada kalimatnya; "mengenang masa lalu seakan memandang melalui sebuah jendela yang tertutup debu; kita bisa melihat sesuatu, tetapi tidak dengan sangat jelas.

Penulis buku ini, Alexander McCall Smith, kelihatannya sangat mencintai bumi Afrika, tempatnya dilahirkan. Afrika memiliki banyak koleksi indah cerita rakyat Afrika sub-Sahara. Untuk itu, dia mencoba membagi dongeng-dongeng ini ke seluruh dunia. Karena dongeng menurutnya, merupakan bagian dari bahasa universal yang dapat berbicara kepada semua orang, melampaui batas-batas manusia, sebagaimana musik.

Saya punya lima dongeng favorit dalam buku ini. Yaitu Dua Orang Kawan Bertemu untuk Makan Malam, Lelaki Buta Menangkap Seekor Burung, Burng Susu, Anak-Anak Lilin dan Cara Buruk Memperlakukan Teman. Lima dongeng itu punya makna dalam masing-masing ceritanya.

Bagi kalian yang merindukan kisah-kisah ringan, menghibur tapi bermakna yang dikemas dalam dongeng fabel yang indah dan menghangatkan hati...buku terbitan Bentang ini pantas jadi pilihan.

La Tigre e La Neve




"Bagaimana kalau kita hidup selamanya? Itu mudah, kan?" Attilio de Giovanni bertanya pada gadis cantik yang duduk di depannya.
"Semudah melihat macan di salju. Aku mau kalau sudah siap.." gadis cantik yang bernama Victoria itu menjawab, sambil memperlihatkan sebuah buku berjudul La Tigre e la Neve.
"Kita ke Tibet.Di sana ada macan dan selalu turun salju!" tiba-tiba Attilio mendapat ilham.
"Tapi kita ada di Roma..." Victoria kembali menjawab
"Hujan salju di roma dan ada macan? Aku mengerti..."

Film Itali pertama yang saya tonton. Kalau diingat-ingat lagi, film ini sudah ada di sekitaran saya sejak dulu, tapi tanpa ada niat dan keinginan untuk menontonnya. Alasan pertama, karena pemainnya tidak saya kenal. Kedua, tidak ada yang merekomendasikannya. Jadilah, dua minggu yang lalu, saat bertandang ke markas liga film, menemukan dvd, tiba-tiba seperti dejavu, saya bertemu lagi dengan film ini, setelah k'cokz bilang ini film yang bagus saya pun berusaha menontonnya di tengah keramaian ngedit film, tidak berhasil, saya pun membawa kasetnya pulang, untung dibolehkan.

Really, I admit, ide filmnya murni kisah cinta yang indah.

Akting Roberto Benigni (Attilio) sebagai laki-laki yang jatuh cinta pada Victoria menyentuh hati saya. His genuine sacrifice yang tanpa balas jasa untuk gadis kecintaannya membuat sedikit iri and make me wonder, "is there anyone like him outside?". Dia rela menjaga, merawat dan memenuhi semua kebutuhan Victoria saat dia koma di rumah sakit di Baghdad. Padahal saat itu perang sedang berkecamuk, dimana segala kebutuhan pengobatan sulit didapat. Tapi Attilio, tanpa pernah berpikir dua kali, pergi mencari apa yang dibutuhkan Victoria. No matter what happens, Victoria harus sembuh dari koma nya, sadar dan pulang kembali ke Roma.

Minggu, 16 November 2008

Jason Mraz video that I've found recently

Long Road to Forgiveness.
Watch it!



Video ini diposted oleh JM dan temannya, Brett Dennen. Ditulis khusus untuk album Songs for Survival :Amazon tribe. Selain vokal Mraz, ada juga vokalnya Brett dan Toca yang khas. Dalam video ini ditampilkan juga kehidupan suku Amazon yang masih tradisional dan sepertinya belum mengenal pakaian. Pokoknya masih primitif. Pas nonton video ini, saya makin kagum sama JM karena selain dia jago nyanyi dan bereksperimen dengan alat-alat musik lain, dia juga such a humble and inspiring musician. Bravo Mraz!

Jason Mraz and Brett Dennen speak here about their contribution to an album for Survival International, the human rights organization for tribal peoples.

Bruce Parry, star of the BBC series Tribe and the forthcoming Amazon, has teamed up with some of the music worlds biggest names to create a fundraising album for Survival.

Musicians on the album also include KT Tunstall, Skin from Skunk Anansie, will.i.am (Black Eyed Peas), Johnny Borrell (Razorlight), Tom Baxter, Mystery Jets, Yusuf Islam, Hot Chip, the Go! Team and Mike Oldfield.

In addition, Guy Berryman from Coldplay, Jonas from MEW and Magne from A-ha have formed a new band specially for the CD called Apparatjik, and recorded a track that will also be used for the end credits of Amazon.

Every track on the album is exclusive, and has been written especially for the project.

The first section of songs is titled Amazon and features songs inspired by Bruce Parrys new series of that name, to be shown on BBC2 in September.

The second section of songs, entitled Tribe, is a collection of dance/experimental songs which all use samples of music Bruce recorded with the tribal people he lived with during the making of his hugely popular BBC show

The Winners vs The Losers

The Winner is always a part of the answer
the loser is always a part of the problem

the winner always has a program
the loser always has an excuse

the winner says,"Let me do it for you"
the loser says, " That's not my job"

the winner sees an answer for every problem
the loser sees problem in every answer

the winner sees a green near every sand trap
the loser sees teo or three sand traps near every green

the winner says, "it may be difficult, but it's possible"
the loser says,"it may be possible, but it's too difficult"

So, friend, BE A WINNER

sumber:majalah Excellence Bosowa

-sunshine only-

For One More Day


Lagi-lagi buku dari Tya. Dengan ini artinya sudah tiga bukunya Albom yang saya baca. Five People Meet in Heaven dan Tuesdays with Morrie. Dan kesemuanya, such a great books.
Kali ini Albom bercerita tentang hubungan anak dan ibunya. Menceritakan kisah bagaimana seandainya kau diberi waktu sehari lagi bersama ibu mu (atau orang yang sangat kau sayangi) yang telah pergi meninggalkanmu tanpa kalian tahu. Dan cara bercerita Albom yang khas dan unik dalam mengemas kisah mengharukan dalam buku ini, make me cry like baby.

A Man Who Was a Superman.


A Man Who Was a Superman.

Film ini ceritanya kira-kira begini.
Ada seorang laki-laki yang menganggap dirinya superman. Di kota, kerjaannya hanya menolong orang lain. Membantu nenek-nenek menyeberang jalan, mengejar pencuri , menjaga ketertiban lalu lintas dll. Nah, kegiatannya ini lalu menarik perhatian seorang wartawan TV cewek yang lalu mengikuti semua kegiatannya sehari-hari. Saat itulah, cewek itu 'mengenal' dengan baik laki-laki misterius ini.

Pesan yang saya bisa tarik dari film ini

Masing-masing dalam diri kita menyimpan kekuatan dan kemampuan untuk menolong orang lain. Lalu, apa yang membuat kita tidak melakukannya? Karena para penjahat meletakkan kryptonite dalam kepala kita. Hal itu membuat kita lupa siapa diri kita dan seberapa besar kekuatan luar biasa yang kita miliki.
Padahal sebenarnya, kita akan merasa lebih baik jika menolong orang lain, menyebabkan endorphin keluar, dan kryptonite dalam kepala kita melemah hingga dia akan keluar dengan sendirinya.
Bagi beberapa orang, kryptonite-kryptonite itu masih tersimpan dalam kepalanya, beberapa orang kryptonite nya telah keluar bersamaan dengan diri mereka yang sebenarnya. The truth is, we are all superman. We just don't remember yet. We just don't realize yet, we need to help much more then you can see that you can open all iron doors by small key, not by super power.

Kita menyangka hanya beberapa orang saja yang diberi kekuatan dan keberanian yang lebih dibanding kekuatan dan keberanian yang kita punya. Therefore, we call it hero. Heroes are the people who can done what we couldn't do by power and by brave that we all don't have. Padahal kita sebenarnya punya kekuatan itu. Punya keberanian itu. Lalu apa yang membuatmu merasa hanya orang-orang terpilih (heroes) yang diberi kekuatan dan keberanian lebih? Kita semua punya, hanya saja kita belum menyadarinya lagi.

Minggu, 02 November 2008

hanya bimbang sesaat

Yah, hanya ini yang bisa saya tulis saat ini

hanya bimbang sesaat

si Rainbow dan Snowy ditelepon ke handphonenya (yang jarang saya bisa saya lakukan) malah tidak diangkat-angkat, mungkin mereka istirahat.

Apa boleh buat?
Mereka sedang sakit.
Saya hanya ingin menanyakan keadaan.

Dini dan Nd yang ditelepon pun hanya menjawab "Tidak tau ka'...tanya bede Kak Ain.." saat saya menanyakan kebingungan saya tentang LPJ yang sampai sekarang tidak kelar-kelar.

Sekarang masih banyak tugas yang harus dikerjakan..menumpuk...menunggu..

Episode Keluarga Cuaca bagian I pun harus di postpone dahulu..

NB:
Dapat nama baru lagi dari Kak Awi, Naga Kecil, hahaha...isn't it cute? ()

Senin, 27 Oktober 2008

Tuesdays with Morrie


kalau tidak bertemu Tya, mungkin bacaan saya tidak akan berkembang. Itu-itu saja, tak akan pernah ke Bibli sewa buku, dan begitu-begitu saja. Siapa yang akan meminjamkan buku kalau bukan dia? Dini, Tya lah yang paling sering pinjamkan buku-buku mereka ke saya. Salah satunya buku ini, Tuedays with Morrie. Buku yang ditulis oleh Mitch Albom, sebuah kisah nyata yang benar-benar inspiratif.

Words from Tuesday With Morrie: (mungkin kalian akan tahu seperti apa buku ini jika membacanya)

"Begitu banyak orang menjalani hidup mereka tanpa makna sama sekali. Mereka seperti separuh terlelap, bahkan meskipun mereka sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang menurut mereka penting. Ini karena mereka memburu sasaran-sasaran yang salah. Satu-satunya cara agar hidup ini menjadi bermakna adalah mengabdikan diri bagi masyarakat di sekitar kita, dan mengabdikan diri untuk menciptakan sesuatu yang memberi kita tujuan serta makna."

"Cinta yang menang. Cinta selalu menang."

The tension of opposites:
"Hidup ini merupakan rangkaian peristiwa menarik dan mengulur. Suatu saat kita ingin mengerjakan satu hal, padahal kita perlu mengerjakan sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang membuat kita sakit, namun kita tahu bahwa seharusnya tidak demikian. Kita menerima hal-hal tertentu secara begitu saja, bahkan meskipun kita tahu bahwa seharusnya kita tidak pernah menikmati sesuatu secara cuma-cuma."

"Aku tertegun menyaksikan betapa mudah segala sesuatu berlanjut meski tanpa aku"


"Yang paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang.."

"Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional"


"Kadang-kadang kita tak boleh percaya pada apa yang kita lihat,kita harus percaya pada apa yang kita rasakan. Dan jika kita ingin orang lain percaya kepada kita, kita harus merasa bahwa kita dapat mempercayai mereka juga- bahkan meskipun kita sedang dalam kegelapan. Bahkan ketika kita sedang terjatuh.

"Kita semua memerlukan guru dalam hidup kita"

Rabu, 22 Oktober 2008

Berawal dari sore itu saja...

Berawal dari sore itu saja, saya dapat banyak pengalaman dan pertemuan baru...

Alhamdulillah..

Finally acara peluncuran buku almarhum dosen saya, Bpk Mansyur Semma selesai juga hari ini. Syukur ya Allah!
Istri almarhum, Ibu Arfah Tjolleng, tak henti-hentinya menangis haru di sepanjang acara. Bagaimana tidak? Yang dibicarakan di sepanjang acara juga adalah kekasih hatinya, yang telah meninggalkan dirinya dengan keempat anaknya yang masih sekolah, yang istilah kata belum mandiri lah. Beliau juga tidak henti-hentinya berterima kasih kepada kami, seluruh panitia yang sudah berkorban waktu, tenaga dan materi untuk membantu kesuksesan acara ini. Mungkin beliau merasa, kata terima kasih saja tidak cukup untuk mengungkapkan rasa bahagia hatinya.

Acara yang juga sudah membuat Nendenk, saya dan sebagian panitia menjadi kurusan, akibat dari mondar- mandir sepanjang kampus mengurus ini itu, tetek bengek urusan launching, sempat jadi jutek, marah-marah tanpa alasan, stress, depresi dan gangguan lainnya. But you know what? Semua hal itu jadi tidak masalah lagi setelah melihat para tamu yang datang tadi sore di PKP. Karena, kursi yang disediakan panitia tidak cukup. Kuota tamu yang datang melebihi apa yang diperkirakan panitia. Kami, atau hanya saya saja?, sangat gembira dan bersyukur.

Acara yang memberikan saya pengalaman menjadi sekretaris yang baik. Acara yang membuat saya tahu bahwa untuk membuat satu acara saja itu birokrasinya minta ampun susahnya. Tapi memungkinkan untuk tetap dicoba. Acara yang menjadikan saya lebih dekat dengan senior dan kanda-kanda di Kosmik. Acara yang mengajari saya kerja sebagai satu tim. Acara yang merupakan pengalaman seumur hidup, yang membuat saya bangga masuk dan menjadi bagian dari Komunikasi Unhas. Lagi-lagi saya bersyukur.

Terlalu banyak hal untuk disyukuri.
Terima kasih kepada Kak Debra, yang pada sore itu meminta saya menjadi panitia Launching Buku, yang ternyata panitia artinya sekretaris..., well that means she trusted me, didn't she?
Terima kasih karena berawal dari sore itu saja, saya dapat banyak pengalaman dan pertemuan baru...

-sunshine only-

Son of RamboW


Son of Rambow

"The funniest British Film since Hot Fuzz"
-The Sun-

Layaknya mendapat pencerahan, film ini saya tonton ketika musim-musimnya teman-teman di Komunikasi produksi film, menyambut ultah KIFO katanya. Kenapa saya katakan demikian, karena film ini setting nya itu tentang pembuatan film.
Will Proudfoot adalah anak yang dididik keras oleh ibunya yang merupakan anggota dari Perkumpulan Agama. Yang dia lakukan hanya yang baik-baik saja, bahkan dia jarang menonton film atau TV dan mendengarkan musik. Setiap kali di kelas ada pemutaran film dokumenter, dia dipersilahkan keluar kelas, semua karena hal itu merupakan larangan Perkumpulan Agama tersebut. Saat keluar kelas pada suatu siang dia bertemu dengan Lee Carter, seorang anak badung, nakal dan dibenci oleh semua orang di sekolah karena kenakalannya. Dia sering dihukum dan kena skorsing. Anehnya, kedua orang ini malah menjalin persahabatan yang erat dan terlibat dalam pembuatan film yang berjudul Son of Rambow.

Selain melihat bagaimana take scene per scene film buatan mereka yang kocak, kita juga bisa memahami karakter masing-masing karakter pemain pada akhirnya. Film ini kalau saya bisa katakan, memang lucu, tapi lucu ala Barat sana. Yang paling kena itu malah tentang persahabatan Will dan Lee. Akting keduanya pun bisa dinilai bagus. Garth Jennings selaku sutradara film ini mampu menghadirkan pemandangan di Inggris yang indah dan hijau dengan banyaknya pemandangan rumput dan sawah pada filmnya.

Best Scene:
Saat kecelakaan. Will yang nyaris tenggelam dalam aspal hitam berusaha meminta tolong pada Didien tetapi tidak didengarkan. Tiba-tiba Lee datang menyelamatkannya, padahal sebelum itu mereka bertengkar hebat gara-gara Will mengejek kakak Lee. Yang masuk rumah sakit malah Lee yang tertindih reruntuhan bangunan saat sudah menolong sahabatnya itu. Setelah kembali dari rumah sakit, film Son of Rambow ternyata ditayangkan di bioskop sebelum penayangan film utama, dan Lee menontonnya. Semua penonton dalam studio menangis haru dan terpingkal-pingkal dibuatnya. Aplaus buat Son of Rambow!!

The Visitor


Hanya perlu satu orang yang bisa mengubah keseluruhan jalan hidupmu. Itu mungkin yang ingin diangkat dari film ini. The Visitor, film karya Thomas Mc Carthy, sutradara sekaligus penulis film ini, menceritakan tentang kehidupan seorang duda bernama Walter Vale, yang ditinggal mati istrinya. Selama dua puluh tahun dia hidup sendiri dan melakukan apa yang dipikirnya tak berguna. Mengajar dan menulis buku hanya untuk mengisi kesibukannya. Saat temannya meminta dia menghadiri konferensi di Manhattan, dia terkejut menemukan sepasang kekasih menempati apartementnya. Warga Syrian bernama Tarek dan kekasihnya Zainab yang berasal dari Senegal. Saat mereka berdua memutuskan untuk mengalah keluar, Walter yang merasa sendiri, tidak cukup merasa baik untuk membiarkan mereka terkatung-terkatung di jalanan New York Akhirnya mereka bertiga berbagi apartemen yang artinya, berbagi cerita dan share problem dalam hidup layaknya keluarga. Otomatically, Walter's life is changed.

Film ini mendapat beberapa penghargaan, diantaranya Winner of Brisbane International Film Festival Interfaith Award, Moscow International Film Festival Best Actor dan Method Fest Best Actor, Best Director dan Best Supporting Actress. Saya juga mengacungkan jempol pada ide cerita film ini yang tidak biasa. Mengangkat isu betapa sulitnya mendapat suaka dan hak tinggal di Amerika bagi warga Muslim. Menyinggung tentang keamanan Amerika yang diperketat sejak 9/11 namun sepertinya hanya untuk warga Muslim saja. Betapa kerasnya polisi disana dan bangunan penjara yang dibuat layaknya gedung biasa di tengah kota di New York.

Akting para pemain terutama Richard Jenkins, yang baru pertama kali saya tonton filmnya ini, sangat bagus. Dia berhasil mengukuhkan perannya sebagai seorang yang butuh 'orang lain' dalam hidupnya, betapa merasa sia-sia hidupnya dan betapa inginnya dia melakukan hal yang berguna kepada orang lain. Disamping itu dalam film ini juga diperkenalkan alat musik pukul seperti gendang bernama Djambe, memperkenalkan pada kita musik khas Afrika.

Senin, 29 September 2008

Minal Aidin wal Faidzin...


Minggu, 21 September 2008

Catatan September (II)

21 September 2008.

Sudah jarang senyum lagi ; bukan hanya Kak Cokz yang bilang, Nendenk juga berkali-kali bilang, “Senyum dulu, Ukhti..”.,Rahma juga, mungkin dia juga merasa begitu. Saya bukan hanya sudah jarang senyum lagi, akhir-akhir ini saya juga susah sekali mengatakan terima kasih. Waktu itu setelah selesai mendapatkan tanda tangan Kak Irwan untuk surat-surat launching, saya ditemani Rahma langsung pergi. Baru setelah agak jauh dari pasar (Mace), Rahma bilang, “Kau itu sudah ditandatangani suratmu tidak bilang makasih”. Saya hanya bilang, “Ah, kau yang tidak dengar mungkin..” saya berdalih. Memang kata itu sulit keluar dari mulutku. I don’t know what is wrong with me.


Catatan September (I)

17 September 2008.

Mungkin hanya saya yang merasa sayang, orang lain tidak.

Satu persatu teman-teman mulai berdiri dan mandiri. Satu-satu mulai lupa, mungkin terbuai, mungkin terlena karena tali penggantung mulai lepas.

Mungkin hanya saya yang masih menggantung, masih belum lupa, masih belum terlena dan terbuai.

Atau mungkin hanya saya yang terlalu berlebihan. Berpikir terlalu jauh, padahal sebenarnya tidak begitu kenyataannya.

Bagaimana menurutmu?

Sungguh, seandainya saya diberi kekuatan super saya akan memilih bisa membaca pikiran orang lain.

Mungkin saja...untuk saat ini.


Minggu, 07 September 2008

Knowledge, is never much enough...

Bagi sebagian orang, ilmu pengetahuan itu membuat candu. Mereka terus menerus mencari sumber-sumber ilmu yang tak berbatas. Bahkan hingga umur telah menua, mereka tidak pernah merasa puas hanya dengan mengetahui beberapa hal atau beberapa perwujudan Ilmu. Mereka merasa semakin bodoh dan rendah, semakin tidak tahu apa-apa, justru ketika mereka telah banyak tahu. Mereka digolongkan dalam orang yang cerdas dan hebat, namun mereka juga terus menerus mengatakan hal-hal seperti “saya juga masih belajar, kita sama-sama belajar lah. Mungkin ada yang saya tahu kalian belum tahu, atau mungkin kalian bahkan sudah tahu apa yang belum saya tahu”. Mereka menolak dikatakan “good at something” dan lebih menerima untuk dikatakan “could at something”.

Bagi orang-orang yang beruntung, akan bertemu dengan orang-orang cerdas dan hebat seperti itu di suatu tempat. Mereka selalu merasa termotivasi. Mereka takkan pernah merasa malu dan sia-sia untuk bermimpi setinggi langit. Orang-orang yang beruntung itu akan terpacu dan terdorong mengarahkan visi mereka kearah yang hampir sama dengan golongan orang-orang hebat tersebut. Bahkan hingga di suatu titik, tanpa mereka sadari, mereka akan menjadi bagian dari golongan orang-orang cerdas itu. (RDR)


Mungkin sejak buku Laskar Pelangi sedang heboh-hebohnya dibicarakan orang, saat saya selesai membacanya dan merasa sangat terinspirasi akan gambaran Andrea Hirata tentang sosok orang cerdas yang selalu haus akan ilmu pengetahuan, yang tidak akan pernah puas walaupun tugasnya bernilai A+, saya menulis paragraf diatas. Entahlah, saya hanya menggambarkan apa yang saya lihat, rasa, dan pikirkan saat berada di jurusan Komunikasi.

Memang angkatan 2007 tidak seberuntung angkatan lain di jurusan Komunikasi yang belum sempat diajar oleh almarhum Pak Mansyur Semma, yang namanya begitu melegenda karena kebaikan nuraninya yang penuh dengan intelektualitas seorang pengajar. Saya sangat menyayangkan hal itu tentu saja, karena saya belum sempat menyaksikan kecerdasan beliau. Namun saya masih termasuk beruntung, karena masih sempat mendapat pengajaran oleh the other of communication’s great lecture, Pak Syam, walaupun itu hanya ±satu semester, saat beliau mengajar kelas ganjil mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Tapi kini Pak Syam pun sudah kembali ke hometown nya yang kedua ,Melbourne, Australia, mengeruk lagi lebih dalam ilmu pengetahuan yang dirasakannya tak pernah cukup untuk dibagikan kepada murid-muridnya.

Saya dan teman-teman yang lain hanya merasa sayang sekali, Pak Mansyur sudah tiada, Pak Syam pun telah kembali menuntut ilmu di negeri orang, siapakah lagi yang dapat mengajar kami sebaik mereka? Siapakah lagi pengajar yang mampu memotivasi kami-kami yang bukan hanya butuh berbagai macam teori di buku dan hafalannya?

Mungkin saat itulah para senior-senior di kosmik berperan. Menanamkan idealisme modern atau apalah, agar kami adik-adiknya bisa konsisten mengejar mimpi kami. Karena satu pesan Pak Syam yang saya ingat benar, “Well, dream it first, how can it’ll be real if you don’t even dream?”− “Mimpikanlah dahulu…, kalau kalian bahkan tidak memimpikannya bagaimana bisa jadi kenyataan?”. Sesuai teori The Secret, “Your visions is your future life”.