Rabu, 22 Oktober 2008

Berawal dari sore itu saja...

Berawal dari sore itu saja, saya dapat banyak pengalaman dan pertemuan baru...

Alhamdulillah..

Finally acara peluncuran buku almarhum dosen saya, Bpk Mansyur Semma selesai juga hari ini. Syukur ya Allah!
Istri almarhum, Ibu Arfah Tjolleng, tak henti-hentinya menangis haru di sepanjang acara. Bagaimana tidak? Yang dibicarakan di sepanjang acara juga adalah kekasih hatinya, yang telah meninggalkan dirinya dengan keempat anaknya yang masih sekolah, yang istilah kata belum mandiri lah. Beliau juga tidak henti-hentinya berterima kasih kepada kami, seluruh panitia yang sudah berkorban waktu, tenaga dan materi untuk membantu kesuksesan acara ini. Mungkin beliau merasa, kata terima kasih saja tidak cukup untuk mengungkapkan rasa bahagia hatinya.

Acara yang juga sudah membuat Nendenk, saya dan sebagian panitia menjadi kurusan, akibat dari mondar- mandir sepanjang kampus mengurus ini itu, tetek bengek urusan launching, sempat jadi jutek, marah-marah tanpa alasan, stress, depresi dan gangguan lainnya. But you know what? Semua hal itu jadi tidak masalah lagi setelah melihat para tamu yang datang tadi sore di PKP. Karena, kursi yang disediakan panitia tidak cukup. Kuota tamu yang datang melebihi apa yang diperkirakan panitia. Kami, atau hanya saya saja?, sangat gembira dan bersyukur.

Acara yang memberikan saya pengalaman menjadi sekretaris yang baik. Acara yang membuat saya tahu bahwa untuk membuat satu acara saja itu birokrasinya minta ampun susahnya. Tapi memungkinkan untuk tetap dicoba. Acara yang menjadikan saya lebih dekat dengan senior dan kanda-kanda di Kosmik. Acara yang mengajari saya kerja sebagai satu tim. Acara yang merupakan pengalaman seumur hidup, yang membuat saya bangga masuk dan menjadi bagian dari Komunikasi Unhas. Lagi-lagi saya bersyukur.

Terlalu banyak hal untuk disyukuri.
Terima kasih kepada Kak Debra, yang pada sore itu meminta saya menjadi panitia Launching Buku, yang ternyata panitia artinya sekretaris..., well that means she trusted me, didn't she?
Terima kasih karena berawal dari sore itu saja, saya dapat banyak pengalaman dan pertemuan baru...

-sunshine only-

Son of RamboW


Son of Rambow

"The funniest British Film since Hot Fuzz"
-The Sun-

Layaknya mendapat pencerahan, film ini saya tonton ketika musim-musimnya teman-teman di Komunikasi produksi film, menyambut ultah KIFO katanya. Kenapa saya katakan demikian, karena film ini setting nya itu tentang pembuatan film.
Will Proudfoot adalah anak yang dididik keras oleh ibunya yang merupakan anggota dari Perkumpulan Agama. Yang dia lakukan hanya yang baik-baik saja, bahkan dia jarang menonton film atau TV dan mendengarkan musik. Setiap kali di kelas ada pemutaran film dokumenter, dia dipersilahkan keluar kelas, semua karena hal itu merupakan larangan Perkumpulan Agama tersebut. Saat keluar kelas pada suatu siang dia bertemu dengan Lee Carter, seorang anak badung, nakal dan dibenci oleh semua orang di sekolah karena kenakalannya. Dia sering dihukum dan kena skorsing. Anehnya, kedua orang ini malah menjalin persahabatan yang erat dan terlibat dalam pembuatan film yang berjudul Son of Rambow.

Selain melihat bagaimana take scene per scene film buatan mereka yang kocak, kita juga bisa memahami karakter masing-masing karakter pemain pada akhirnya. Film ini kalau saya bisa katakan, memang lucu, tapi lucu ala Barat sana. Yang paling kena itu malah tentang persahabatan Will dan Lee. Akting keduanya pun bisa dinilai bagus. Garth Jennings selaku sutradara film ini mampu menghadirkan pemandangan di Inggris yang indah dan hijau dengan banyaknya pemandangan rumput dan sawah pada filmnya.

Best Scene:
Saat kecelakaan. Will yang nyaris tenggelam dalam aspal hitam berusaha meminta tolong pada Didien tetapi tidak didengarkan. Tiba-tiba Lee datang menyelamatkannya, padahal sebelum itu mereka bertengkar hebat gara-gara Will mengejek kakak Lee. Yang masuk rumah sakit malah Lee yang tertindih reruntuhan bangunan saat sudah menolong sahabatnya itu. Setelah kembali dari rumah sakit, film Son of Rambow ternyata ditayangkan di bioskop sebelum penayangan film utama, dan Lee menontonnya. Semua penonton dalam studio menangis haru dan terpingkal-pingkal dibuatnya. Aplaus buat Son of Rambow!!

The Visitor


Hanya perlu satu orang yang bisa mengubah keseluruhan jalan hidupmu. Itu mungkin yang ingin diangkat dari film ini. The Visitor, film karya Thomas Mc Carthy, sutradara sekaligus penulis film ini, menceritakan tentang kehidupan seorang duda bernama Walter Vale, yang ditinggal mati istrinya. Selama dua puluh tahun dia hidup sendiri dan melakukan apa yang dipikirnya tak berguna. Mengajar dan menulis buku hanya untuk mengisi kesibukannya. Saat temannya meminta dia menghadiri konferensi di Manhattan, dia terkejut menemukan sepasang kekasih menempati apartementnya. Warga Syrian bernama Tarek dan kekasihnya Zainab yang berasal dari Senegal. Saat mereka berdua memutuskan untuk mengalah keluar, Walter yang merasa sendiri, tidak cukup merasa baik untuk membiarkan mereka terkatung-terkatung di jalanan New York Akhirnya mereka bertiga berbagi apartemen yang artinya, berbagi cerita dan share problem dalam hidup layaknya keluarga. Otomatically, Walter's life is changed.

Film ini mendapat beberapa penghargaan, diantaranya Winner of Brisbane International Film Festival Interfaith Award, Moscow International Film Festival Best Actor dan Method Fest Best Actor, Best Director dan Best Supporting Actress. Saya juga mengacungkan jempol pada ide cerita film ini yang tidak biasa. Mengangkat isu betapa sulitnya mendapat suaka dan hak tinggal di Amerika bagi warga Muslim. Menyinggung tentang keamanan Amerika yang diperketat sejak 9/11 namun sepertinya hanya untuk warga Muslim saja. Betapa kerasnya polisi disana dan bangunan penjara yang dibuat layaknya gedung biasa di tengah kota di New York.

Akting para pemain terutama Richard Jenkins, yang baru pertama kali saya tonton filmnya ini, sangat bagus. Dia berhasil mengukuhkan perannya sebagai seorang yang butuh 'orang lain' dalam hidupnya, betapa merasa sia-sia hidupnya dan betapa inginnya dia melakukan hal yang berguna kepada orang lain. Disamping itu dalam film ini juga diperkenalkan alat musik pukul seperti gendang bernama Djambe, memperkenalkan pada kita musik khas Afrika.

Senin, 29 September 2008

Minal Aidin wal Faidzin...


Minggu, 21 September 2008

Catatan September (II)

21 September 2008.

Sudah jarang senyum lagi ; bukan hanya Kak Cokz yang bilang, Nendenk juga berkali-kali bilang, “Senyum dulu, Ukhti..”.,Rahma juga, mungkin dia juga merasa begitu. Saya bukan hanya sudah jarang senyum lagi, akhir-akhir ini saya juga susah sekali mengatakan terima kasih. Waktu itu setelah selesai mendapatkan tanda tangan Kak Irwan untuk surat-surat launching, saya ditemani Rahma langsung pergi. Baru setelah agak jauh dari pasar (Mace), Rahma bilang, “Kau itu sudah ditandatangani suratmu tidak bilang makasih”. Saya hanya bilang, “Ah, kau yang tidak dengar mungkin..” saya berdalih. Memang kata itu sulit keluar dari mulutku. I don’t know what is wrong with me.


Catatan September (I)

17 September 2008.

Mungkin hanya saya yang merasa sayang, orang lain tidak.

Satu persatu teman-teman mulai berdiri dan mandiri. Satu-satu mulai lupa, mungkin terbuai, mungkin terlena karena tali penggantung mulai lepas.

Mungkin hanya saya yang masih menggantung, masih belum lupa, masih belum terlena dan terbuai.

Atau mungkin hanya saya yang terlalu berlebihan. Berpikir terlalu jauh, padahal sebenarnya tidak begitu kenyataannya.

Bagaimana menurutmu?

Sungguh, seandainya saya diberi kekuatan super saya akan memilih bisa membaca pikiran orang lain.

Mungkin saja...untuk saat ini.


Minggu, 07 September 2008

Knowledge, is never much enough...

Bagi sebagian orang, ilmu pengetahuan itu membuat candu. Mereka terus menerus mencari sumber-sumber ilmu yang tak berbatas. Bahkan hingga umur telah menua, mereka tidak pernah merasa puas hanya dengan mengetahui beberapa hal atau beberapa perwujudan Ilmu. Mereka merasa semakin bodoh dan rendah, semakin tidak tahu apa-apa, justru ketika mereka telah banyak tahu. Mereka digolongkan dalam orang yang cerdas dan hebat, namun mereka juga terus menerus mengatakan hal-hal seperti “saya juga masih belajar, kita sama-sama belajar lah. Mungkin ada yang saya tahu kalian belum tahu, atau mungkin kalian bahkan sudah tahu apa yang belum saya tahu”. Mereka menolak dikatakan “good at something” dan lebih menerima untuk dikatakan “could at something”.

Bagi orang-orang yang beruntung, akan bertemu dengan orang-orang cerdas dan hebat seperti itu di suatu tempat. Mereka selalu merasa termotivasi. Mereka takkan pernah merasa malu dan sia-sia untuk bermimpi setinggi langit. Orang-orang yang beruntung itu akan terpacu dan terdorong mengarahkan visi mereka kearah yang hampir sama dengan golongan orang-orang hebat tersebut. Bahkan hingga di suatu titik, tanpa mereka sadari, mereka akan menjadi bagian dari golongan orang-orang cerdas itu. (RDR)


Mungkin sejak buku Laskar Pelangi sedang heboh-hebohnya dibicarakan orang, saat saya selesai membacanya dan merasa sangat terinspirasi akan gambaran Andrea Hirata tentang sosok orang cerdas yang selalu haus akan ilmu pengetahuan, yang tidak akan pernah puas walaupun tugasnya bernilai A+, saya menulis paragraf diatas. Entahlah, saya hanya menggambarkan apa yang saya lihat, rasa, dan pikirkan saat berada di jurusan Komunikasi.

Memang angkatan 2007 tidak seberuntung angkatan lain di jurusan Komunikasi yang belum sempat diajar oleh almarhum Pak Mansyur Semma, yang namanya begitu melegenda karena kebaikan nuraninya yang penuh dengan intelektualitas seorang pengajar. Saya sangat menyayangkan hal itu tentu saja, karena saya belum sempat menyaksikan kecerdasan beliau. Namun saya masih termasuk beruntung, karena masih sempat mendapat pengajaran oleh the other of communication’s great lecture, Pak Syam, walaupun itu hanya ±satu semester, saat beliau mengajar kelas ganjil mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi. Tapi kini Pak Syam pun sudah kembali ke hometown nya yang kedua ,Melbourne, Australia, mengeruk lagi lebih dalam ilmu pengetahuan yang dirasakannya tak pernah cukup untuk dibagikan kepada murid-muridnya.

Saya dan teman-teman yang lain hanya merasa sayang sekali, Pak Mansyur sudah tiada, Pak Syam pun telah kembali menuntut ilmu di negeri orang, siapakah lagi yang dapat mengajar kami sebaik mereka? Siapakah lagi pengajar yang mampu memotivasi kami-kami yang bukan hanya butuh berbagai macam teori di buku dan hafalannya?

Mungkin saat itulah para senior-senior di kosmik berperan. Menanamkan idealisme modern atau apalah, agar kami adik-adiknya bisa konsisten mengejar mimpi kami. Karena satu pesan Pak Syam yang saya ingat benar, “Well, dream it first, how can it’ll be real if you don’t even dream?”− “Mimpikanlah dahulu…, kalau kalian bahkan tidak memimpikannya bagaimana bisa jadi kenyataan?”. Sesuai teori The Secret, “Your visions is your future life”.




Jumat, 29 Agustus 2008

Once


Jawabannya Once. Tagline film ini sesuai dengan judulnya. Film ini mampu dengan kuat menyentuh perasaan penonton dengan musik dan liriknya. Coba dengar "Falling Slowly" yang dimainkan oleh dua pemain utama film ini, Glen Hansard dan Marketa Irglova. Glen dengan petikan gitar dan vokalnya dan Marketa dengan vokal dan dentingan pianonya. Wiih...indahnya. Sekali dengar saja, saya langsung terbawa perasaan dan suka.

Film ini penuh dengan musik dan lirik yang menyentuh. Coba juga dengan lagu "If You want Me" yang sedih, kuat dan mendayu namun sangat cepat stuck di kepala.

Mungkin ini film Irlandia pertama yang saya nonton namun saya sangat merekomendasikan film ini. Walaupun cara shoot nya agak goyang, zoom nya masih agak kasar dan take scene nya masih kurang, namun dari segi cerita dan soundtrack, jelas film ini memegang keduanya.

Pas "jalan-jalan" di 4shared, kebetulan dapat link mp3 downloadnya. Yah, kalau mau sekedar dengar, silahkan lah download disini.



"I carry your heart..."


i carry your heart with me
(i carry it in my heart)
i am never without it
anywhere i go you go, my dear;
and whatever is done
by only me is your doing, my darling)

i fear no fate (for you are my fate,my sweet)
i want no world (for beautiful you are my world,my true)
and whatever a sun will always sing is you

here is the deepest secret nobody knows
(here is the root of the root and the bud of the bud
and the sky of the sky of a tree called life;
which grows higher than soul can hope or mind can hide)
and this is the wonder that's keeping the stars apart

i carry your heart (i carry it in my heart)


by: e.e cummings

Sabtu, 16 Agustus 2008

sunshine after rain...no, storm

jika mengingat kejadian itu lagi rasanya saya tidak akan menganggap hal itu masalah lagi. Setelah insiden "The Time Traveler's Wife" yang membawa saya ke anggapan bahwa TB. Gramedia adalah TB yang memang profesional dan bertanggung jawab, atau anggapan saya kena "kutukan" oleh entah siapa, atau mungkin diri saya sendiri, yang tidak memporbolehkan saya memiliki komputer lagi dalam kamar sendiri, karena sudah berkali-kali "Lucy" ku itu dibawa ke tempat service, dan berkali-kali itu pula dia kembali hang, atau handphone yang telah dua tahun bersama-sama saya, yang telah menjalani suka-duka bersama, akhirnya rusak juga kemasukan air (yang tidak pernah ingin saya akui, mbak-mbak sony ericsson yang bilang). Saya sudah menyerah dan tiba pada satu pemikiran bahwa ini memang bencana paling ajaib yang terjadi dalam tahun belakangan ini. Saya menghibur diri sendiri bahwa ini terjadi karena suatu alasan, bahwa akan ada kebahagiaan yang besar akan terjadi pada saya.

Dan itu memang terjadi. Oh my Gosh...thanks.

Saya tak tahu akan berapa macam kebahagiaan itu, apakah termasuk kedatangan Aspar, calon kakak ipar saya yang kemudian mentraktir saya macam-macam pas dia mengajak ke Mall, atau semalam, ketika Tya menelepon dari Jakarta bahwa dia mendapat apa yang saya tidak temukan di Makassar, Jason Mraz's new album, We Sing, W e Dance, We Steal Things. Call me like a child or moron or stupid but I really damn happy of it. Saya menganggap itu kejadian yang paling bisa menghapuskan kesedihan saya selama minggu-minggu ini. I wish it's not over yet..

Kamis, 14 Agustus 2008

just watched

Minggu ini minggu-minggu yang membosankan. Selain anak-anak keluarga cuaca pada tidak ke kampus dan tak ada kegiatan yang berlangsung di kampus selain penyambutan maba, di rumah juga sama. Tiap hari berjalan sesuai dengan rutinitas yang ugh...membuat bosan setengah mati. Dan pada malam tanggal 11 Agustus, saya memutuskan untuk ya...nonton film. Dua film sekaligus sebenarnya tiga, tapi Happy Feet tidak termasuk karena tidak sempat. Ini dia sedikit review nya.

Sejenak menonton film ini dari awal, jadi ingat masa-masa waktu follow upnya IHT. Film Cloverfield ini kalau ditonton, yah..ala kamera video tanpa proses editing. Settingan nya di Manhattan. Kalau kalian lihat poster nya, patung Liberty tabpa kepala, kalian pasti sudah bisa menebak Cloverfield ini jenis film apa. Ini sedikit ulasan ceritanya dari official webnya.

Five young New Yorker throw their friend a going-away party the night, that a monster the size of skycrapper descends upon the city. Told from the point of view of their video camera, the film is a document of their attempt to survive the most surreal, horryfying event of their lives.

Anyway, filmnya seruu! Kalau kalian suka film yang bikin penasaran dan bikin ketakutan dan bikin bertanya-tanya, ini pilihan film yang bagus.









Thomas Barnes (Dennis Quaid) dan Kent Taylor (Matthew Fox) adalah Agen Rahasia yang ditugaskan mengawal Presiden Ashton (William Hurt) pada acara puncak penolakan atas terorisme disebuah taman terbuka. President Ashton tertembak sesaat setibanya di Spanyol, keadaan menjadi kacau balau

Dalam kerumunan orang, Howard Lewis (Forest Whitaker), seorang turis Amerika merekam kejadian tersebut untuk ia tunjukkan kepada keluarganya. Rex (Sigourney Weaver), seorang produser berita yang merekam jalannya acara tersebut. Dalam film ini kita mengikuti jalan cerita masing-masing orang dalam waktu 15 menit sebelum penembakan terjadi dan mengungkap kebenaran di balik pembunuhan tersebut. (21cineplex.com)


Film ini saya nonton atas desakan dari teman-teman yang meng-testi film ini keren. Dan ternyata memang bagus. 1 kejadian dengan 1 kebenaran, diceritakan dalam 8 sudut pandang dari tiap-tiap orang. Dan benar-benar diluar dugaan. You better watch it.

Jumat, 08 Agustus 2008

Kisah Istri Sang Penjelajah Waktu


First I want to say thanks to:

M, my sister for all this time, you make this happen
Gary "Snow Patrol" Lightbody, for introducing me this book.
My Dad and TB Gramedia for return this book in me


Buku ini menceritakan tentang seorang penjelajah waktu bernama Henry De Tamble dan istrinya Clare Abshire. Kalau ceritanya di detailkan di posting kali ini, saya juga ragu apa akan dimengerti. Karena ceritanya agak rumit (benar-benar rumit, serius!) jika dibahas bersama apalagi kalau dituliskan.

Buku ini merupakan salah satu novel dewasa yang pernah saya baca. Menyampingkan kisah romantis yang vulgar untuk seumuran saya (ugh! ternyata saya belum cocok baca novel sejenis ini), novel ini yah..cukup bagus untuk kisah cinta yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Novel ini juga salah satu novel yang menyentuh dan dalam yang pernah saya baca. Meskipun banyak review yang saya baca mengenai buku ini, semua review mengatakan buku ini bagus dan menguras air mata tidak terkecuali Gary Snow Patrol, tapi tidak dengan saya. Maksudnya memang kematian itu menyedihkan. Apalagi kalau yang meninggal itu meninggalkan sebuah surat yang mengatakan "Clare, aku mencintaimu." atau "Bagiku Clare, kau adalah segalanya". Memang bagian ini menyedihkan (atau ada yang bilang tidak?), tapi selebihnya hanya lumayan. Tapi saya gembira dan senang telah menyelesaikan buku ini. Buku yang membuat saya penasaran selama setahun sejak Gary Snow Patrol memperkenalkannya pada saya secara tidak langsung. Buku ini akan segera difilmkan dengan pemeran Eric Bana dan Rachel McAdams.

Entahlah, mungkin juga saya belum terlalu dewasa dan mengerti apa yang indah dan menguras air mata dalam buku ini. Mungkin dalam beberapa tahun setelah ini, saya akan membaca buku ini untuk kedua kalinya, setelah saya cukup dewasa tentunya, dan akan mengerti. Saya juga akan meminjamkan pada Dini buku ini untuk menanyakan pendapatnya, atau kepada Tya, Rahma dan Isti (kalau mereka bersedia membaca dan berbagi pendapat tentunya).

Rabu, 06 Agustus 2008

first class..

Tadi malam saya memulai kelas pertama saya. Mengajar bahasa inggris kepada tiga orang adik saya yang masih esde. Rasanya aneh memang tapi saya melakukannya semata-mata untuk lebih mencerdaskan mereka dan memperkenalkan bahasa dunia yang pertama itu kepada mereka. Bagaimanapun globalisasi mulai merambat masuk, tanpa bisa dicegah. Sebagai kakak yang baik, saya hanya berusaha mengajarkan sesuatu yang paling mudah untuk dekat dengan hal itu, mempelajari bahasa nya.

Atau setidaknya mereka menyukai bahasa inggris, atau penasaran akan bahasa inggris. Karena saya pikir langkah pertama yang paling sulit ditanamkan namun pengaruhnya paling kuat ya itu, membuat mereka menyukai sesuatu.

Jadi saya mulai mengambil whiteboard, spidol hitam, penghapus dan mulai menulis.

"English Timezone. 5 August 2008. By: Miss K"
First Meeting : Introduce Your Self!

Baru saja selesai, Meli (adik paling kecil kedua) langsung bertanya dengan manja, "Ky..apa artinya itu first meting?" dan langsung saya jawab, "Pertemuan pertama, dek..". Dia mengangguk dan kembali memperhatikan.

Lalu mulailah saya menjelaskan tentang apa-apa saja yang disebutkan apabila kita memperkenalkan diri kita pada orang lain.

Lalu saya memberikan tugas untuk membuat script sendiri untuk "Introduce Your Self". Waah...kesabaran saya benar-benar diuji...dikuras. Mengajar anak kecil yang masih esde benar-benar butuh kesabaran yang luar biasa.

Lulu (paling tua diantara mereka bertiga) paling duluan selesai, dan langsung bisa hafal diluar kepala. Meli dan Tita belum ada yang bisa seperti Lulu. Tita (yang paling kecil) bahkan tidak tahu menulis dengan kronolologi. Saya pun mesti turun tangan membantu.

Setelah selesai, saya lalu menuliskan lirik lagu The Wonders-That Thing You Do di whiteboard dan mengajarkan mereka bertiga bernyanyi. Saya hanya berusaha menjaga agar mereka santai tapi tetap belajar. Lagu adalah media yang paling bagus untuk membantu kita belajar bahasa, terbukti dalam kasusku. Setelah lagu baru buku.

Dan berhasil. Mereka menyukai lagunya. Saya juga senang. Saya mengakhiri pertemuan pertama itu dengan memberikan pe er dan mengatakan pe er itu akan diperiksa di awal pertemuan selanjutnya. Mereka bertiga mengeluh. Saya tersenyum menang.

Butuh kesabaran dan ketekunan. Saya salut pada semua guru-guru di seluruh dunia yang berhasil memberikan pendidikan dan pemahaman kepada banyak murid-muridnya. Saya harus selalu ingat bahwa guru yang baik adalah seorang guru yang "mengeluarkan dari dalam, bukan memasukkan ke dalam"

Iya kan?

Minggu, 03 Agustus 2008

Powerful words..at least for me

Our deepest fear is not that we are inadequate.
Our deepest fear is that we are powerful beyond measure
We ask ourselves,who am I to be brilliant, gorgeous, talented, and fabulous?
Actually,who are you not to be?
Your playing small doesn't serve the world.
We were born to make manifest the glory of God that is within us.
And as we let our own lightshine, we unconsciously give other people permission to do the same.

-From Akeelah and Bee-

Keep It

Don't hesitate,you
Your life will grown
as fast as you can't imagine
Don't stuck you in here

Don't blaming your dreams
They're not wrong
You are wrong
If they don't exist,emerge in your mind

Keep dreaming,you
You're a dreamer
Keep fighting, you don't quit
You're a fighter

-sunshine on room-